VOOZH about

URL: https://id.wikipedia.org/wiki/Kemukus

⇱ Kemukus - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Lompat ke isi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kemukus
👁 Image
Klasifikasi ilmiah 👁 Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Plantae
Klad: Tracheophyta
Klad: Angiospermae
Klad: Magnoliidae
Ordo: Piperales
Famili: Piperaceae
Genus: Piper
Spesies:
P.cubeba
Nama binomial
Piper cubeba

Kemukus (Piper cubeba), atau lada berekor adalah tanaman dalam genus Piper, yang dibudidayakan untuk diambil buah dan minyak atsirinya. Tanaman ini sebagian besar tumbuh di Jawa dan Sumatra, sehingga kadang-kadang disebut lada Jawa. Buahnya dipanen sebelum matang, lalu dikeringkan dengan hati-hati. Kemukus komersial terdiri dari buah beri kering, yang penampilannya mirip dengan lada hitam, namun memiliki tangkai yang menempel "ekor" pada sebutan "lada berekor". Perikarp keringnya berkerut, dan warnanya berkisar dari cokelat keabu-abuan hingga hitam. Bijinya keras, berwarna putih, dan berminyak. Aroma kemukus digambarkan menyenangkan dan aromatik, sedangkan rasanya pedas, tajam, sedikit pahit, dan tahan lama di mulut. Rasanya pernah dideskripsikan mirip seperti merica Jamaika, atau persilangan antara merica Jamaika dan lada hitam.[1]

Kemukus masuk ke Eropa melalui India lewat perdagangan dengan bangsa Arab. Nama cubeb (kemukus) berasal dari bahasa Arab kabāba (كبابةcode: tg is deprecated )[2] yang diserap melalui bahasa Prancis Kuno quibibes.[3] Kemukus disebutkan dalam tulisan-tulisan alkimia dengan nama Arabnya. Dalam karyanya Theatrum Botanicum, John Parkinson menceritakan bahwa raja Portugal (kemungkinan antara Felipe IV dari Spanyol atau João IV dari Portugal, karena tahun tersebut ditandai dengan dimulainya Perang Restorasi Portugal) melarang penjualan kemukus untuk mempromosikan lada hitam (Piper nigrum) pada sekitar tahun 1640. Rempah ini mengalami masa kebangkitan yang singkat di Eropa pada abad ke-19 untuk kegunaan pengobatan, tetapi sejak saat itu praktis menghilang dari pasar Eropa. Kemukus masih terus digunakan sebagai bahan penyedap untuk minuman gin dan rokok di negara-negara Barat, serta sebagai bumbu masakan di Indonesia.

👁 Image
Piper cubeba, dari Tanaman Obat Köhler (1887)

Pada abad keempat SM, Theophrastus menyebutkan komakon, memasukkannya bersama kayu manis dan kasia sebagai bahan pembuat permen aromatik. Guillaume Budé dan Claudius Salmasius mengidentifikasi komakon sebagai kemukus, kemungkinan karena kemiripan kata tersebut dengan nama kemukus dalam bahasa Jawa, yaitu kumukus. Hal ini dipandang sebagai bukti menarik mengenai perdagangan Yunani dengan Jawa pada masa yang lebih lampau daripada masa Theophrastus.[4] Kecil kemungkinan bangsa Yunani memperolehnya dari tempat lain, karena para petani Jawa melindungi monopoli perdagangan mereka dengan mensterilkan buah beri tersebut melalui perebusan, sehingga memastikan bahwa tanamannya tidak dapat dibudidayakan di tempat lain.[2]

Pada masa Dinasti Tang, kemukus dibawa ke Tiongkok dari Sriwijaya. Di India, rempah ini mulai disebut kabab chini, yang berarti "kemukus Tiongkok", mungkin karena orang Tiongkok turut andil dalam perdagangannya, tetapi lebih mungkin karena kemukus merupakan komoditas penting dalam perdagangan dengan Tiongkok. Di Tiongkok, lada ini disebut vilenga dan viḍaṅga विडङ्गcode: sa is deprecated (kata serumpun dalam bahasa Sanskerta), yang sebelumnya merujuk pada Embelia ribes sebelum digunakan untuk menyebut kemukus Malaya (Hanzi sederhana:荜澄茄; Hanzi tradisional:蓽澄茄; Pinyin:bì chéng qié[5]).[6][7] Li Hsun mengira kemukus tumbuh di pohon yang sama dengan lada hitam. Para tabib masa Dinasti Tang memberikannya untuk memulihkan nafsu makan, menyembuhkan "uap iblis", menghitamkan rambut, dan mengharumkan tubuh. Namun, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa kemukus digunakan sebagai bumbu masakan di Tiongkok.[6]

