VOOZH about

URL: https://id.wikipedia.org/wiki/Selametan

⇱ Selametan - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Lompat ke isi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Acara Selamatan di sebuah masjid di Cibodas pada tahun 1907, dengan tumpeng sebagai menu utamanya (atas). Makan-makan bersama dalam acara selametan (bawah).

Selamatan (bahasa Jawa: slametan) merupakan tradisi ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa, serta juga dijumpai di kalangan masyarakat Sunda dan Madura. Tradisi ini berupa upacara syukuran yang biasanya melibatkan keluarga, tetangga, atau kerabat, dan secara tradisional dimulai dengan doa bersama. Para peserta duduk bersila mengelilingi hidangan nasi tumpeng beserta lauk-pauk sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.[1]

Praktik selamatan umumnya dianut oleh kaum Islam Abangan. Sementara itu, kaum Islam Putihan atau santri menerima praktik selamatan dengan penyesuaian tertentu, yaitu dengan menyingkirkan unsur-unsur yang dianggap syirik, seperti penyebutan dewa-dewa atau roh-roh. Bagi kaum santri, selamatan lebih difokuskan sebagai doa bersama yang dipimpin oleh seorang modin, kemudian diakhiri dengan makan bersama secara sederhana. Tujuan dari upacara ini adalah untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa.[2]

Selamatan dapat dilaksanakan untuk merayakan berbagai peristiwa penting dalam kehidupan. Geertz membagi praktik ini ke dalam empat kategori utama. Pertama, perayaan yang berkaitan dengan tahapan kehidupan, seperti kelahiran, khitanan, pernikahan, dan kematian. Kedua, peristiwa yang terkait dengan perayaan Islam. Ketiga, upacara bersih desa yang berfungsi untuk menjaga integrasi sosial dalam komunitas. Keempat, peristiwa luar biasa, misalnya perjalanan jauh, pindah rumah, penggantian nama, kesembuhan dari penyakit, atau perlindungan dari pengaruh sihir.[3]

Asal kata

[sunting | sunting sumber]

Slametan berasal dari kata slamet, yang dalam bahasa Arab (salamah) berarti "selamat, bahagia, atau sentausa". Istilah "selamat" sendiri dapat diartikan sebagai kondisi terlepas dari insiden atau bahaya yang tidak diinginkan.[4] Makna slamet juga mencakup konsep ora ana apa-apa, yang berarti "tidak ada apa-apa" atau keadaan yang aman dan stabil. Upacara slametan dianggap sebagai salah satu tradisi yang berfungsi untuk menjauhkan diri dari marabahaya atau malapetaka. Secara lebih luas, slametan merepresentasikan konsep universal yang dapat dijumpai di berbagai budaya dengan nama dan bentuk yang berbeda-beda, karena mencerminkan kesadaran manusia akan kelemahan dirinya di hadapan kekuatan-kekuatan yang berada di luar kendali manusia.[5][6]

Slametan di Jawa merupakan wujud bakti masyarakat yang dikenal sebagai pangastuti atau abon-aboning panembah. Pangastuti mencerminkan ketaatan dan pengabdian kepada Tuhan, sedangkan abon-aboning panembah berkaitan dengan tradisi yang mengiringi kelahiran, kehidupan, dan kematian masyarakat. Kelahiran, pernikahan, dan kematian dianggap sebagai masa transisi penting dalam siklus hidup masyarakat Jawa. Dalam konteks ini, slametan berfungsi untuk menciptakan keharmonisan dan ketenteraman dunia, yang dalam keyakinan masyarakat Jawa dianggap sebagai cerminan realitas supranatural.[7]

Pelaksanaan

[sunting | sunting sumber]

Slametan umumnya diselenggarakan pada malam hari, segera setelah matahari terbenam dan salat magrib bagi mereka yang menjalankannya. Untuk peristiwa tertentu seperti perubahan nama, panen, atau khitanan, tuan rumah dapat meminta ahli agama atau orang yang memahami sistem kalender Jawa untuk menentukan hari yang dianggap baik. Sementara itu, untuk peristiwa kelahiran atau kematian, waktu pelaksanaan ditentukan oleh peristiwa itu sendiri. Siang hari digunakan sepenuhnya untuk menyiapkan hidangan, yang umumnya dilakukan oleh perempuan dimana pada acara kecil dilakukan oleh keluarga inti, sedangkan pada acara yang lebih besar melibatkan kerabat. Upacara itu sendiri dilaksanakan oleh kaum laki-laki, sementara perempuan berada di dapur tetapi dapat melihat ke ruang utama.[3]

