Pendidikan seni rupa adalah bidang pembelajaran yang didasarkan pada jenis seni yang dapat dilihat, yaitu seni visual — seperti menggambar, melukis, membuat patung, mencetak, serta mendesain perhiasan, tembikar, anyaman, kain, dan sebagainya. Seni rupa juga mencakup desain yang diterapkan pada bidang yang lebih praktis, seperti grafis komersial dan perabotan rumah tangga. Topik kontemporer dalam pendidikan seni meliputi fotografi, video, film, desain, dan seni komputer. Pendidikan seni dapat berfokus pada penciptaan karya seni oleh siswa, pembelajaran dalam mengkritik atau mengapresiasi seni, atau gabungan dari keduanya.
Pendekatan
[sunting | sunting sumber]Seni sering diajarkan melalui kegiatan menggambar, melukis, membuat patung, instalasi, dan membuat jejak (mark making). Menggambar dipandang sebagai kegiatan empiris yang melibatkan kemampuan untuk melihat, menafsirkan, dan menemukan goresan yang tepat guna mereproduksi fenomena yang diamati. Pengajaran menggambar telah menjadi bagian dari pendidikan formal di dunia Barat sejak periode Helenistik.[1]
Di Asia Timur, pendidikan seni bagi seniman nonprofesional umumnya berfokus pada teknik kuas, di mana kaligrafi termasuk dalam Enam Seni para bangsawan pada masa dinasti Zhou di Tiongkok, dan kaligrafi serta lukisan Tionghoa termasuk dalam Empat Seni kaum cendekiawan pada masa kekaisaran Tiongkok.[2]
Pendekatan alternatif dalam pendidikan seni menekankan imajinasi, baik dalam menafsirkan maupun menciptakan karya seni. Banyak pendidik mengajukan pertanyaan kepada siswanya, seperti: “Mengapa menurutmu seniman membuat pilihan ini?” Setelah siswa menjawab, guru memberikan konteks karya tersebut, lalu menanyakan pertanyaan yang sama lagi. Tujuannya adalah untuk mendorong siswa memikirkan makna yang lebih dalam di balik karya seni, bukan sekadar mengagumi keindahannya.[3]
Pendidikan seni juga berfokus pada eksperimen, permainan yang bertujuan, serta mengaitkan karya seni dengan pesan konseptual dan pengalaman pribadi. Dengan menghubungkan karya dengan emosi, siswa dapat lebih memahami hubungan antara karya seni, seniman, dan subjeknya, sehingga mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Pendekatan alternatif lainnya mencakup pendekatan budaya visual dan pendekatan berbasis isu, di mana siswa mengeksplorasi isu sosial dan pribadi melalui seni, yang juga berpengaruh dalam pendidikan seni masa kini.[4]
Model kurikulum pendidikan seni yang menonjol meliputi
[sunting | sunting sumber]- Model enam bagian yang dibagi menjadi komponen “Kreatif-Produktif, Kultural-Historis, dan Kritis-Responsif” di beberapa provinsi di Kanada.
- Discipline-Based Art Education (DBAE) yang populer di Amerika Serikat pada 1980–1990-an, berfokus pada keterampilan khusus seperti teknik, kritik seni, dan sejarah seni. Program ini sangat didukung oleh Getty Education Institute for the Arts, tetapi menurun setelah lembaga tersebut berhenti mendanainya pada tahun 1998.
- Teaching for Artistic Behavior (TAB), model berbasis pilihan yang dimulai pada 1970-an di Massachusetts, AS. TAB menekankan bahwa siswa adalah senimannya sendiri, dan pendidik berperan sebagai pembimbing minat artistik individual. Model kurikulum berbasis TAB semakin populer seiring pergeseran budaya kelas dari pengajaran langsung ke pembelajaran berpusat pada siswa dan berbasis inkuiri.
- Dalam pendidikan tinggi, terutama dalam tradisi liberal arts, seni sering diajarkan sebagai “apresiasi seni”, yaitu subjek yang berfokus pada kritik estetika, bukan keterlibatan langsung dalam penciptaan seni.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa program pendidikan seni yang kuat dapat meningkatkan prestasi siswa di bidang akademik lain, karena aktivitas seni melatih belahan kanan otak dan membantu menyeimbangkan cara berpikir. Pendidikan seni tidak terbatas pada lembaga formal. Beberapa seniman profesional juga memberikan pengajaran privat atau semi-privat di studio mereka sendiri. Bentuk pengajaran ini bisa berupa magang, di mana siswa belajar langsung dari seniman sambil membantu dalam proses berkarya. Salah satu contoh metode ini adalah Metode Atelier, yang dipraktikkan oleh Gustave Moreau, guru bagi seniman terkenal seperti Picasso, Braque, dan banyak lainnya.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Efland, Arthur. A History of Art Education: Intellectual and Social Currents in Teaching the Visual Arts (dalam bahasa Inggris). Teachers College Press. ISBN978-0-8077-7003-0.
- ↑ Welch, Patricia Bjaaland (2008). Chinese art: a guide to motifs and visual imagery (Edisi 1st ed). North Clarendon, VT: Tuttle Pub. ISBN978-0-8048-3864-1.
- ↑ Eisner, Elliot W.; Day, Michael D. (2004). Handbook of Research and Policy in Art Education. Routledge. hlm. 769. ISBN 1135612315.
- ↑ Addison, Nicholas; Burgess, Lesley, ed. (2003). Issues in art and design teaching. Issues in subject teaching series. London New York: RoutledgeFalmer. ISBN978-0-415-26669-7.
