VOOZH about

URL: https://id.wikipedia.org/wiki/Beha

⇱ Bra - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Lompat ke isi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Beha)
Gaya
Bra mangkuk penuh
Bra belahan rendah
Bra balkonet

Beha, kutang, atau bra, yang merupakan kependekan dari brassiere atau brassière (braseri) (US /brəˈzɪər/, UK /ˈbræsɪər,ˈbræz-/), adalah jenis pakaian dalam pas badan yang utamanya digunakan untuk menopang dan menutupi payudara wanita. Bra pada umumnya terdiri dari pita lingkar dada yang membalut batang tubuh, menopang dua mangkuk payudara yang ditahan oleh tali bahu. Bra biasanya dikaitkan di bagian punggung menggunakan pengait dan mata kancing, meskipun bra tersedia dalam berbagai macam gaya dan ukuran, termasuk desain bukaan depan dan tanpa punggung (backless). Beberapa bra dirancang untuk fungsi tertentu, seperti bra menyusui untuk memudahkan proses menyusui atau bra olahraga untuk meminimalkan rasa tidak nyaman saat berolahraga.

Meskipun wanita di Yunani dan Romawi kuno telah mengenakan pakaian untuk menopang payudara mereka, bra modern pertama dikaitkan dengan Mary Phelps Jacob yang berusia 19 tahun, yang menciptakan pakaian tersebut pada tahun 1913 dengan menggunakan dua helai sapu tangan dan beberapa potong pita. Setelah mematenkan desainnya pada tahun 1914, ia sempat memproduksi bra di sebuah pabrik yang hanya mempekerjakan dua wanita di Boston, sebelum menjual patennya ke Warner Brothers Corset Company, yang kemudian mulai memproduksi pakaian tersebut secara massal. Penggunaan bra kian meluas pada paruh pertama abad ke-20, ketika pakaian ini sebagian besar berhasil menggantikan fungsi korset. Mayoritas wanita Barat saat ini memakai bra, sementara sebagian kecil lainnya memilih untuk tidak memakainya. Pembuatan dan penjualan eceran bra merupakan komponen utama dari industri lingerie global yang bernilai miliaran dolar.

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Istilah brassiere, yang berasal dari bahasa Prancis brassière dari abad ke-17, yang berarti pakaian pendek wanita atau anak-anak yang menutupi lengan (Prancis: bras) dan tubuh bagian atas, digunakan oleh surat kabar Evening Herald di Syracuse, New York, pada tahun 1893.[1] Istilah ini semakin diterima secara luas pada tahun 1904 ketika DeBevoise Company menggunakannya dalam naskah iklan mereka. Orang Prancis sendiri menggunakan istilah soutien-gorgecode: fr is deprecated (secara harfiah berarti "penopang tenggorokan") untuk benda ini.[2] Benda ini beserta versi-versi awal lainnya menyerupai kamisol yang diperkaku dengan tulangan.[3]

Majalah Vogue pertama kali menggunakan istilah brassiere pada tahun 1907,[4][5] dan pada tahun 1911 kata tersebut telah dimasukkan ke dalam Oxford English Dictionary.[6] Pada tanggal 3 November 1914, kategori paten Amerika Serikat yang baru dibentuk untuk "brassiere" diresmikan dengan paten pertama yang diberikan kepada Mary Phelps Jacob, yang di kemudian hari lebih dikenal sebagai Caresse Crosby.[7][8] Pada dekade 1930-an, kata brassiere/brassière secara bertahap disingkat menjadi bra.[2]

Korset, 2010

Sejarah brassière penuh dengan mitos di mana tokoh-tokoh seperti Caresse Crosby, Howard Hughes, Herminie Cadolle, dan Otto Titzling menjadi pusat perhatian.[9]

Sebelum penyebaran brassière, payudara wanita dibalut dengan korset dan pakaian terstruktur yang disebut "penyempurna payudara", yang terbuat dari tulangan dan renda.[10] Sejarah korset menunjukkan bahwa pakaian ini mulai ketinggalan zaman pada tahun 1917, ketika logam sangat dibutuhkan untuk membuat tank dan amunisi pada Perang Dunia I,[11] serta ketika mode tahun 1920-an lebih menekankan pada bentuk tubuh yang menyerupai laki-laki.[12]

Ketika korset mulai ditinggalkan, brassière dan bantalan membantu menonjolkan, menampilkan, dan mempertegas payudara. Pada tahun 1893, Marie Tucek dari New York memperoleh paten untuk sebuah "penopang payudara", yang dideskripsikan sebagai modifikasi dari korset, dan sangat mirip dengan bra push-up modern yang dirancang untuk menopang payudara. Pakaian ini terdiri dari pelat yang terbuat dari logam, kardus, atau bahan kaku lainnya yang dibentuk agar pas menempel pada batang tubuh di bawah payudara, mengikuti kontur payudara. Pelat tersebut dilapisi dengan sutra, kanvas, atau kain lainnya, yang membentang di atas pelat untuk membentuk kantong bagi setiap payudara. Pelat itu melengkung mengelilingi batang tubuh dan berakhir di dekat ketiak.[13][14]

Brassière awal

[sunting | sunting sumber]
👁 Image
Venus atau Afrodit bersiap mengenakan sebuah apodesmos, patung perunggu, 0-400 M
👁 Image
Wanita Romawi mengenakan pita payudara saat berolahraga, Villa Romana del Casale, Sisilia, abad ke-4 M

Penggunaan pakaian untuk menopang payudara mungkin telah ada sejak zaman Yunani kuno.[15] Wanita mengenakan apodesmos,[16] yang kemudian disebut stēthodesmē,[17] mastodesmos[18] dan mastodeton,[19] yang semuanya berarti "pita payudara", yakni secarik kain dari wol atau linen yang dibalutkan melintasi payudara dan diikat atau disematkan di bagian punggung.[20][21] Wanita Romawi mengenakan pita payudara selama berolahraga, seperti yang terlihat pada mosaik Pemahkotaan Pemenang (juga dikenal sebagai "Mosaik Bikini").

Potongan-potongan kain linen yang ditemukan di Kastil Lengberg di Tirol Timur, Austria, yang berasal dari antara tahun 1440 hingga 1485, diyakini sebagai bra. Dua di antaranya memiliki mangkuk yang terbuat dari dua potong linen yang dijahit dengan kain yang memanjang hingga ke bagian bawah batang tubuh, dilengkapi deretan enam lubang untuk mengencangkannya menggunakan tali atau pita. Salah satunya memiliki dua tali bahu dan dihiasi dengan renda pada bagian belahan dada.[22][23] Namun, Rachel Case, Beatrix Nutz, dan Carol James mengemukakan bahwa potongan-potongan ini tidak memiliki dimensi dan struktur yang tepat untuk disebut sebagai bra, melainkan sejenis penutup kepala.[24]

Sejak abad ke-16, pakaian dalam wanita dari kalangan kaya di dunia Barat didominasi oleh korset, yang mendorong payudara ke atas. Pada akhir abad ke-19, perancang busana mulai bereksperimen dengan berbagai alternatif, membagi korset menjadi beberapa bagian: perangkat penahan menyerupai korset pelangsing untuk bagian bawah batang tubuh, dan perangkat yang menopang payudara dari bahu hingga bagian atas batang tubuh.[15]

Bra modern

[sunting | sunting sumber]
👁 Image
"Penopang Payudara" ca1893

Meskipun bra pertama, sebuah pakaian dari linen dan renda yang terlihat hampir persis seperti bra modern, ditemukan dalam koleksi awal abad ke-15 dari Kastil Lengberg di Tirol, Austria, tidak ada bukti lain mengenai penggunaan bra pada tahun 1400-an.