Para tamu yang diundang umumnya adalah tetangga yang tinggal di sekitar rumah tanpa membedakan hubungan keluarga atau pertemanan. Mereka diundang secara singkat oleh utusan tuan rumah, sering kali anaknya sendiri, beberapa menit sebelum acara dimulai dan diharapkan segera datang serta menghentikan aktivitas yang sedang dilakukan. Setelah tiba, para tamu duduk di atas tikar dalam posisi sila, membentuk lingkaran mengelilingi hidangan yang diletakkan di tengah ruangan, yang mulai dipenuhi aroma kemenyan. Acara dibuka oleh tuan rumah dengan sambutan resmi dalam bahasa Jawa halus (ujub), berisi ucapan terima kasih atas kehadiran tamu, pernyataan bahwa mereka menjadi saksi ketulusan niat, penjelasan maksud khusus slametan (misalnya kehamilan tujuh bulan atau hari tertentu), serta maksud umum untuk mencapai keadaan slamet atau ketenangan hidup. Tuan rumah juga memohon kepada arwah-arwah di desa serta meminta maaf atas kemungkinan kesalahan atau kekurangan dalam penyambutan.Setelah sambutan, seorang yang mampu membaca doa membacakan doa dalam bahasa Arab, biasanya kutipan dari Al-Qur’an seperti Al-Fatihah. Para tamu menanggapi dengan sikap berdoa, tangan menengadah atau tertangkup, dan mengucapkan β€œamin” pada jeda-jeda doa.[3]

Setelah doa selesai, hidangan yang terdiri dari nasi, daging, ayam atau ikan, serta hidangan lain disajikan di atas daun pisang. Hidangan tersebut kemudian dibagikan oleh beberapa tamu yang maju ke tengah untuk mengisi piring masing-masing undangan. Dalam praktik yang umum pada masa lalu, tuan rumah tidak ikut makan. Para tamu makan dengan cepat dan tanpa berbicara, karena berbicara saat makan dianggap tidak sesuai dengan kebiasaan setempat. Setelah sekitar 10–15 menit, para tamu biasanya berhenti makan, kemudian meminta izin untuk pulang, dan membawa sebagian makanan untuk dikonsumsi di rumah bersama keluarga.[3] Dalam perkembangannya, praktik slametan mengalami perubahan dan penyesuaian di berbagai daerah. Penyajian makanan tidak lagi selalu menggunakan daun pisang, tetapi dapat diganti dengan piring atau bentuk penyajian modern lainnya sesuai kebiasaan setempat dan ketersediaan perlengkapan. Selain itu, tata cara makan, durasi acara, serta keterlibatan tuan rumah dan tamu juga dapat bervariasi mengikuti kondisi sosial dan perkembangan budaya masyarakat, meskipun unsur inti berupa doa bersama dan kebersamaan masih tetap dipertahankan.[8][9]

  1. ↑ "Upacara selamatan". 8 August 2012.
  2. ↑ "Unsur dalam Upacara selamatan". 8 August 2012.
  3. 1 2 3 4 Geertz, Clifford (2014). Agama Jawa. Komunitas Bambu. hlm.4–7. ISBN9786029402124. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Ariyadi, Samsul (2021-01-29). Resepsi Al-Qur’an dan Bentuk Spiritualitas Jawa Modern: Kajian Praktik Mujahadah dan Semaan al-Qur’an Mantab Purbojati Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Penerbit A-Empat. ISBN978-602-0846-77-4.
  5. ↑ Nur Hanifah & Ahmad Sauqi Ahya, Tinjauan Antropolinguistik Tradisi Selamatan Sedekah Desa di Belumbang (Petilasan Dhamarwulan) Desa Sudimoro, Sastranesia: Jurnal Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, vol. 8 no. 3 (2020).
  6. ↑ Suwardi, Sinkretisme dan Simbolisme Tradisi Selamatan Kematian di Desa Purwosari, Kulon Progo.Universitas Negeri Yogyakarta).
  7. ↑ Hum, Prof Dr Suwardi Endraswara, M. (2017-01-01). Agama Jawa: Ajaran, Amalan, dan Asal-Usul Kejawen. Media Pressindo. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  8. ↑ D, Jagad Putra (2017). "Praktik Tradisi "Slametan" dalam Masyarakat Pogung Lor". Universitas Gadjah Mada.
  9. ↑ Iqbar, Muhammad Dzaki (2024), Tradisi Slamatan Masyarakat Jawa di Era Milenial (dalam bahasa Inggris), doi:10.13140/RG.2.2.32153.02406, diakses tanggal 2026-03-25

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  • H.Th. Fischer, Pengantar Anthropologi Kebudayaan Indonesia, terj. Anas Makruf (Jakarta: Pustaka Sardjana, 1953)
  • Koentjaraningrat, Kebudayaan Jawa (Jakarta: Balai Pustaka, 1984)
  • Geertz, Clifford. The Religion of Java . Glencoe, IL: The Free Press, 1960.