Fotografi adalah seni, aplikasi, dan praktik penciptaan gambar dengan merekam cahaya, baik secara elektronik melalui sensor gambar, maupun secara kimiawi melalui material peka cahaya seperti film fotografi. Praktik ini digunakan dalam banyak bidang sains, manufaktur (misalnya, fotolitografi), dan bisnis, serta penggunaan yang lebih langsung untuk seni, film dan produksi video, tujuan rekreasi, hobi, dan komunikasi massa.[1] Seseorang yang mengoperasikan kamera untuk menangkap atau mengambil foto disebut sebagai fotografer, sementara gambar yang ditangkap, yang juga dikenal sebagai foto, adalah hasil yang diproduksi oleh kamera.
Biasanya, sebuah lensa digunakan untuk memfokuskan cahaya yang dipantulkan atau dipancarkan dari objek menjadi gambar nyata pada permukaan peka cahaya di dalam sebuah kamera selama durasi pajanan yang ditentukan. Dengan sensor gambar elektronik, hal ini menghasilkan muatan listrik pada setiap piksel, yang mana diproses secara elektronik dan disimpan dalam sebuah berkas gambar digital untuk ditampilkan atau diproses lebih lanjut. Hasil yang diperoleh dari emulsi fotografi adalah gambar laten yang tak kasatmata, yang kemudian secara kimiawi "dikembangkan" menjadi gambar yang terlihat, baik berbentuk negatif maupun positif, bergantung pada tujuan material fotografi dan metode pemrosesannya. Gambar negatif pada film secara tradisional digunakan untuk secara fotografis menciptakan gambar positif pada dasar kertas, yang dikenal sebagai cetakan, baik dengan menggunakan alat perbesar atau melalui pencetakan kontak.
Sebelum munculnya fotografi digital, foto yang menggunakan film harus dikembangkan untuk menghasilkan bentuk negatif atau salindia yang dapat diproyeksikan, dan negatif tersebut harus dicetak sebagai gambar positif, biasanya dalam bentuk yang diperbesar. Hal ini biasanya dilakukan oleh laboratorium fotografi, tetapi banyak fotografer amatir, pelajar, dan seniman fotografi melakukan pemrosesan mereka sendiri.
Sejarah Fotografi
[sunting | sunting sumber]Pada tahun 1614, Angelo Sala menggunakan perak nitrat yang dibakar oleh sinar matahari dengan kertas dibungkus. Ini dikemukakannya pada tulisannya yang berjudul Septem Planetarum terrestrium Spagirica recensio, "Jika serbuk perak nitrat terkena sinar matahari, maka akan berubah menjadi hitam seperti tinta".[2] Penemuan dengan efek sinar matahari ini dianggap kurang berguna oleh ilmuwan lain. Pada tahun 1717, Johann Heinrich Schulze, profesor Jerman yang menggunakan botol berisi perak nitrat dan kapur secara tidak sengaja ada dekat jendela. Campuran ini membuat menjadi gelap dengan sebagian berwarna putih dan membuat garis pada botol. Seorang ahli kimia, Carl Wilhelm Scheele menemukan ammonia larut dalam perak nitrat tetapi bukan partikel gelap. Penemuan ini membuat untuk menstabilkan suatu gambar perak nitrat, ini dianggap sebagai penemuan eksperimen fotografi. Tidak lama kemudian tahun 1800 Thomas Wedgwood menangkap gambar dengan kamera obskura. Sayang Wedgwood telanjur meninggal pada usia 34 pada tahun 1805. "Boulevard du Temple", daguerreotype dibuat oleh Louis Daguerre dalam tahun 1838 sebagai awal dari foto pertama dengan adanya orang di dalam foto. Pada tahun 1816 Nicéphore Niépce menggunakan kertas yang dibungkus perak nitrat berhasil membuat foto dengan kamera yang kecil.
- 1822–Joseph Nicéphore Niépce membuat foto Heliografi yang pertama dengan subjek Paus Pius VII, menggunakan proses heliografik. Salah satu foto yang bertahan hingga sekarang dibuat pada tahun 1825.[3]
- 1826–Joseph Nicéphore Niépce membuat foto pemandangan yang pertama,[3] yang dibuat dengan pajanan selama 8 jam.
- 1835–William Henry Fox Talbot menemukan proses fotografi yang baru.
- 1839–Louis Daguerre mematenkan daguerreotype.
- 1839–William Henry Fox Talbot menemukan proses positif/negatif yang disebut Tabotype.