Dalam kamusnya yang terbit pada tahun 1827, Nhật dụng thường đàm (日用常談code: zh is deprecated ; Templat:Literal), cendekiawan-pejabat Vietnam Phạm Đình Hổ mengartikan 蓽䔲茄code: zh is deprecated "kemukus" (Sino-Vietnam: tất đăng gia) sebagai 乙 ớtcode: vi is deprecated , yang saat ini merujuk pada cabai dari Amerika.[8][9]

Kisah Seribu Satu Malam, yang disusun pada abad ke-9, menyebut kemukus sebagai obat untuk kemandulan, yang menunjukkan bahwa rempah ini telah digunakan oleh bangsa Arab untuk tujuan pengobatan. Kemukus diperkenalkan ke dalam masakan Arab sekitar abad ke-10.[10] Perjalanan Marco Polo, yang ditulis pada akhir abad ke-13, menggambarkan Jawa sebagai penghasil kemukus, bersama dengan rempah-rempah berharga lainnya.[11]

Pada abad ke-14, kemukus diimpor ke Eropa dari Grain Coast, dengan nama lada, oleh para pedagang dari Rouen dan Lippe.[1] Kemukus pada akhirnya dianggap sebagai penolak iblis oleh masyarakat Eropa. Ludovico Maria Sinistrari, seorang imam Katolik Roma yang menulis tentang metode eksorsisme pada akhir abad ke-17, memasukkan kemukus sebagai salah satu bahan dupa untuk mengusir inkubus.[12]

Setelah larangan penjualannya di Portugal pada tahun 1640, penggunaan kuliner kemukus menurun drastis di Eropa, dan hanya aplikasi medisnya yang berlanjut hingga abad ke-19. Pada awal abad ke-20, kemukus secara teratur dikirim dari Indonesia ke Eropa dan Amerika Serikat. Perdagangan ini secara bertahap berkurang hingga rata-rata 135t (133 ton panjang; 149 ton pendek) per tahun, dan praktis berhenti setelah tahun 1940.[13]

👁 Image
Struktur kimia α-kubebena

Buah beri kemukus kering mengandung minyak atsiri yang terdiri dari monoterpena (sabinena 50%, α-tujena, dan karena) serta seskuiterpena (kariofilena, kopaena, α- dan β-kubebena, δ-kadinena, germakrena), oksida 1,4- dan 1,8-sineol, serta alkohol kubebol.

Sekitar 15% minyak atsiri diperoleh dengan menyuling kemukus menggunakan air. Bagian cairnya, kubebena, memiliki rumus[1] C15H24 dan hadir dalam dua bentuk, yaitu α- dan β-. Keduanya hanya berbeda pada posisi gugus alkena, dengan ikatan rangkap yang bersifat endosiklik (bagian dari cincin beranggota lima) pada α-kubebena, seperti yang ditunjukkan, namun bersifat eksosiklik pada β-kubebena. Senyawa ini merupakan cairan kental berwarna hijau pucat dengan aroma kayu yang hangat dan sedikit berbau seperti kamper.[14] Setelah rektifikasi dengan air, atau saat disimpan, cairan ini mengendapkan kristal rombik berupa kamper kemukus.[1]

Kubebin (C20H20O6) adalah senyawa organik kristalin yang diisolasi dari bungkil kemukus, dan dapat disintesis secara kimia dari kubebena.[15] Senyawa ini ditemukan oleh Eugène Soubeiran dan Hyacinthe Capitaine pada tahun 1839, dan dapat mengiritasi selaput lendir.[1]

Sejarah dalam pengobatan tradisional

[sunting | sunting sumber]

Para tabib pada masa Zaman Kejayaan Islam menyuling "air al butm" (terpentin) dari campuran produk-produk herbal, termasuk kemukus.[16]

Pada era Victoria dan Edward di Inggris, kemukus digunakan sebagai antiseptik untuk pengobatan gonore.[1] William Wyatt Squire menulis pada tahun 1908 bahwa buah beri kemukus "bekerja secara spesifik pada selaput lendir genitourinari. (Buah ini) diberikan pada semua stadium gonore"[17] dan The National Botanic Pharmacopoeia yang dicetak pada tahun 1921 menyatakan bahwa kemukus adalah "obat yang sangat baik untuk flour albus atau keputihan".[18] Sebuah tingtur dari senyawa tersebut muncul dalam Farmakope Britania, dan getah dengan 1% kubebin, yang kira-kira setara dengan 30-60 grain buah kemukus, telah dibakukan sebagai obat, yang juga disebut cubeb (kemukus).[1]