Pada tahun 1914, bra modern pertama dipatenkan oleh penerbit, aktivis, dan sosialita asal New York, Caresse Crosby (lahir Mary Phelps Jacob).[25][11] Merasa frustrasi dengan korset tulang paus yang terus menyembul dari gaun pesta barunya,[26] ia menciptakan bra dari dua helai sapu tangan dan beberapa pita untuk membentuk belahan dada.[27]

Crosby menjual bra tersebut kepada teman-temannya seharga satu dolar. Tak lama kemudian ia mendirikan Fashion Form Brassière Company, dengan sebuah pabrik di Boston yang mempekerjakan dua wanita. Crosby mematenkan bra pertama sebagai "brassière tanpa punggung" pada tahun 1914. Setelah memproduksi beberapa ratus bra dan menerima sejumlah pesanan dari toko serba ada, ia dibujuk oleh suaminya untuk menutup perusahaannya.Wahyu{{{1}}}:{{{2}}} Ia lalu menjual paten tersebut kepada Warner Brothers Corset Company seharga US$1.500. Dalam 30 tahun berikutnya, Warner Brothers menghasilkan lebih dari US$15juta dari desain tersebut.[27]

Korset dari tahun 1898
Korset badan dari tahun 1900

Menurut Rumah Lingerie Cadolle, Herminie Cadolle, seorang penemu asal Prancis, adalah orang pertama yang mematenkan 'brassiere' modern, yang disebut "corselet-gorge", sebuah lingerie yang memisahkan bagian bra atas dari bagian korset bawah, yang menjadi langkah pertama menuju terciptanya bra modern.[28] Sebuah legenda urban yang menyebutkan bahwa brassière ditemukan oleh seorang pria bernama Otto Titzling ("tit sling" atau "gendongan payudara") yang kalah dalam gugatan hukum melawan Phillip de Brassière ("fill up the brassière" atau "mengisi brassière") berasal dari buku tahun 1971 yang berjudul Bust-Up: The Uplifting Tale of Otto Titzling and the Development of the Bra dan turut disebarluaskan dalam sebuah lagu komedi dari film Beaches.[29]

Separuh dari paten yang diajukan untuk desain dan pembuatan bra diciptakan oleh kaum wanita.[30] Orang Jerman yang tinggal di Dresden, Christine Hardt, mematenkan brassière modern pertama pada tahun 1899.[31] Sigmund Lindauer dari Stuttgart-Bad Cannstatt, Jerman, mengembangkan sebuah brassière untuk diproduksi massal dan mematenkannya pada tahun 1912. Bra ini diproduksi massal oleh Mechanische Trikotweberei Ludwig Maier und Cie. di Böblingen, Jerman.[32][33] Di Amerika Serikat, Mary Phelps Jacob menerima paten pada tahun 1914 untuk desain brassière pertama yang diakui sebagai dasar dari bra modern.[34][35] Produksi massal pada awal abad ke-20 membuat pakaian dalam ini tersedia secara luas bagi para wanita di Amerika Serikat, Inggris, Eropa Barat, dan negara-negara lain yang dipengaruhi oleh mode Barat.[2] Kelangkaan logam pada Perang Dunia I turut mendorong berakhirnya era penggunaan korset.

Bra berbantalan (padded bra)

Pengembangan bra berkawat dimulai pada tahun 1930-an,[36] meskipun baru mendapatkan popularitas secara luas pada tahun 1950-an, ketika berakhirnya Perang Dunia II membuat logam dapat kembali digunakan untuk keperluan domestik.[37][38] Penerbang dan pembuat film Howard Hughes merancang purwarupa bra berkawat yang aerodinamis untuk Jane Russell saat syuting film The Outlaw pada tahun 1941. Menurut Hughes, hasil akhirnya adalah "panjang belahan dada yang sebenarnya menjadi lima seperempat inci."[39] Bra pada tahun 1940-an menyisakan cukup banyak bahan kain di bagian tengah, sehingga menciptakan pemisahan payudara alih-alih belahan dada yang saling menekan seperti saat ini.[40] Frederick Mellinger dari Frederick's of Hollywood menciptakan bra berbantalan pertama pada tahun 1947, yang diikuti oleh bra push-up versi awal setahun kemudian (yang dijuluki "The Rising Star"[11]).[26]

Sebuah bra berbantalan menambahkan bahan tertentu (busa, silikon, gel, udara, atau cairan) ke dalam mangkuk bra untuk membantu payudara terlihat lebih penuh.[41] Terdapat berbagai desain yang berbeda, mulai dari yang hanya sedikit mengangkat hingga memberikan efek dorongan (push-up) yang tinggi, yang memberikan penutupan dan topangan, menyembunyikan puting, menambahkan bentuk pada payudara yang saling berjauhan, serta menambah kenyamanan.[42] Bantalan bertingkat menggunakan lebih banyak bantalan di bagian bawah mangkuk yang perlahan-lahan menipis ke arah atas.[43] Ada juga bra setengah berbantalan (semi-padded) yang cocok untuk gaun berleher rendah.[44] Dengan munculnya bra berbantalan, penjualan bantalan lepas-pasang pun merosot tajam,[45] meskipun beberapa bra berbantalan juga memiliki bantalan sisipan yang dapat dilepas.[42] Aktris Julia Roberts diharuskan memakai bra berisi gel silikon yang dibuat khusus untuk film Erin Brockovich guna memperbesar ukuran belahan dadanya.[46][47]

Brassière pada awalnya diproduksi oleh perusahaan-perusahaan produksi kecil dan didistribusikan ke para pengecer. Istilah "mangkuk" (cup) belum digunakan hingga tahun 1916, dan para produsen mengandalkan mangkuk yang dapat merenggang untuk menyesuaikan berbagai ukuran payudara.[48] Para wanita dengan payudara yang lebih besar atau kendur memiliki pilihan berupa bra panjang (long-line), bra dengan bagian punggung yang lebih tertutup (built-up backs), sisipan berbentuk baji di antara mangkuk, tali bahu yang lebih lebar, bahan Lastex, pita kuat di bawah mangkuk, serta kawat tulangan ringan.[48]

Pada bulan Oktober 1932, S.H. Camp and Company menghubungkan ukuran dan kekenduran payudara dengan huruf A hingga D.[3] Iklan dari Camp menampilkan profil payudara berlabel huruf dalam edisi Februari 1933 dari majalah Corset and Underwear Review. Pada tahun 1937, Warner mulai menyertakan ukuran mangkuk pada produk-produknya.[49] Tali lingkar yang dapat disesuaikan menggunakan beberapa pengait dan mata kancing diperkenalkan pada tahun 1930-an.[50] Pada saat Perang Dunia II usai, sebagian besar wanita yang sadar mode di Eropa dan Amerika Utara telah mengenakan brassière, dan para wanita di Asia, Afrika, dan Amerika Latin juga mulai mengadopsinya.[2]

1960-an–1980-an

[sunting | sunting sumber]
Bra push-up
Bra belahan rendah

Pada musim gugur 1963 dan musim semi 1964, tren mode Barat didominasi oleh garis leher yang rendah, sementara penonton terpesona oleh film-film seperti Tom Jones yang menampilkan "belahan dada yang agresif". Produsen lingerie dan pakaian pembentuk tubuh (shapewear) seperti Warner Brothers, Gossard, Formfit, dan Bali mengambil kesempatan ini untuk memasarkan bra belahan rendah (plunge bra).[51] Sebuah bra belahan rendah menutupi puting dan bagian bawah payudara sambil membiarkan bagian atasnya terbuka, sehingga cocok untuk atasan berpotongan rendah dan kerah V yang dalam.[44] Bra ini juga memiliki gore (kain tengah penyambung cup) yang lebih rendah, lebih pendek, dan lebih sempit yang mempertahankan topangan sekaligus mempertegas belahan dada dengan membiarkan gore tersebut turun beberapa inci di bawah bagian tengah payudara.[52][53][54][55] Bra belahan rendah hadir dalam berbagai kedalaman yang memberikan belahan dada yang menawan. Seperti halnya bra push-up, bra ini memiliki sedikit bantalan dan memberikan topangan,[42] serta membantu menekan payudara ke arah tengah dan menciptakan belahan dada.[53] Bali dan Vassarette juga memasarkan bra renda yang memaksimalkan belahan dada.[56]

Bra push-up pertama diciptakan pada tahun 1964 oleh warga negara Kanada Louise Poirier dan dipatenkan untuk Wonderbra (merek dagang sejak tahun 1935), yang kemudian dimiliki oleh Canadelle, sebuah perusahaan lingerie asal Kanada, pada tahun 1971.[57][58] Bra push-up dirancang untuk menekan payudara ke atas dan lebih saling merapat guna memberikan tampilan yang lebih penuh dengan bantuan mangkuk berbantalan,[59] berbeda dari bra berbantalan lainnya dalam hal letak bantalannya.[42] Bra ini membiarkan area atas dan dalam payudara tidak tertutupi sehingga menambah belahan dada. Bra jenis ini tersedia dalam banyak desain dan setiap ukuran mulai dari A hingga E.[44] Sebagian besar bra push-up memiliki kawat di bagian bawah (underwire) untuk menambah daya angkat dan topangan,[44] sedangkan bantalannya umumnya terbuat dari busa.[42]

1990-an dan seterusnya

[sunting | sunting sumber]

Merek Wonderbra diakuisisi pada tahun 1994 oleh Sara Lee Corporation dan, sejak tahun 2006, dilisensikan kepada HanesBrands Inc serta Sun Capital untuk berbagai pasar yang berbeda.[60][61] Bra ini memiliki 54 elemen desain, termasuk mangkuk tiga bagian, kawat penyangga (underwire), bagian punggung dengan sudut presisi, tali yang kaku, dan bantalan "cookies" yang dapat dilepas-pasang.[57] Ketika bra push-up dengan belahan rendah pertama kali muncul di pasar AS, satu buah Wonderbra terjual setiap 15 detik, mendorong penjualan tahun pertama sebesar US$120 juta.[57] Bra ini menjadi salah satu potong lingerie paling kompleks yang pernah diciptakan.[62]