- 1839–John Herschel menemukan film negatif dengan larutan Sodium thiosulfate/hyposulfite of soda yang disebut hypo atau fixer.
- 1851–Frederick Scott Archer memperkenalkan proses koloid.
- 1854–André Adolphe Eugène Disdéri memperkenalkan rotating camera yang dapat merekam 8 citra berbeda dalam satu film. Setelah hasilnya dicetak di atas kertas albumen, citra tersebut dipotong menjadi 8 bagian terpisah dan direkatkan pada lembaran kartu. Kartu ini menjadi inspirasi penyebutan (fr:carte de visite, bahasa Inggris:visiting card)
- 1861–Foto berwarna yang pertama diperkenalkan James Clerk Maxwell.
- 1868–Louis Ducos du Hauron mematenkan metode subtractive color photography.
- 1871–Richard Maddox menemukan film fotografis dari emulsi gelatin.
- 1876–F. Hurter & V. C. Driffield memulai evaluasi sistematis pada kepekaan emulsi fotografis yang kemudian dikenal dengan istilah sensitometri.
- 1878–Eadweard Muybridge membuat sebuah foto high-speed photographic dari seekor kuda yang berlari.
- 1887–Film Seluloid yang pertama diperkenalkan.
- 1888–Kodak memasarkan box camera n°1, kamera easy-to-use yang pertama.
- 1887–Gabriel Lippmann menemukan reproduksi warna pada foto.
- 1891–Thomas Alva Edison mematenkan kamera kinetoskopis (motion pictures).
- 1895–Auguste and Louis Lumière menemukan cinématographe.
- 1898–Kodak memperkenalkan produk kamera folding Pocket Kodak.
- 1900–Kodak memperkenalkan produk kamera Brownie.
- 1901–Kodak memperkenalkan 120 film.
- 1902–Arthur Korn membuat teknologi phototelegraphy;; yang mengubah citra menjadi sinyal yang dapat ditransmisikan melalui kabel. Wire-Photos digunakan luas di daratan Eropa pada tahun 1910 dan transmisi antarbenua dimulai sejak 1922.
- 1907–Autochrome Lumière merupakan pemasaran proses fotografi berwarna yang pertama.
- 1912–Vest Pocket Kodak menggunakan 127 film.
- 1913–Kinemacolor, sebuah sistem "natural color" untuk penayangan komersial, ditemukan.
- 1914–Kodak memperkenalkan sistem autographic film.
- 1920s–Yasujiro Niwa menemukan peralatan untuk transmisi phototelegraphic melalui gelombang radio.
- 1923–Doc Harold Edgerton menemukan xenon flash lamp dan strobe photography.
- 1925–Leica memperkenalkan format film 35mm pada still photography.
- 1932–Tayangan berwarna pertama dari Technicolor bertajuk Flowers and Trees dibuat oleh Disney.
- 1934–Kartrid film 135 diperkenalkan, membuat kamera 35mm mudah digunakan.
- 1936–IHAGEE membuat Ihagee Kine Exakta 1. Kamera SLR 35mm yang pertama.
- 1936–Kodachrome mengembangkan multi-layered reversal color film yang pertama.
- 1937–Agfacolor-Neu mengembangkan reversal color film.
- 1939–Agfacolor membuat "print" film modern yang pertama dengan materi warna positif/negatif.
- 1939–View-Master memperkenalkan kamera stereo viewer.
- 1942–Kodacolor memasarkan "print" film Kodak yang pertama.
- 1947–Dennis Gabor menemukan holografi.
- 1947–Harold Edgerton mengembangkan rapatronic camera untuk pemerintah Amerika Serikat.
- 1948–Kamera Hasselblad mulai dipasarkan.
- 1948–Edwin H. Land membuat kamera instan yang pertama dengan merk Polaroid.
- 1952–Era 3-D film dimulai.
- 1954–Leica M diperkenalkan.
- 1957–Asahi Pentax memperkenalkan kamera SLR yang pertama.
- 1957–Citra digital yang pertama dibuat dengan komputer oleh Russell Kirsch di U.S. National Bureau of Standards (sekarang bernama National Institute of Standards and Technology, NIST). Diarsipkan 2007-07-06 di Wayback Machine.
- 1959–Nikon F diperkenalkan.
- 1959–AGFA memperkenalkan kamera otomatis yang pertama, Optima.
- 1963–Kodak memperkenalkan Instamatic.
- 1964–Kamera Pentax Spotmatic SLR diperkenalkan.