Di Eropa, kemukus merupakan salah satu rempah-rempah berharga selama Abad Pertengahan. Rempah ini digiling sebagai bumbu untuk daging atau digunakan di dalam saus.[1] Sebuah resep abad pertengahan memasukkan kemukus dalam pembuatan sauce sarcenes (saus saracen), yang terdiri dari susu badam dan beberapa rempah-rempah.[19] Sebagai penganan aromatik, kemukus sering kali dijadikan manisan dan dimakan utuh.[20] Ocet Kubebowy, semacam cuka yang direndam dengan kemukus, jintan, dan bawang putih, digunakan untuk merendam daging di Polandia pada abad ke-14 (Dembinska 1999, hlm.199). Kemukus juga dapat digunakan untuk memperkaya rasa sup yang gurih.

Kemukus mencapai benua Afrika melalui bangsa Arab. Dalam masakan Maroko, kemukus digunakan dalam hidangan gurih dan kue kering seperti makrouts, kue kecil berbentuk belah ketupat yang terbuat dari semolina dengan madu dan kurma.[10] Rempah ini juga sesekali muncul dalam daftar bahan untuk campuran rempah-rempah yang terkenal, Ras el hanout. Dalam masakan Indonesia, khususnya pada hidangan gulai, kemukus sangat sering digunakan.

Rokok dan minuman keras

[sunting | sunting sumber]
Berkas:CubebCigarettes.jpg
Sebuah iklan era Victoria untuk Dr. Perrin's Medicated Cubeb Cigarettes

Kemukus, yang dikombinasikan dengan stramonium, eukaliptus, dan ekstrak tumbuhan lainnya, pernah sering digunakan—dimulai pada tahun 1880-an—dalam bentuk rokok untuk mengobati asma, faringitis kronis, dan rinitis alergi.[1][21][22] Edgar Rice Burroughs, yang gemar mengisap rokok kemukus, dengan nada bercanda mengatakan bahwa jika ia tidak banyak mengisapnya, mungkin tidak akan pernah ada Tarzan. Marshall's Prepared Cubeb Cigarettes merupakan merek yang populer, dengan angka penjualan yang cukup tinggi sehingga masih terus diproduksi selama Perang Dunia II.[23]

Pada tahun 2000, minyak kemukus dimasukkan ke dalam daftar bahan yang ditemukan dalam rokok, yang diterbitkan oleh Cabang Pencegahan dan Pengendalian Tembakau dari Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Carolina Utara.[24]

Minuman gin Bombay Sapphire diberi rasa dengan bahan-bahan nabati yang meliputi kemukus dan biji surga (grains of paradise). Merek ini diluncurkan pada tahun 1987, tetapi pembuatnya mengklaim bahwa pembuatannya didasarkan pada resep rahasia yang berasal dari tahun 1761. Pertsivka, minuman horilka Ukraina rasa lada berwarna cokelat tua dengan sensasi rasa terbakar, dibuat melalui proses penyeduhan dengan kemukus dan cabai.[25]

Lain-lain

[sunting | sunting sumber]
👁 Image
John Varvatos Vintage menggunakan kemukus sebagai salah satu bahan pewanginya.

