Lahpet, yang juga dieja laphet, laphat, lephet, leppet, atau letpet (bahasa Burma:လက်ဖက်; MLCTS: lak hpak, pelafalan[ləpʰɛʔ]), adalah istilah dalam bahasa Burma untuk teh yang difermentasi atau diasamkan. Myanmar merupakan salah satu dari sedikit negara di mana teh dikonsumsi baik sebagai minuman maupun sebagai makanan, dalam bentuk teh yang diasamkan, yang merupakan keunikan khas wilayah ini. Lahpet dianggap sebagai makanan khas nasional yang memiliki peran penting dalam masyarakat Myanmar, dan tetap menjadi bentuk tradisional keramahan Myanmar yang disajikan kepada tamu yang berkunjung ke rumah.[1][2]
Kedudukan lahpet dalam kuliner Myanmar tercermin dalam ungkapan populer "Dari semua buah, mangga yang terbaik; dari semua daging, daging babi yang terbaik; dan dari semua daun, lahpet yang terbaik". Di wilayah berbahasa Inggris, laphet paling sering ditemui dalam hidangan "salad daun teh" (လက်ဖက်သုပ်).[3][4]
Teh yang difermentasi atau diasamkan juga terdapat dalam kuliner berbagai kelompok etnis yang tinggal di dekat daerah asal tanaman teh, seperti dalam kuliner suku Bulang[5] dan dalam kuliner Tai (di mana dikenal sebagai miang, seperti dalam hidangan miang kham).
Sejarah
[sunting | sunting sumber]Kebiasaan mengonsumsi teh dalam bentuk makanan di Myanmar modern memiliki akar yang sangat tua, berasal dari masa prasejarah. Tradisi ini mencerminkan warisan suku-suku asli yang mempraktikkan pengawetan dan fermentasi daun teh di dalam tabung bambu, keranjang bambu, daun pisang, atau periuk tanah liat. Sejarah panjang tersebut tercermin dalam bahasa Burma, yang merupakan salah satu dari sedikit bahasa di dunia yang kata untuk “teh”-nya tidak berasal dari kata dalam bahasa Tionghoa. Pengamat Eropa pada masa kolonial mencatat keunikan kegemaran masyarakat Myanmar terhadap daun teh yang diasamkan serta kebiasaan mengubur daun teh yang telah direbus di lubang-lubang yang dilapisi daun pisang untuk proses fermentasi.[6]
Menurut legenda Myanmar, tanaman teh diperkenalkan ke wilayah tersebut oleh Raja Alaungsithu pada abad ke-12, pada masa Dinasti Pagan.[6][7][8] Catatan mengenai konsumsi teh telah ditemukan sejak masa pemerintahannya, termasuk bukti keberadaan cangkir dan tempat penyaji teh di lingkungan istana kerajaan.[9] Seiring berkembangnya kerajaan-kerajaan Myanmar yang menganut bentuk Buddhisme Theravada yang lebih ketat, teh yang diasamkan mulai menggantikan alkohol dalam berbagai upacara keagamaan. Untuk memenuhi meningkatnya permintaan, budidaya teh menyebar ke seluruh Negara Bagian Shan bagian utara setelah tahun 1500.[10]
Pada akhir abad ke-16 hingga awal abad ke-17, gerakan reformasi Buddhis yang dipimpin oleh para biksu dan umat awam berhasil menekan konsumsi alkohol dalam upacara-upacara publik dan menggantinya dengan kebiasaan memakan teh yang diasamkan. Menjelang akhir abad ke-18, teh menjadi salah satu komoditas ekspor penting Myanmar selain kapas, dengan pusat produksi utama di kerajaan kecil Palaung, Tawngpeng.[11] Di Istana Mandalay yang dibangun pada masa akhir Dinasti Konbaung, terdapat sebuah Paviliun Teh (လက်ဖက်ရည်ဆောင်) tempat para pelayan muda membawa pesan dan menyiapkan teh.[12]
Penyair Myanmar U Ponnya menulis karya sastra berjudul Laphet Myittaza (လက်ဖက်မေတ္တာစာ) serta sejumlah puisi yang menyebut daun teh shwephi (ရွှေဖီ, secara harfiah berarti “tusukan emas”) sebagai jenis teh favorit kalangan istana. Dalam karya tersebut, laphet digambarkan sebagai bagian penting dari hidangan kerajaan, baik sebagai minuman maupun sebagai makanan khas.[9] Daun shwephi dianggap sebagai kualitas terbaik karena berasal dari panen pertama setiap tahun.[13]
Sepanjang masa pra-kolonial, lahpet memiliki makna simbolis sebagai persembahan perdamaian antara kerajaan-kerajaan yang berperang di wilayah Myanmar kuno. Secara tradisional, lahpet dipertukarkan dan dikonsumsi setelah tercapainya kesepakatan damai.[14] Pada masa pra-kolonial maupun kolonial, lahpet juga disajikan setelah hakim pengadilan sipil menjatuhkan keputusan; memakan lahpet dianggap sebagai simbol penerimaan resmi terhadap putusan tersebut.[15][16]