Pada tahun 1994, belahan dada supermodel Eva Herzigova yang dipotret oleh Ellen von Unwerth untuk kampanye iklan Wonderbra yang kontroversial, Hello Boys, membantu membentuk citra ideal wanita, sebuah pengalaman yang dideskripsikan Herzigova sebagai sesuatu yang "memberdayakan".[63] Pada tahun 1999, poster iklan tersebut ditempatkan pada posisi ke-10 dalam kompetisi Poster Abad Ini yang disusun oleh majalah perdagangan Campaign. Pada tahun 2011, kampanye ini terpilih sebagai kampanye iklan terbaik sepanjang masa dalam sebuah jajak pendapat oleh Outdoor Media Centre, sebuah portal periklanan dan pemasaran, dan dipamerkan dalam sebuah pameran di Museum Victoria dan Albert.[64] Kampanye ini membantu membawa merek tersebut ke garis depan dalam persaingan tren belahan dada setelah 30 tahun berada dalam kondisi yang relatif kurang dikenal.[11] Pada hari Jumat pertama setiap bulan April di Afrika Selatan, pemasar brassière Wonderbra mensponsori Hari Belahan Dada Nasional.[65][66]

Pengecer lingerie terbesar di Amerika, Victoria's Secret, diluncurkan oleh Roy Raymond, seorang alumnus Stanford, di San Francisco pada akhir tahun 1970-an dengan daya tarik yang serupa.[67] Victoria's Secret Angels menggelar peragaan busana pertamanya di Plaza Hotel, New York, pada tahun 1995.[68] Bahkan merek-merek tradisional, yang sebelumnya memproduksi gaya tahun 1950-an seperti mangkuk runcing, punggung rendah, bagian depan rendah, dan tanpa tali bahu,[51] seperti Maidenform, turut bergabung dalam persaingan tersebut pada tahun 1995.[69] Pada tahun 1999, acara tersebut disiarkan secara langsung di internet (webcast) untuk pertama kalinya. Pada tahun 2001, acara tersebut disiarkan di jaringan televisi dengan 12 juta penonton untuk penyiaran perdananya. Produsen lingerie lainnya seperti Frederick's of Hollywood dan Agent Provocateur juga bergabung dalam persaingan pada saat itu,[68] dengan Frederick's of Hollywood memperkenalkan desain yang disebut Hollywood Extreme Cleavage Bra yang membantu memberikan kesan belahan dada bulat menyerupai payudara hasil operasi pembesaran (augmentasi) yang dipopulerkan oleh bintang-bintang seperti Pamela Anderson.[70]

Bra berkawat (underwire bra) menggunakan kawat yang dijahit ke dalam kain bra dan di bawah setiap mangkuk, mulai dari gore tengah hingga ke bawah ketiak pemakainya. Bra ini membantu mengangkat, memisahkan, membentuk, dan menopang payudara. Bra tersebut menggunakan setrip tipis dari logam, plastik, atau resin, biasanya dengan lapisan nilon di kedua ujungnya.[71][72] Beberapa gaya bra berkawat juga hadir dalam versi mangkuk lunak (soft cup).[73] Bra berkawat menyumbang 60% dari pasar bra di Britania Raya pada tahun 2000[74] dan 70% pada tahun 2005.[75] Sekitar 70% wanita yang memakai bra mengenakan bra berkawat baja menurut industri produsen pakaian dalam di New York pada tahun 2009.[71] Pada tahun 2001, 70% (350 juta) dari bra yang terjual di Amerika Serikat adalah bra berkawat.[13][71] Pada tahun 2005, bra berkawat merupakan segmen pasar dengan pertumbuhan tercepat.[76] Sempat beredar dugaan bahwa bra berkawat mungkin membatasi aliran darah dan cairan limfa di sekitar payudara, sehingga mencegah pembuangan racun, namun belum ada bukti yang muncul untuk mendukung klaim ini.[77]

Pada dekade berikutnya, khususnya selama karantina wilayah akibat COVID-19,[78] bralette dan bra bertekstur lembut mulai menggantikan bra berkawat dan berbantalan,[79] yang terkadang juga difungsikan sebagai pakaian luar.[80] Pada saat yang sama, popularitas merek-merek seperti Victoria's Secret menurun secara signifikan.[81] Sarah Shotton, direktur kreatif Agent Provocateur, mengaitkan hal ini dengan pergeseran fokus konsumen terhadap "tubuh atletis, kesehatan, dan kesejahteraan", alih-alih "tatapan laki-laki (male gaze)";[82] menurut perancang lingerie independen Araks Yeramyan, "Gerakan #MeToo-lah yang melambungkan tren bralette menjadi seperti sekarang ini."[80] Beberapa bralette masih menawarkan desain belahan dada yang rendah, bantalan ringan, topangan bawah, atau memberikan efek belahan dada yang menonjol.[83][84][85][86]

Manufaktur

[sunting | sunting sumber]

Konstruksi

[sunting | sunting sumber]
👁 Image
Seorang penjahit sedang menjahit bra di Puerto Riko

Bra yang diproduksi secara massal dibuat agar pas untuk tubuh prototipe wanita yang berdiri dengan kedua lengan di sisi tubuhnya. Desain ini mengasumsikan bahwa kedua payudara memiliki ukuran yang sama dan simetris.[87] Memproduksi bra yang pas merupakan sebuah tantangan karena pakaian ini seharusnya melekat pas di badan (form-fitting), namun payudara wanita dapat mengendur, serta memiliki variasi dalam hal volume, lebar, tinggi, bentuk, dan posisi pada dada.[87][88][89] Produsen membuat ukuran bra standar yang memberikan ukuran yang "mendekati" pas, akan tetapi seorang wanita dengan ukuran tubuh yang akurat sekalipun dapat kesulitan menemukan bra yang benar-benar pas karena adanya variasi ukuran antar produsen yang berbeda. Beberapa produsen membuat "ukuran kebanggaan (vanity sizes)" dan dengan sengaja mencantumkan ukuran bra mereka secara tidak akurat dalam upaya meyakinkan para wanita bahwa mereka lebih langsing dan lebih sintal.[90][91]

Bra adalah salah satu pakaian yang paling rumit untuk dibuat. Sebuah desain pada umumnya memiliki antara 20 hingga 48 bagian, termasuk pita lingkar (band), kain penyambung tengah (gore), panel samping, mangkuk, titik puncak (apex), garis leher, kawat penyangga, tali bahu, cincin, penggeser tali, penyambung tali, dan pengait. Bra dibuat berdasarkan model rangka persegi. Perancang lingerie Chantal Thomass mengatakan,

Pakaian ini sangat teknis, terbuat dari banyak potongan kain kecil, dengan begitu banyak ukuran yang harus dipertimbangkan untuk mangkuk yang berbeda-beda, dll. Ini adalah pakaian yang Anda cuci setiap hari, sehingga jahitan dan strukturnya harus sangat kuat. Ini sangat berbeda dari sepotong baju biasa; pakaian ini bersentuhan langsung dengan kulit, sehingga harus sangat solid.[92]

Komponen utama yang memberikan topangan paling besar adalah pita lingkar dada yang membalut batang tubuh. Pita ini menopang dua mangkuk yang biasanya ditahan di posisinya oleh dua tali bahu. Pita lingkar dada biasanya dikaitkan di bagian punggung menggunakan pengait dan mata kancing, tetapi model untuk payudara berukuran lebih kecil mungkin dikaitkan di bagian depan.[93] Bra tidur atau bra atletik tidak memiliki pengait dan dikenakan dengan cara ditarik melewati kepala dan payudara. Bagian di antara kedua mangkuk disebut kain penyambung tengah (gore). Bagian di bawah ketiak di mana pita lingkar menyambung dengan mangkuk disebut sebagai "sayap belakang".[94]

Komponen bra, termasuk mangkuk bagian atas dan bawah (jika berjahit), panel tengah, samping, dan belakang, serta tali bahu, dipotong mengikuti spesifikasi pihak produsen. Banyak lapisan kain dapat dipotong pada saat yang bersamaan menggunakan laser yang dikendalikan komputer atau alat pemotong gergaji pita (bandsaw). Potongan-potongan tersebut dirakit oleh pekerja borongan menggunakan mesin jahit industri atau mesin otomatis. Pengait dan mata kancing dari logam berlapis dijahit menggunakan mesin serta diproses dengan panas atau disetrika ke ujung belakang pita lingkar, dan sebuah label dipasang atau dicetak pada bra itu sendiri.[94] Bra yang telah selesai dikerjakan kemudian dilipat (secara mekanis maupun manual), lalu dikemas untuk dikirim.[95]

Pita lingkar dada dan mangkuk, bukan tali bahu, dirancang untuk menopang beban payudara wanita. Bra tanpa tali bahu (strapless) mengandalkan kawat penyangga serta panel penjahitan dan pengaku tambahan untuk menopangnya. Tali bahu pada beberapa bra olahraga menyilang di bagian punggung untuk mengurangi tekanan pada bahu ketika lengan diangkat. Para produsen terus-menerus bereksperimen dengan desain rangka hak milik mereka. Sebagai contoh, model Playtex "18-Hour Bra" menggunakan desain M-Frame.[94]