- 1973–Fairchild Semiconductor memproduksi sensor CCD skala besar yang terdiri dari 100 baris dan 100 kolom.
- 1975–Bryce Bayer dari Kodak mengembangkan pola mosaic filter Bayer untuk CCD color image sensor.
- 1986–Ilmuwan Kodak menemukan sensor dengan kapasitas megapiksel yang pertama.
- 2005–AgfaPhoto menyatakan bangkrut. Produksi film konsumen bermerk Agfa terhenti.
- 2006–Dalsa membuat sensor CCD dengan kapasitas 111 megapixel, yang terbesar saat itu.
- 2008–Polaroid mengumumkan penghentian semua produksi produk film instan berkaitan dengan semakin berkembangnya teknologi citra digital.
- 2009 - Kodak mengumumkan penghentian film Kodachrome.[4]
Seni
[sunting | sunting sumber]Selama abad ke-20, baik fotografi seni rupa maupun fotografi dokumenter mulai diterima oleh dunia seni dan sistem galeri di negara-negara berbahasa Inggris. Di Amerika Serikat, segelintir fotografer, termasuk Alfred Stieglitz, Edward Steichen, John Szarkowski, F. Holland Day, dan Edward Weston, menghabiskan hidup mereka untuk mengadvokasi fotografi sebagai sebuah seni rupa. Pada awalnya, para fotografer seni rupa mencoba meniru gaya lukisan. Gerakan ini disebut Piktorialisme, yang sering kali menggunakan fokus lembut untuk mendapatkan tampilan yang seperti mimpi dan 'romantis'. Sebagai reaksi terhadap hal tersebut, Weston, Ansel Adams, dan tokoh lainnya membentuk Grup f/64 untuk mengadvokasi 'fotografi lugas' (straight photography), yaitu foto sebagai suatu hal itu sendiri (dengan fokus tajam) dan bukan merupakan tiruan dari hal lain.
Estetika fotografi adalah suatu hal yang terus didiskusikan secara rutin, terutama di kalangan artistik. Banyak seniman berpendapat bahwa fotografi hanyalah reproduksi mekanis dari sebuah gambar. Jika fotografi benar-benar merupakan sebuah seni, maka fotografi dalam konteks seni perlu didefinisikan ulang, seperti menentukan komponen apa dari sebuah foto yang membuatnya menjadi indah bagi orang yang melihatnya. Kontroversi ini dimulai sejak gambar-gambar paling awal "ditulis dengan cahaya"; Nicéphore Niépce, Louis Daguerre, dan tokoh lainnya di antara para fotografer paling awal disambut dengan pujian, tetapi beberapa orang mempertanyakan apakah karya mereka memenuhi definisi dan tujuan seni.
Clive Bell dalam esai klasiknya yang berjudul Art menyatakan bahwa hanya "bentuk yang bermakna" (significant form) yang dapat membedakan seni dari apa yang bukan seni.
Pasti ada satu kualitas yang tanpanya sebuah karya seni tidak dapat eksis; jika memilikinya, sekecil apa pun, tidak ada karya yang sepenuhnya tidak berharga. Apakah kualitas ini? Kualitas apa yang dimiliki oleh semua objek yang memancing emosi estetis kita? Kualitas apa yang umum pada Santa Sophia dan jendela-jendela di Chartres, patung Meksiko, mangkuk Persia, karpet Tiongkok, fresko Giotto di Padua, dan mahakarya-mahakarya Poussin, Piero della Francesca, serta Cezanne? Hanya ada satu jawaban yang tampaknya mungkin– bentuk yang bermakna. Pada masing-masing karya, garis dan warna yang digabungkan dengan cara tertentu, bentuk-bentuk tertentu dan hubungan antar bentuk tersebut, menggugah emosi estetis kita.[5]
Pada tanggal 7 Februari 2007, Sotheby's London menjual foto tahun 2001 yang berjudul 99 Cent II Diptychon dengan harga $3.346.456 yang belum pernah terjadi sebelumnya kepada seorang penawar anonim, menjadikannya foto termahal pada masa itu.[6]
Fotografi konseptual mengubah sebuah konsep atau ide menjadi sebuah foto. Meskipun apa yang tergambar dalam foto-foto tersebut adalah objek yang nyata, subjeknya benar-benar abstrak.