Selama masa kolonial, kedai teh menjadi bagian penting dari kehidupan perkotaan di pusat-pusat seperti Rangoon (kini Yangon).[17] Kedai-kedai ini biasanya buka sejak pagi hari dan menyediakan sarapan, makanan ringan, serta teh. Pada tahun 1970-an, kedai teh mulai tersebar ke berbagai daerah lain di Myanmar dan berfungsi sebagai tempat berkumpul sosial serta ruang pertemuan informal bagi masyarakat. Hingga beberapa dekade terakhir, kedai teh umumnya dikunjungi oleh kaum pria.[17]
Sejak akhir 2010-an, konflik bersenjata di daerah penghasil teh antara kelompok bersenjata etnis, termasuk Tentara Pembebasan Nasional Ta'ang dan Dewan Pemulihan Negara Bagian Shan, telah mengganggu rantai pasok teh dalam negeri. Gangguan ini diperburuk oleh pandemi COVID-19 yang menyebabkan kekurangan tenaga kerja serta penurunan drastis harga jual rata-rata daun teh Myanmar. Para pekerja musiman dari wilayah Anyar, yang biasanya memperkuat tenaga kerja selama musim panen teh, banyak beralih ke pekerjaan dengan bayaran lebih tinggi di Thailand atau kota-kota perbatasan Myanmar–Tiongkok seperti Laukkai dan Panghsang.[13]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Haber, Daniel (March 31, 2002). "Lephet - Green Tea Salad". Swe Sone magazine. Diarsipkan dari asli tanggal July 8, 2007. Diakses tanggal 2007-04-10.
- ↑ Han, Thazin; Aye, Kyaw Nyein (2015-12-01). "The legend of laphet: A Myanmar fermented tea leaf". Journal of Ethnic Foods (dalam bahasa Inggris). 2 (4): 173–178. doi:10.1016/j.jef.2015.11.003. ISSN2352-6181.
- ↑ Foodspotting (18 March 2014), The Foodspotting Field Guide, Chronicle Books LLC, hlm.71, ISBN978-1-4521-3008-8
- ↑ "Burmese Tea Leaves That Feel Like Family", The New York Times, July 26, 2012
- ↑ Eating tea with the Bulang people
- 1 2 Driem, George L. van (2019-01-14). The Tale of Tea: A Comprehensive History of Tea from Prehistoric Times to the Present Day (dalam bahasa Inggris). BRILL. ISBN978-90-04-39360-8.
- ↑ Marks, Copeland; Thein, Aung (1994-09-08). The Burmese Kitchen: Recipes from the Golden Land (dalam bahasa Inggris). Rowman & Littlefield. ISBN978-1-59077-260-7.
- ↑ Abbott, Gerry (2000). The Folk-Tales of Burma: An Introduction (dalam bahasa Inggris). BRILL. ISBN978-90-04-11812-6.
- 1 2 Lei Shwe Sin Myint (2020). "Analysis of Tea Culture in Myanmar Society: Practices of Tea Consumption in Upper Myanmar" (PDF). University of Mandalay Research Journal. 11.
- ↑ Lieberman, Victor (2003-05-26). Strange Parallels: Volume 1, Integration on the Mainland: Southeast Asia in Global Context, c.800–1830 (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN978-1-139-43762-2.
- ↑ Myint-U, Thant (2001-03-26). The Making of Modern Burma (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. ISBN978-0-521-79914-0.
- ↑ Myo Aung; Kraft, H. Upper Myanmar (dalam bahasa Inggris). Books on Asia. ISBN9799749290858.
- 1 2 "Bitter harvest: Shan State tea growers grapple with labour shortage". Frontier Myanmar (dalam bahasa American English). 2023-06-13. Diakses tanggal 2023-07-03.
- ↑ Watkins, Justin (2006). Proceedings of the SOAS/TUFS Postgraduate Symposium, London 20-21 February 2006 (dalam bahasa Inggris). Tokyo University of Foreign Studies. ISBN978-4-925243-25-4.
- ↑ Nisbet, John; A. Constable. Burma under British rule and before. Vol.1. hlm.1901.
- ↑ Judson, Adinoram (1893). Robert Charles Stevenson (ed.). Judson's Burmese-English dictionary. Government of Burma. hlm.285–286.
- 1 2 Win, Nyunt Nyunt; Naing, Aung (2023). "Tolerant Tea Shops: The Social Construction of Forbearance in Child Labor". Journal of Burma Studies (dalam bahasa Inggris). 27 (2): 261–289. doi:10.1353/jbs.2023.a902622. ISSN2010-314X.