👁 Image
Pilihan bra di Kairo, Mesir, 2013

Bra pada awalnya terbuat dari linen, kain katun lebar (broadcloth), dan tenunan kepar (twill), serta dijahit menggunakan kampuh pipih (flat-felled) atau pita serong (bias-tape). Kini pakaian tersebut terbuat dari beragam bahan, termasuk trikot, spandeks, Spanette, lateks, serat mikro, satin, Jacquard, busa, jaring (mesh), dan renda,[94] yang dipadukan untuk mencapai tujuan tertentu. Spandeks, serat sintetis yang memiliki "memori regangan" bawaan, dapat dicampur dengan katun, poliester, atau nilon. Jaring adalah bahan sintetis berteknologi tinggi yang tersusun dari filamen ultra-halus yang dirajut rapat untuk menghasilkan kelembutan.[94]

Enam puluh hingga tujuh puluh persen bra yang terjual di Inggris dan AS memiliki mangkuk berkawat. Kawat penyangga tersebut terbuat dari logam, plastik, atau resin.[96][13] Pelopor kawat penyangga pada bra sudah ada setidaknya sejak tahun 1893, ketika Marie Tucek dari New York City mematenkan penopang payudara, sejenis bra push-up awal yang terbuat dari logam maupun kardus yang kemudian dilapisi dengan kain.[71] Kawat penyangga dipasang di sekeliling tepi mangkuk tempat mangkuk tersebut menempel pada pita lingkar, guna meningkatkan kekakuannya untuk memperbaiki topangan, daya angkat, dan pemisahan.[93]

Bra tanpa kawat atau bra bermangkuk lembut (softcup) memiliki penjahitan tambahan dan penguatan internal.

Pada akhir 1970-an, bra tanpa kawat mulai bermunculan baik dari merek Hanky Panky maupun Hanro di Swiss. Cosabella di Italia dan di Prancis menyusul pada tahun 1980-an, begitu pula dengan Eberjey pada tahun 1990-an.[80] Produsen lain menggunakan bahan bantalan atau pembentuk untuk memperbesar ukuran payudara atau mempertegas belahan dada.[97]

Ukuran dan pengepasan

[sunting | sunting sumber]

Di sebagian besar negara, bra hadir dalam ukuran pita lingkar dan mangkuk, seperti 34C; 34 adalah pita lingkar dada, atau ukuran di sekeliling batang tubuh tepat di bawah payudara, dan C adalah ukuran mangkuk, yang mengacu pada volume payudara. Kebanyakan bra ditawarkan dalam 36 ukuran; Triumph "Doreen" hadir dalam 67 ukuran, hingga 46J.[98]

Ukuran mangkuk bervariasi tergantung pada ukuran pita lingkar. Mangkuk D pada pita lingkar 38 memiliki volume yang lebih besar dibandingkan mangkuk D pada pita lingkar 34, karena volume payudara seorang wanita meningkat seiring dengan bertambahnya dimensi pita lingkar dadanya.[99] Ukuran saudari (sister sizing) bekerja berdasarkan prinsip ini, yang berarti para wanita dapat menemukan kecocokan yang lebih baik dengan menaikkan atau menurunkan ukuran pita lingkar sambil menyesuaikan ukuran mangkuk mereka, karena ukuran saudari adalah bra yang memiliki volume mangkuk yang sama dengan ukuran Anda yang biasa, meskipun memiliki ukuran punggung dan mangkuk yang berbeda.[100] Di negara-negara yang telah mengadopsi standar ukuran pakaian EN 13402 Eropa, ukuran tersebut dibulatkan ke kelipatan 5 sentimeter (2,0in) terdekat.[101][102]

👁 Image
Ilustrasi tahun 1958 tentang cara mengukur ukuran mangkuk dan pita lingkar

Standar manufaktur internasional dan sistem pengukuran sangat bervariasi. Bra dirancang untuk tubuh rata-rata, tetapi anatomi tubuh wanita sangat bervariasi. Sepuluh persen payudara wanita tidak simetris, dengan payudara kiri lebih besar pada 62 persen kasus.[103] Payudara seorang wanita mungkin ptosis (kendur) dan berjarak lebar, sementara yang lain mungkin terpusat berdekatan di dada, tegak, dan sangat penuh. Akibatnya, menemukan bra yang benar-benar pas sangatlah sulit. Ketika wanita menemukan bra yang tampaknya pas, mereka cenderung terus memakai ukuran tersebut, meskipun berat badan mereka mungkin turun atau naik.[30][91][104][105]

Dalam sebuah survei di Britania Raya, 60 persen dari lebih dari 2.000 wanita berusia antara 16 dan 75 tahun mengatakan mereka pernah melakukan pengepasan bra, dan 99 persen mengatakan bahwa kecocokan ukuran adalah faktor yang paling tidak penting saat memilih bra.[106] Meningkatnya publisitas tentang masalah bra yang tidak pas telah meningkatkan jumlah wanita yang mencari layanan pengepasan. Pengecer asal Inggris Marks & Spencer menyatakan bahwa sekitar 8.000 wanita melakukan pengepasan bra di toko mereka setiap minggunya.[107] Meskipun demikian, sekitar 80–85 persen wanita masih mengenakan ukuran bra yang salah.[108][109]

Para ahli bra menyarankan pengepasan bra profesional dari departemen pakaian dalam (lingerie) di toko pakaian atau toko khusus lingerie, terutama untuk ukuran mangkuk D atau lebih besar, dan khususnya jika terjadi kenaikan atau penurunan berat badan yang signifikan, atau jika pemakainya terus-menerus menyesuaikan letak branya.[98] Wanita di Britania Raya rata-rata mengubah ukuran bra mereka enam kali sepanjang hidup mereka.[110]

👁 Image
Ekstensi bra untuk pita lingkar

Tanda-tanda pita lingkar bra yang longgar meliputi pita yang naik ke atas punggung. Jika pita lingkar tersebut menyebabkan daging menyembul melewati tepinya, berarti ukurannya terlalu kecil.[111] Seorang wanita dapat menguji apakah pita lingkar bra terlalu ketat atau longgar dengan membalikkan bra pada batang tubuhnya sehingga mangkuk berada di punggung, lalu memeriksa apakah bra tersebut pas dan nyaman.[112] Para ahli menyarankan agar wanita memilih ukuran pita lingkar yang pas menggunakan set pengait terluar. Hal ini memungkinkan pemakainya untuk menggunakan pengait yang lebih ketat saat bra tersebut mulai meregang seiring masa pakainya.[113]

Bra dapat dirancang untuk memperbesar ukuran payudara wanita, atau untuk menciptakan belahan dada, atau untuk pertimbangan estetika, mode, atau pertimbangan lain yang lebih praktis. Bra menyusui dirancang untuk membantu proses menyusui.[15] Bra kompresi, seperti bra olahraga, menekan dan meminimalkan pergerakan payudara, sedangkan bra enkapsulasi memiliki mangkuk untuk menopang.[114] Penopang payudara mungkin sudah terpasang di dalam beberapa baju renang, kamisol, dan gaun.[115][116]  Bra kanker dirancang khusus untuk pasien kanker payudara yang telah menjalani mastektomi. Gaya bra ini memberikan topangan pascaoperasi, dan beberapa di antaranya dilengkapi bantalan atau kantong untuk menaruh isian.

Bra hadir dalam berbagai gaya, termasuk tanpa punggung (backless), balkonet (balconette), konvertibel, rak (shelf), mangkuk penuh (full cup), bra tertutup penuh (full coverage), mangkuk separuh (demi-cup), pengecil (minimizing), berbantalan (padded), belahan rendah (plunge), bra santai (lounge), postur, pendorong (push-up), punggung pembalap (racerback), tembus pandang (sheer), tanpa tali (strapless), kaus (T-shirt), berkawat (underwire), tanpa pelapis (unlined), dan mangkuk lembut (soft cup).[117]

👁 Image
Gaun bra kerucut karya Jean-Paul Gaultier

Pilihan wanita mengenai bra apa yang akan dikenakan secara sadar maupun tidak sadar dipengaruhi oleh persepsi sosial tentang bentuk tubuh wanita ideal, yang berubah seiring waktu.[118] Sebagai lingerie, wanita mengenakan bra untuk daya tarik seksual. Bra juga dapat digunakan untuk membuat pernyataan sosial seperti yang dibuktikan oleh desain Jean-Paul Gaultier dan bra berbentuk kerucut yang dikenakan Madonna di luar pakaiannya pada Blond Ambition World Tour miliknya.[119]

Pada tahun 1920-an, estetika flapper melibatkan tren meratakan payudara.[120]

Selama tahun 1940-an dan 1950-an, tren gadis sweter (sweater girl) menjadi modis, didukung oleh bra peluru (dikenal juga sebagai bra torpedo atau kerucut) seperti yang dikenakan oleh Jane Russell dan Patti Page.[121]

Sebagai pakaian luar, bra dalam bentuk atasan bikini pada tahun 1950-an menjadi pemandangan publik yang dapat diterima.[119] Selama tahun 1960-an, para perancang dan produsen memperkenalkan bra berbantalan dan bra berkawat. Setelah Protes Miss America pada September 1968, para produsen khawatir para wanita akan berhenti mengenakan bra. Sebagai tanggapan, banyak yang mengubah pemasaran mereka dan mengklaim bahwa mengenakan bra buatan mereka terasa seperti "tidak memakai bra".[122] Pada tahun 1970-an para wanita mencari bra yang lebih nyaman dan tampak alami.[121]

Pada akhir tahun 1990-an, payudara yang lebih besar menjadi lebih modis di Inggris.[107] Iris Marion Young mendeskripsikan preferensi di Amerika Serikat pada tahun 1990: "bulat, bertengger tinggi di dada, besar tetapi tidak menggembung, dengan tampilan yang kencang." Hal ini dianggap kontradiktif dalam beberapa hal.[123][oleh siapa?]