Kemukus kadang-kadang digunakan untuk mengoplos minyak atsiri nilam, yang mana hal ini memerlukan kehati-hatian dari para pengguna nilam.[26] Sebaliknya, kemukus sendiri dipalsukan kemurniannya dengan Piper baccatum (yang juga dikenal sebagai "lada panjat Jawa") dan Piper caninum.[27]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Chisholm 1911, hlm.607.
  2. 1 2 (Katzer 1998)
  3. (Hess 1996, hlm.395)
  4. (Cordier & Yule 1920) Bab XXV.
  5. Wiseman, Nigel (2022) Chinese-English Dictionary of Chinese Medical Terms. tautan ke halaman tidak bernomor
  6. 1 2 (Schafer 1985, hlm.151)
  7. "विडङ्ग viḍaṅga". Dictionnaire Héritage du Sanscrit. m. bio. bot. Embelia Ribes, arbuste primulacée, aux fruits rouge-noirs ; c'est une plante médicinale importante — n. son fruit, employé comme vermifuge.
  8. Phạm Đình Hổ (penulis) (1827), 日用常談 (Nhật dụng thường đàm "Kata-Kata Umum yang Digunakan Sehari-hari"); dikaji secara tekstual dan ditransliterasikan oleh Lê Văn Cường. entri "ớt" Diarsipkan 2023-07-21 di Wayback Machine.: teks Hán-Nôm: (蓽䔲茄羅乙); Quốc Ngữ: "tất đăng gia là ớt". Penjelasan bahasa Inggris Giáp Thị Hải Chi: "chilli" (cabai); hlm. 29 dari 121, kolom ke-3 dari kanan.
  9. "ớt". Kamus bahasa Vietnam Hồ Ngọc Đức.
  10. 1 2 (Hal 2002, hlm.32)
  11. "Mongols in World History | Asia for Educators". afe.easia.columbia.edu. Diakses tanggal 2022-06-07.
  12. (Sinistrari 2003, hlm.56–57). "...Meskipun demikian, Inkubus tetap muncul di hadapannya terus-menerus, dalam wujud seorang pemuda yang sangat tampan. Pada akhirnya, di antara orang-orang terpelajar lainnya, yang nasihatnya telah diminta mengenai masalah ini, terdapat seorang Teolog yang sangat mendalam yang, mengamati bahwa sang gadis memiliki temperamen yang sangat flegmatis, menduga bahwa Inkubus tersebut adalah Iblis berwujud air (faktanya, sebagaimana disaksikan oleh Guazzo (Compendium Maleficarum, I. 19), terdapat iblis api, udara, flegmatis, bumi, dan bawah tanah yang menghindari cahaya siang), dan karenanya ia meresepkan pengasapan terus-menerus di ruangan tersebut. Sebuah bejana baru, yang terbuat dari gerabah dan kaca, kemudian dimasukkan, dan diisi dengan jeringau manis, biji kemukus, akar dari kedua aristolochia, kapulaga besar dan kecil, jahe, lada panjang, caryophylleae, kayu manis, cengkeh, fuli, pala, storaks calamite, kemenyan, kayu gaharu dan akarnya, satu ons cendana wangi, dan tiga liter campuran brendi dan air; bejana tersebut kemudian diletakkan di atas abu panas untuk memancing keluar dan ke atas uap pengasapan, dan sel tersebut tetap tertutup. Segera setelah pengasapan selesai, Inkubus itu datang, tetapi tidak pernah berani memasuki sel tersebut."
  13. (Weiss 2002, hlm.180).
  14. (Lawless 1995, hlm.201)
  15. "Cubebin Compound Summary". PubChem, US National Library of Medicine. 28 September 2024. Diakses tanggal 30 September 2024.
  16. Patai 1995, hlm.315.
  17. Squire 1908, hlm.462.
  18. Scurrah 1921, hlm.34.
  19. (Hieatt 1988) "Make a thykke mylke of almondys, do hit in a pot with floure of rys, safron, gynger, macys, quibibis, canel, sygure: and rynse the bottom of the disch with fat broth. Boyle the sewe byfore, and messe hit forth."
  20. Manisan kemukus disebutkan dalam novel karya Thomas Pynchon, Gravity's Rainbow, yang berlatar pada tahun 1940-an: "Under its tamarind glaze, the Mills bomb turns out to be luscious pepsin-flavored nougat, chock-full of tangy candied cubeb berries, and a chewy camphor-gum center. It is unspeakably awful. Slothrop's head begins to reel with camphor fumes, his eyes are running, his tongue's a hopeless holocaust. Cubeb? He used to smoke that stuff." (Pynchon 1973, hlm.118)
  21. Jackson, Mark (7 December 2011). ""Divine Stramonium": The Rise and Fall of Smoking for Asthma". Medical History. 54 (2): 171–194. doi:10.1017/S0025727300000235. PMC2844275. PMID20357985.
  22. Hand, Greg (19 October 2021). "Remember When Cincinnati's Best Cure for Colds Was Smoking?". Cincinnati Magazine. Diakses tanggal 14 December 2024.
  23. (Shaw 1998).
  24. "Cigarette Ingredients". Tobacco Prevention and Control Branch, North Carolina Department of Health and Human Services. 2000. Diakses tanggal 2006-02-11.
  25. (Grossman 1983, hlm.348)
  26. (Long 2002, hlm.78)
  27. (Seidemann 2005, hlm.290)

Daftar pustaka

[sunting | sunting sumber]

Attribution