Sejalan dengan perkembangan ini, batas yang saat itu sebagian besar memisahkan antara seni lukis dan fotografi akhirnya dihilangkan pada paruh kedua abad ke-20 dengan hadirnya kemigram dari Pierre Cordier dan kemogram dari Josef H. Neumann.[7] Pada tahun 1974, kemogram karya Josef H. Neumann mengakhiri pemisahan antara latar belakang pelukisan dan lapisan fotografi dengan menampilkan elemen-elemen gambar dalam sebuah simbiosis yang belum pernah ada sebelumnya, sebagai sebuah spesimen unik yang tidak salah lagi, dalam perspektif lukisan yang simultan dan pada saat yang sama merupakan perspektif fotografi nyata, dengan menggunakan lensa, di dalam sebuah lapisan fotografi, yang disatukan dalam warna dan bentuk. Oleh karena itu, kemogram Neumann dari tahun 1970-an ini berbeda dari awal mula kemigram tanpa kamera yang diciptakan sebelumnya oleh Pierre Cordier serta fotogram karya Man Ray atau László Moholy-Nagy pada dekade-dekade sebelumnya. Karya-karya seni ini hadir hampir bersamaan dengan penemuan fotografi oleh berbagai seniman penting yang mencirikan karya-karya awal Hippolyte Bayard, Thomas Wedgwood, William Henry Fox Talbot, dan kemudian Man Ray serta László Moholy-Nagy pada era 1920-an, juga oleh para pelukis pada era 1930-an seperti Edmund Kesting dan Christian Schad dengan memosisikan objek secara langsung ke atas kertas foto yang telah dipekakan secara tepat dan menggunakan sumber cahaya tanpa memerlukan kamera. [8]
Tokoh
[sunting | sunting sumber]Alex Mendur
[sunting | sunting sumber]Alexiux Impurung Mendur adalah salah satu fotografi jurnalistik yang berhasil mengabadikan detik-detik proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Pasca proklamasi, Alex mendirikan Press Photo Service (IPPHOS) pada 2 Oktober 1946 yang bertujuan untuk menyediakan foto-foto keadaan Indonesia selama masa perjuangan kemerdekaan. Foto tersebut berguna untuk keperluan kantor berita lokal dan asing.[9]
Bedu Saini
[sunting | sunting sumber]Bedu Saini pernah menjadi fotografi jurnalistik di surat kabar harian Serambi Mekkah (surat kabar asal Aceh). Bedu Saini adalah orang pertama yang mendapatkan penghargaan dari Organisasi Pewarta Foto Indonesia (PFI). Pada ajang tersebut ia dinobatkan sebagai 'Fotografer Sepanjang Masa'.[10]
Lihat pula
[sunting | sunting sumber]Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Spencer, D.A. (1973). The Focal Dictionary of Photographic Technologies. Focal Press. hlm.454. ISBN978-0-13-322719-2.
- ↑ "An account of an experiment to grow a tree of silver". Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-04. Diakses tanggal 2015-09-17.
- 1 2 "The First Photograph - Heliography". Diarsipkan dari asli tanggal 2009-10-06. Diakses tanggal 2009-11-12.
from Helmut Gernsheim's article, "The 150th Anniversary of Photography," in History of Photography, Vol. I, No. 1, January 1977: ... In 1822, Niépce coated a glass plate ... The sunlight passing through ... This first permanent example ... was destroyed ... some years later.
- ↑ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2018-05-03. Diakses tanggal 2009-11-12.
- ↑ Clive Bell. "Art Diarsipkan 3 August 2004 di Wayback Machine.", 1914. Diakses tanggal 2 September 2006.
- ↑ Schonauer, David (7 March 2007). "The first $3M photograph". PopPhoto. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 March 2007.
- ↑ Cordier, Pierre (1982). "Chemigram: A New Approach to Lensless Photography". Leonardo. 15 (4): 262–268. doi:10.2307/1574733. ISSN0024-094X. JSTOR1574733. S2CID55177590.
- ↑ Hannes Schmidt: Comments on the chemograms by Josef H. Neumann. Exhibition in the "Fotografik Studio Galerie von Prof. Pan Walther". dalam: Photo-Presse. Heft 22, 1976, hlm. 6.
- ↑ Media, Kompas Cyber (2020-08-17). "Alex dan Frans Mendur, Fotografer yang Mengabadikan Detik-detik Proklamasi Halaman all". KOMPAS.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-06-23. Diakses tanggal 2023-06-23.
- ↑ "Profil Bedu Saini, Jurnalis Foto Abadikan Momen Luka nan Bersejarah Tsunami Aceh". Gayo Tribunnews. Diakses tanggal 27 Juli 2023.