Victoria's Secret menugaskan pembuatan sebuah bra fantasi pada setiap musim gugur. Pada tahun 2003, perusahaan tersebut menyewa pembuat perhiasan Mouawad untuk merancang sebuah bra yang mengandung lebih dari 2500 karat berlian dan safir; bernilai US$10juta, bra tersebut menjadi bra paling berharga di dunia pada saat itu.[124]

Pakaian dalam sebagai pakaian luar

[sunting | sunting sumber]

Bra olahraga ditemukan pada tahun 1975. Para wanita mengenakannya di bawah pakaian lain selama 25 tahun berikutnya.[125] Namun pada tanggal 10 Juli 1999, Brandi Chastain mencetak tendangan kelima dalam adu penalti untuk memberi Amerika Serikat kemenangan atas Tiongkok pada pertandingan final Final Piala Dunia Wanita FIFA 1999. Dalam perayaannya, ia secara spontan melepas jerseynya, memperlihatkan bra olahraganya. Tindakannya dianggap oleh beberapa orang sebagai peristiwa bersejarah yang mendorong penggunaan bra olahraga tanpa balutan pakaian luar.[125][126] Sejak saat itu dan seterusnya, bra olahraga semakin sering dikenakan sebagai pakaian luar.[127]

Madonna adalah salah satu orang pertama yang mulai memamerkan tali branya, pada akhir tahun 1980-an.[128] Korset yang ia kenakan sebagai pakaian luar selama Blond Ambition World Tour miliknya pada tahun 1990 terjual seharga US$52.000 pada tahun 2012 di lelang Budaya Pop Christie's di London.[129] Koleksi adibusana musim gugur 2013 milik Versace menampilkan mode pakaian yang terbuka di bagian depan, memperlihatkan bra berkawat.[130] Mengenakan pakaian yang menonjolkan tali bra mulai menjadi mode sejak awal tahun 1990-an.[131][132][133][134]

Memakai pakaian yang memperlihatkan bra atau talinya menjadi begitu umum sehingga Cosmopolitan membuat panduan pada tahun 2012 tentang cara menampilkannya. Saran yang diberikan termasuk menghindari bra bermangkuk mulus berwarna polos yang senada dengan warna kulit, agar penampakannya tidak terlihat seperti ketidaksengajaan; memastikan bra tersebut dalam kondisi baik; dan mengenakan gaya yang sesuai dengan warna pakaian luar atau yang secara dramatis terlihat kontras.[135]

Penurunan penggunaan di Barat

[sunting | sunting sumber]

Meskipun segelintir wanita memiliki kebutuhan medis dan bedah untuk mengenakan brassiere, survei informal menemukan bahwa banyak wanita mulai memakai bra untuk tampil modis, untuk mematuhi tekanan sosial atau tuntutan keibuan, atau untuk mendapat topangan fisik. Sangat sedikit yang menyebut kenyamanan sebagai alasannya. Bahkan, banyak wanita mengalami begitu banyak ketidaknyamanan sehingga mereka melepaskan bra mereka sesegera mungkin.[136][137][2]

Dalam masyarakat Barat, sejak tahun 1960-an, telah terjadi tren yang lambat namun pasti menuju gaya tanpa bra (bralessness) di antara sejumlah wanita, terutama generasi milenial, yang telah menyuarakan penentangan dan mulai berhenti mengenakan bra.[138] Terlihat di depan umum tanpa mengenakan bra telah menjadi hal yang lebih dapat diterima sejak saat itu, sehingga mendorong lebih banyak wanita untuk tampil tanpa mengenakannya. Pada tahun 2016, direktur mode majalah Allure, Rachael Wang, menulis, "Tampil tanpa bra sudah ada sejak munculnya feminisme, tetapi tampaknya hal ini semakin mencuat ke permukaan akhir-akhir ini sebagai respons langsung terhadap momen-momen Gelombang Ketiga seperti kampanye tagar #freethenipple, peningkatan visibilitas transgender seperti sampul Vanity Fair yang menampilkan Caitlyn Jenner ... dan acara televisi garapan Lena Dunham, Girls (yang sering menampilkan wanita muda tanpa bra)."[138]

Dalam sebuah survei daring untuk majalah All You pada tahun 2013, 25 persen wanita melaporkan bahwa mereka tidak mengenakan bra setiap hari.[139] Sejumlah survei juga melaporkan bahwa 5–25 persen wanita Barat tidak mengenakan bra.[124][140][141]  Hari Tanpa Bra Nasional pertama kali diperingati di Amerika Serikat pada tanggal 9 Juli 2011.[142] Para wanita membagikan tulisan di Twitter tentang rasa lega yang mereka rasakan saat melepas bra mereka.[143] Lebih dari 250.000 orang menyatakan minat untuk "menghadiri" hari peringatan tersebut di sebuah halaman Facebook.[144] Hari Tanpa Bra kini diperingati secara internasional setiap tanggal 13 Oktober.[124]

Sebuah Jajak Pendapat Harris yang ditugaskan oleh Playtex menanyai lebih dari 1.000 wanita tentang apa yang mereka sukai dari sebuah bra. Di antara para responden, 67 persen mengatakan mereka lebih suka mengenakan bra daripada tidak mengenakannya, sementara 85 persen ingin mengenakan "bra penegas bentuk yang terasa seperti tidak memakai apa-apa." Pilihan mereka terbagi dalam hal bra berkawat: 49 persen mengatakan mereka lebih menyukai bra berkawat, persentase yang sama dengan mereka yang mengatakan lebih menyukai bra tanpa kawat.[97] Menurut produsen kawat penyangga S & S Industries dari New York, yang memasok bra untuk merek-merek seperti Victoria's Secret, Bali, Warner's, Playtex, Vanity Fair, dan label lainnya, sekitar 70 persen wanita pemakai bra mengenakan bra berkawat.[71]

Karantina wilayah akibat COVID-19 membuat lebih banyak wanita beralih ke bra tanpa kawat dan bralette demi kenyamanan. Perusahaan Knix, yang secara eksklusif memproduksi bra bermangkuk lunak, melaporkan peningkatan penjualan sebesar 100 persen antara Januari 2020 hingga Januari 2021. "Saya rasa para wanita tidak akan mau kembali mengenakan bra sehari-hari mereka yang biasa," ungkap kepala pejabat produk (chief product officer) untuk merek Lululemon.[145]

Penggunaan di negara berkembang

[sunting | sunting sumber]

Bra tidak dikenakan secara universal di seluruh dunia; di beberapa negara berkembang, harga bra bisa setara dengan upah 10–30 jam kerja seorang wanita, sehingga membuatnya tidak terjangkau bagi sebagian besar populasi.[146][147][148] Hingga 2011[update], para wanita di Fiji harus membayar hingga setara upah seminggu untuk sebuah bra baru.[149] Bra sangat dihargai di pasar pakaian bekas di Afrika Barat.[147][148] The Uplift Project menyediakan bra daur ulang bagi wanita di negara-negara berkembang.[150] Sejak tahun 2005, mereka telah mengirimkan 330.000 bra, termasuk ke Fiji, Vanuatu, Tonga, dan Kamboja.[146]

Pada tahun 2009, kelompok militan Islam garis keras di Somalia, Al-Shabaab, memaksa para wanita untuk menggoyangkan payudara mereka di bawah todongan senjata guna melihat apakah mereka mengenakan bra, yang mana mereka sebut sebagai pakaian "tidak islami".[151][152] Seorang penduduk Mogadishu yang anak-anak perempuannya dicambuk mengatakan, "Kelompok Islamis tersebut mengatakan bahwa dada seorang wanita harus kencang secara alami, atau rata."[151]

Dampak ekonomi

[sunting | sunting sumber]

Konsumen menghabiskan sekitar $16miliar per tahun di seluruh dunia untuk bra.[153] Di AS pada tahun 2012, para wanita rata-rata memiliki sembilan bra dan secara rutin mengenakan enam di antaranya.[153] Angka tersebut meningkat dari tahun 2006, ketika rata-rata wanita Amerika memiliki enam buah bra, yang mana salah satunya adalah model tanpa tali bahu (strapless), dan satu lainnya berwarna selain putih.[154] Wanita Inggris dalam sebuah survei tahun 2009 melaporkan bahwa mereka rata-rata memiliki 16 bra.[107]

Ukuran rata-rata bra di kalangan wanita Amerika Utara telah berubah dari 34B pada tahun 1983 menjadi 34DD pada tahun 2012–2013,[155] dan dari 36C pada tahun 2013 menjadi 36DD di Britania Raya selama kurun waktu 2014–2015.[156] Perubahan ukuran bra ini telah dikaitkan dengan meningkatnya tingkat obesitas, implan payudara, peningkatan penggunaan alat kontrasepsi, polutan peniru estrogen, tersedianya lebih banyak pilihan bra, serta para wanita yang kini mengenakan bra yang ukurannya lebih pas.[155][157]

👁 Image
Kaus bra dengan penopang payudara bawaan (kiri), 2015

Bra banyak diproduksi di negara-negara Asia, termasuk Sri Lanka, India, dan Tiongkok. Meskipun terdapat sejumlah tekanan sosial dari gerakan anti-bengkel kerja (anti-sweatshop) dan anti-globalisasi terhadap para produsen untuk mengurangi penggunaan tenaga kerja bengkel kerja (sweatshop), sebagian besar produsen pakaian utama masih bergantung pada mereka baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebelum tahun 2005, sebuah perjanjian perdagangan membatasi impor tekstil ke Uni Eropa dan AS. Tiongkok mengekspor tekstil dan pakaian senilai US$33,9miliar setiap tahunnya ke Uni Eropa dan AS. Ketika kuota tersebut berakhir pada 1 Januari 2005, apa yang disebut sebagai Perang Bra pun dimulai. Dalam waktu enam bulan, Tiongkok mengirimkan 30juta lebih banyak bra ke kedua pasar tersebut: 33 persen lebih banyak ke AS dan 63 persen lebih banyak ke Uni Eropa.[158] Hingga 2014[update], harga rata-rata sebuah bra adalah £29,80.[159] Hingga 2012[update], Afrika mengimpor bra senilai US$107juta, dengan Afrika Selatan menyumbang porsi sebesar 40 persen. Maroko berada di urutan kedua dan Nigeria ketiga, sementara Mauritius menempati posisi teratas dalam hal pembelian secara per kapita.[160]

Di negara-negara dengan biaya tenaga kerja yang rendah, bra yang menghabiskan biaya produksi sebesar US$5–7 dapat dijual seharga US$50 atau lebih di toko-toko eceran Amerika. Hingga 2006[update], pekerja garmen wanita di Sri Lanka berpenghasilan sekitar US$2,20 per hari.[158] Demikian pula, pekerja pabrik garmen di Honduras pada tahun 2003 dibayar sebesar US$0,24 untuk setiap kaus lengan panjang (sweatshirt) Sean John seharga $50 yang mereka buat, kurang dari setengah dari satu persen harga ecerannya.[161] Pada tahun 2009, para penduduk di kota manufaktur tekstil Gurao di provinsi Guangdong, Tiongkok, memproduksi lebih dari 200juta bra. Anak-anak dipekerjakan untuk merakit bra dan dibayar 0,30 yuan untuk setiap 100 tali bra yang mereka bantu rakit. Dalam satu hari mereka bisa memperoleh 20 hingga 30 yuan.[162]

Pandangan feminis Barat

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1968 di acara protes feminis Miss America, para pengunjuk rasa secara simbolis melemparkan sejumlah produk kewanitaan ke dalam "Tong Sampah Kebebasan" (Freedom Trash Can). Produk-produk ini termasuk bra,[163] yang merupakan salah satu barang yang disebut oleh pengunjuk rasa sebagai "instrumen penyiksaan wanita"[164] dan perlengkapan yang mereka anggap sebagai femininitas yang dipaksakan. Sebuah berita lokal di Press Atlantic City secara keliru melaporkan bahwa "bra, korset, bantalan payudara (falsies), pengeriting rambut, dan salinan majalah wanita populer dibakar di 'Tong Sampah Kebebasan''".[165][166] Para individu yang hadir mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang membakar bra atau melepaskan bra mereka.[164][167] Namun, seorang reporter wanita (Lindsy Van Gelder) yang meliput protes tersebut menarik analogi antara para pengunjuk rasa feminis dan pengunjuk rasa Perang Vietnam yang membakar kartu wajib militer mereka, dan paralel antara pengunjuk rasa yang membakar kartu wajib militer dengan wanita yang membakar bra mereka turut didorong oleh beberapa penyelenggara termasuk Robin Morgan. "Media menyoroti bagian bra," kata Carol Hanisch di kemudian hari. "Saya sering mengatakan bahwa jika mereka menyebut kami 'pembakar korset,' setiap wanita di Amerika akan berlari untuk bergabung dengan kami."[167][168]

Feminisme dan "pembakaran bra" menjadi saling terkait dalam budaya populer.[169][170] Istilah analog jockstrap-burning (pembakaran cawat olahraga) sejak saat itu diciptakan sebagai rujukan pada maskulisme.[171] Meskipun para wanita feminis tidak secara harfiah membakar bra mereka, beberapa di antaranya berhenti memakainya sebagai bentuk protes.[172][173] Penulis feminis Bonnie J. Dow mengemukakan bahwa asosiasi antara feminisme dan pembakaran bra didorong oleh individu-individu yang menentang gerakan feminis.[163] "Pembakaran bra" menciptakan citra bahwa para wanita tidak benar-benar mencari kebebasan dari seksisme, melainkan berusaha menegaskan diri mereka sebagai makhluk seksual.[174] Hal ini dapat mengarahkan orang-orang untuk percaya, seperti yang ditulis oleh Susan J. Douglas, bahwa para wanita tersebut hanya mencoba untuk tampil "trendi, dan untuk menarik perhatian pria."[175][176][177][178] Beberapa aktivis feminis meyakini bahwa para penganut anti-feminisme menggunakan mitos pembakaran bra dan topik tentang tidak memakai bra untuk meremehkan apa yang berusaha dicapai oleh para pengunjuk rasa pada protes Miss America yang feminis tahun 1968 dan gerakan feminis pada umumnya.[179][180][181]

Kiasan (trope) mengenai kaum feminis yang membakar bra mereka telah diantisipasi oleh generasi feminis sebelumnya yang menyerukan pembakaran korset sebagai sebuah langkah menuju pembebasan. Pada tahun 1873, novelis Amerika Elizabeth Stuart Phelps Ward menulis:

Maka bakarlah korset-korset itu!... Jangan, jangan pula kalian menyimpan tulang-tulang paus tersebut, kalian tidak akan pernah membutuhkan tulang paus lagi. Buatlah api unggun dari baja-baja kejam yang telah menguasai rongga dada dan perut kalian selama bertahun-tahun dan hembuskan napas lega, karena emansipasi kalian saya pastikan, telah dimulai sejak saat ini.[182]

Beberapa feminis mulai berpendapat pada tahun 1960-an dan 1970-an bahwa bra adalah contoh bagaimana pakaian wanita membentuk dan bahkan mengubah bentuk tubuh wanita demi ekspektasi pria. Pada tahun 1964, Profesor Lisa Jardine mendeskripsikan makan malamnya bersama penulis dan intelektual publik Australia Germaine Greer saat jamuan makan malam resmi perguruan tinggi di Newnham College, Cambridge:

Di meja lulusan, Germaine menjelaskan bahwa tidak akan ada pembebasan bagi wanita, tidak peduli seberapa tinggi pendidikannya, selama kita diharuskan menjejalkan payudara kita ke dalam bra yang dikonstruksikan layaknya miniatur Gunung Vesuvius, dua kerucut kantilever putih jahitan yang tidak memiliki kemiripan sama sekali dengan anatomi tubuh wanita. Ketidaknyamanan bra tahun Enam Puluhan yang diderita secara sukarela ini, ia berpendapat dengan tegas, merupakan sebuah simbol penindasan wanita yang mengerikan.[183]

Buku karangan Germaine Greer, The Female Eunuch (1970), mulai dikaitkan dengan gerakan anti-bra karena ia menyoroti betapa membatasi dan tidak nyamannya sebuah bra itu.[184] "Bra adalah sebuah penemuan yang menggelikan," tulisnya, "tetapi jika Anda menjadikan penampilan tanpa bra sebagai sebuah aturan, Anda hanya menundukkan diri Anda sendiri pada bentuk represi yang lain."[185]

Susan Brownmiller dalam bukunya yang berjudul Femininity (1984) mengambil posisi bahwa wanita tanpa bra mengejutkan dan membuat marah kaum pria karena pria "secara implisit berpikir bahwa merekalah pemilik payudara tersebut dan bahwa hanya merekalah yang seharusnya melepaskan bra."[186]

Penulis feminis Iris Marion Young menulis pada tahun 2005 bahwa bra "berfungsi sebagai penghalang sentuhan" dan bahwa seorang wanita tanpa bra menjadi "terdeobjektifikasi" (terlepas dari objektifikasi), menghilangkan "tampilan keras dan runcing yang diposisikan sebagai norma oleh budaya falik." Tanpa mengenakan bra, dalam pandangannya, payudara wanita bukanlah objek yang bentuknya konsisten melainkan berubah seiring dengan pergerakan sang wanita, merefleksikan tubuh yang alami.[186] Argumen feminis anti-bra lainnya dari Young pada tahun 2005 mencakup bahwa bra pelatihan (training bra) digunakan untuk mengindoktrinasi para gadis muda agar menganggap payudara mereka sebagai objek seksual dan untuk menonjolkan seksualitas mereka.[186] Young juga menulis pada tahun 2007 bahwa, dalam budaya Amerika, payudara tunduk pada budaya "kapitalis, patriarkal yang didominasi oleh media Amerika [yang] mengobjektifikasi payudara di hadapan tatapan berjarak yang membekukan dan menguasai."[187] Akademisi Wendy Burns-Ardolino menulis pada tahun 2007 bahwa keputusan wanita untuk memakai bra dimediasi oleh "tatapan laki-laki (male gaze)".[188]

Kesehatan

[sunting | sunting sumber]

Kesesuaian ukuran

[sunting | sunting sumber]

Para dokter sering menyarankan agar wanita mengenakan bra yang berukuran pas dan menopang dengan baik guna membantu mengatasi gejala perubahan payudara fibrokistik.[189][190]

👁 Image
Bra olahraga

Penelitian biomekanik telah menunjukkan bahwa, bergantung pada aktivitas dan ukuran payudara seorang wanita, ketika ia berjalan atau berlari tanpa mengenakan bra, payudaranya dapat bergerak naik turun sejauh 4 hingga 18 sentimeter (1,6 hingga 7,1in) atau lebih, dan juga berayun dari sisi ke sisi.[191]

Para peneliti juga menemukan bahwa seiring bertambahnya ukuran payudara wanita, mereka cenderung lebih jarang melakukan aktivitas fisik, terutama olahraga berat. Sebagai contoh, hanya sedikit wanita berpayudara sangat besar yang melakukan joging. Untuk menghindari ketidaknyamanan dan rasa sakit yang berhubungan dengan olahraga, para ahli medis menyarankan agar wanita mengenakan bra olahraga yang berukuran pas selama beraktivitas.[191]

Payudara kendur

[sunting | sunting sumber]

Wanita terkadang memakai bra karena mereka secara keliru meyakini bahwa pakaian tersebut dapat mencegah payudara menjadi kendur (ptosis) seiring bertambahnya usia mereka.[192] Para dokter, pengecer lingerie, remaja, dan wanita dewasa pernah percaya bahwa bra secara medis diperlukan untuk menopang payudara. Dalam sebuah artikel tahun 1952 di Parents' Magazine, Frank H. Crowell secara keliru melaporkan bahwa sangat penting bagi gadis remaja untuk mulai mengenakan bra sejak dini. Menurut Crowell, hal ini akan mencegah payudara kendur, pembuluh darah yang meregang, dan sirkulasi yang buruk di kemudian hari.[193]

Keyakinan ini didasarkan pada gagasan keliru bahwa payudara secara anatomis tidak dapat menopang dirinya sendiri.[192][194] Sebuah studi tahun 2013 oleh Jean-Denis Rouillon menyatakan bahwa mengenakan bra justru dapat melemahkan jaringan penopang.[195] Para produsen bra berhati-hati dalam mengklaim bahwa bra hanya memengaruhi bentuk payudara selama pakaian tersebut sedang dikenakan.[194][196] Faktor-faktor utama yang memengaruhi ptosis payudara sepanjang hidup seorang wanita meliputi kebiasaan merokok rokok, jumlah kehamilan, gravitasi, indeks massa tubuh yang lebih tinggi, ukuran mangkuk bra yang lebih besar, serta kenaikan dan penurunan berat badan yang signifikan.[197][198]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]

Catatan

  1. "Empire Corset". Evening Herald. Syracuse. March 1893. Tentu saja gaun berpinggang pendek berarti korset berpinggang pendek, dan para wanita yang ingin tampil benar-benar modis akan mengenakan pita bertulang lurus enam inci atau brassiere sebagai pakaian malam, yang telah dijadikan sebuah keharusan oleh Sarah Bernhardt lewat gaun directoire-nya.
  2. 1 2 3 4 5 "Brassiere". Clothing and Fashion Encyclopedia. 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 November 2010. Diakses tanggal 19 January 2011.
  3. 1 2 Apsan 2006, hlm.186.
  4. Berry, Cheree (2007). "Boom and Busts". New York. Vol.40, no.44. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 February 2014. Diakses tanggal 31 January 2014.
  5. Mendehlson, Matt (4 December 2007). "The Bra Has Held up Famously for 100 years". USA Today. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 November 2014. Diakses tanggal 31 January 2014.
  6. Quinion, Michael. "Brassiere". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2006. Diakses tanggal 16 November 2006.
  7. Templat:US patent reference
  8. Duron, Alexandra. "History of the Bra". Women's Health. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 December 2012. Diakses tanggal 22 November 2012.
  9. Jane Farrell-Beck and Colleen Gau, Uplift: The Bra in America, page XI, University of Pennsylvania Press, 2002, ISBN9780812218350
  10. Fields 2007, hlm.81.
  11. 1 2 3 4 "A Brief History of the Bra". ELLE (dalam bahasa American English). 2013-11-13. Diakses tanggal 2024-03-06.
  12. Fields 2007, hlm.75.
  13. 1 2 3 Riordan, Teresa (2002-10-28). "Patents; In bra technology, an incremental improvement can translate into comfort". The New York Times. Diarsipkan dari asli tanggal 2009-04-23. Diakses tanggal 2009-04-21.
  14. Templat:US patent reference
  15. 1 2 3 Wells, Jacquelyn (30 January 2014). "The History of Lingerie [INFOGRAPHIC]". HER ROOM. HerRoom. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 February 2014. Diakses tanggal 31 January 2014.
  16. ἀπόδεσμος, Henry George Liddell, Robert Scott, A Greek–English Lexicon, on Perseus
  17. στηθοδέσμη Diarsipkan 16 July 2014 di Wayback Machine., Henry George Liddell, Robert Scott, A Greek–English Lexicon, on Perseus
  18. μαστόδεσμος Diarsipkan 18 July 2014 di Wayback Machine., Henry George Liddell, Robert Scott, A Greek–English Lexicon, on Perseus
  19. μαστόδετον Diarsipkan 16 July 2014 di Wayback Machine., Henry George Liddell, Robert Scott, A Greek–English Lexicon, on Perseus
  20. Leoty 1893, hlm.9.
  21. "The Figure and Corsets. Mataura Ensign (New Zealand) November11, 1887". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 November 2015. Diakses tanggal 12 November 2012.
  22. "Medieval Bras Discovered at Austrian Castle". The Guardian. Associated Press. 18 July 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 October 2013. Diakses tanggal 18 July 2012.
  23. Jahn, George (19 July 2012). "600-Year-Old Linen Bras Found in Austrian Castle". Yahoo! News. Associated Press. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 March 2016. Diakses tanggal 24 August 2018.
  24. Case, Rachel; Nutz, Beatrix; James, Carol (2019). "Enigmatic Beauty The Decorative Headwear of Lengberg Castle". Diakses tanggal 10 November 2025.
  25. "600-Year-Old Bras Uncovered in Austrian Castle". ABC News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-03-06.
  26. 1 2 DC Correspondent (2014-11-04). "100 years of everyone's favourite undergarment". Deccan Chronicle (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-03-06.
  27. 1 2 McGhee, Deirdre (2014-11-05). "The story of … the bra". The Conversation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-03-06.
  28. "Our story - Cadolle". www.cadolle.com. Diakses tanggal 2020-09-28.
  29. "Brassiere (origin of name)". Snopes.com Urban Legends. November 2011. Diakses tanggal 26 July 2013.
  30. 1 2 Farrell-Beck & Gau 2002.
  31. Hardt, Christine (1899) German Patent 110888A. dpma.de
  32. "Vom Korsett zum Büstenhalter" (dalam bahasa Jerman). wirtemberg.de. Diakses tanggal 2020-01-27.
  33. "Lyon Sussmann und die "Hautana"" (dalam bahasa Jerman). Zeitreise. 19 June 2018. Diakses tanggal 2020-01-27.
  34. Thomas, Pauline Weston (September 2004). "Bra History: Bras and Girdles". Fashion-Era.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 January 2011. Diakses tanggal 20 January 2011.
  35. Jenkins 2005, hlm.111.
  36. Napoleon, Anthony (2003). "Wardrobe". Awakening Beauty: An Illustrated Look at Mankind's Love and Hatred of Beauty (Edisi Illustrated). Virtual Bookworm Publishing. hlm.31, 130–131. ISBN978-1-58939-378-3. Diakses tanggal 2009-04-21.
  37. Kanner, Bernice (1983-12-12). "The Bra's not for Burning". New York Magazine. Vol.16, no.49. hlm.26–30. ISSN0028-7369. Diakses tanggal 2009-04-21.
  38. Seigel, Jessica (2004-02-13). "The Cups Runneth Over". The New York Times. Diakses tanggal 2013-05-09.
  39. Daphne Merkin, "The Great Divide", New York Times, August 28, 2005
  40. Debbie Wells, 1940's Style Guide, page 33, CreateSpace, 2011, ISBN9781460916889
  41. Amy Wallace, California or Bust, page 43, Los Angeles Magazine, Vol. 47, No. 1, ISSN 1522-9149
  42. 1 2 3 4 5 Patricia O'Grady, The Guide to Breast Reconstruction, page 85, AuthorHouse, 2014, ISBN9781491866924
  43. Jene' Luciani, The Bra Book: The Fashion Formula to Finding the Perfect Bra, page 32, BenBella Books, 2009, ISBN9781933771946
  44. 1 2 3 4 "31 Types of Bras Every Woman Should Know - A Complete Guide". STYLECRAZE (dalam bahasa American English). 2017-04-13. Diakses tanggal 2024-03-06.
  45. Jene Luciani (2013). The Bra Book, page 14, BenBella Books Inc., 2009, ISBN978-1-933771-94-6
  46. Dennis Bingham, Whose Lives Are They Anyway?, page 341, Rutgers University Press, 2010, ISBN9780813549309
  47. "Julia Roberts' Erin Brockovich lingerie up for sale". Express.co.uk (dalam bahasa Inggris). 2014-04-25. Diakses tanggal 2024-03-06.
  48. 1 2 Farrell-Beck & Gau 2002, hlm.73.
  49. Farrell-Beck & Gau 2002; Steele 2010, hlm.73.
  50. Farrell-Beck & Gau 2002; Steele 2010, hlm.56, 81.
  51. 1 2 Jane Farrell-Beck and Colleen Gau, Uplift: The Bra in America, page 144, University of Pennsylvania Press, 2002, ISBN9780812218350
  52. Aleesha Harris, The Fit Fight, Press Reader, 2017-01-28
  53. 1 2 Cora Harrington, In Intimate Detail: How to Choose, Wear, and Love Lingerie, page 64, Rodale, 2018, ISBN9780399580642
  54. Kathryn Kemp-Griffin, Paris Undressed: The Secrets of French Lingerie, page 34, Atlantic Books, 2017, ISBN9781952535901
  55. Jene Luciani (2013). The Bra Book, page 34, BenBella Books Inc., 2009, ISBN978-1-933771-94-6
  56. Jane Farrell-Beck and Colleen Gau, Uplift: The Bra in America, page 141, University of Pennsylvania Press, 2002, ISBN9780812218350
  57. 1 2 3 Sam Stall, Lou Harry and Julia Spalding, The Encyclopedia of Guilty Pleasures, page 308, Quirk Books, 2004, ISBN9781931686549
  58. Jane Farrell-Beck and Colleen Gau, Uplift: The Bra in America, page 167, University of Pennsylvania Press, 2002, ISBN9780812218350
  59. Jene Luciani (2013). The Bra Book, page 35, BenBella Books Inc., 2009, ISBN978-1-933771-94-6
  60. "Sara Lee sells European branded apparel business". The Business Journal of the Greater Triad Area. 2006-02-06. Diakses tanggal 2007-02-24.
  61. "Sun Capital Partners Press Release". Sun Capital Partners. 2006-02-07. Diarsipkan dari asli tanggal 13 October 2007. Diakses tanggal 2007-02-25.
  62. Marcelo M. Soares and Francesco Rebelo, Advances in Usability Evaluation, page 621, CRC Press, 2012, ISBN9781439870242
  63. "The bra: An uplifting tale". www.bbc.com. 20 February 2015. Diakses tanggal 2024-03-06.
  64. Reporter, Standard (2014-11-21). "Eva Herzigova: Wonderbra ad empowered women". Evening Standard (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-03-06.
  65. National Cleavage Day Diarsipkan 6 April 2007 di Archive.is Wonderbra.co.za
  66. There's a special day just for your cleavage Diarsipkan 7 April 2009 di Wayback Machine. Independent Online
  67. Pelling, Rowan. "100 years of the bra - a girl's best friend". The Daily Telegraph. Diarsipkan dari asli tanggal 22 August 2020. Diakses tanggal 2024-03-06.
  68. 1 2 "Vogue's fashion encyclopaedia: The history of the bra". Vogue India (dalam bahasa Indian English). 2019-08-22. Diakses tanggal 2024-03-06.
  69. Daniel Delis Hill, As Seen in Vogue: A Century of American Fashion in Advertising, page 153, Texas Tech University Press, 2007, ISBN9780896726161
  70. Jene Luciani (2013). The Bra Book, page 183, BenBella Books Inc., 2009, ISBN978-1-933771-94-6
  71. 1 2 3 4 5 Kehaulani, Sara (2004-12-10). "Functional Fashion Helps Some Through Airport Checkpoints". The Washington Post. hlm.2. Diakses tanggal 2009-04-24.
  72. Madaras, Lynda (2007). The "what's happening to my body?" book for girls (Edisi Third). Newmarket Press. hlm.48–50. ISBN978-1-55704-764-9. Diakses tanggal 2009-04-21.
  73. Bonnie August and Ellen Count, Looking Thin, page 63, Rawson Associates, 1982, ISBN9780892562220
  74. Tait, Niki (2000-10-25). "Charnos takes the plunge with a brand new bra". UK: Aroq Ltd. Diarsipkan dari asli tanggal 25 April 2020. Diakses tanggal 2009-04-22. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  75. "Boom in Bras as Women Go Busty". Daily Record. 2005-10-12. Diakses tanggal 2009-04-22.
  76. "Lingerie – UK – September 2005 – Market Research Report". Mintel. September 2005. Diakses tanggal 2009-04-21.
  77. Jene Luciani (2013). The Bra Book, page 122, BenBella Books Inc., 2009, ISBN978-1-933771-94-6
  78. Baker, Alicia Lansom, Ebony-Renee. "Trade In Your Underwired Bra For Something A Little More Comfortable". www.refinery29.com (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2024-03-06. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  79. Safe, Georgina (2020-02-06). "Cup half full: the lingerie brands ditching padding and underwire". The Guardian (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN0261-3077. Diakses tanggal 2024-03-06.
  80. 1 2 3 Dyett, Linda (2019-07-31). "The Bralette Is Back. This Time Blouses Are Optional". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSN0362-4331. Diakses tanggal 2024-03-06.
  81. VerityJohnson, Woke millennials didn't kill Victoria's Secret, pale stale males did, Stuff, 2020-02-07
  82. Finnigan, Kate (2020-07-08). "Soft focus: the new lingerie evolution". Financial Times. Diakses tanggal 2024-03-06.
  83. "Say Goodbye to Underwire Bras that Poke and Prod". Good Housekeeping (dalam bahasa American English). 2024-01-29. Diakses tanggal 2024-03-06.
  84. Deron, Bernadette (2020-06-27). "Mae Plunge Racerback Bralette That You Wish You Bought Sooner". Us Weekly (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-03-06.
  85. "19 bralettes that are equal parts comfy, sexy and supportive". Cosmopolitan (dalam bahasa Inggris (Britania)). 2021-07-16. Diakses tanggal 2024-03-06.
  86. "This $20 Bralette Actually Supports My Big Boobs". Nylon (dalam bahasa Inggris). 2019-09-27. Diakses tanggal 2024-03-06.
  87. 1 2 Chen, LaBat & Bye 2010.
  88. Bengtson, Bradley P.; Glicksman, Caroline A. (October 2015). "The Standardization of Bra Cup Measurements: Redefining Bra Sizing Language". Clinics in Plastic Surgery. 42 (4): 405–411. doi:10.1016/j.cps.2015.06.002. PMID26408432.
  89. Cope, Samantha (26 April 2013). "Are you wearing the right bra? We go back to boob school". Mirror. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 November 2016. Diakses tanggal 6 September 2018.
  90. "Vanity Bra Sizing: How Popular Bra Retailers Are Misleading Women". Kirby Plastic Surgery. 26 May 2015. Diakses tanggal 7 September 2018.
  91. 1 2 Holson, Laura M. (8 April 2009). "Women Are Shocked by Their New Bra Size". The New York Times (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 July 2018. Diakses tanggal 7 September 2018.
  92. Foreman, Katya (20 February 2015). "The Bra: An Uplifting Tale". BBC. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 October 2015. Diakses tanggal 8 September 2018.
  93. 1 2 Franklin, Deborah (October 1992). "Vanities: Femininity's Seamy Underside". Health. Vol.6, no.6. San Francisco: Time. hlm.24–30.
  94. 1 2 3 4 5 "Bra Finder One Hanes Place Bra Glossary". Hanesbrands Inc. Diarsipkan dari asli tanggal 17 November 2011. Diakses tanggal 14 November 2011.
  95. "Gale's How Products Are Made: How Is a Brassiere Made?". Answers.com. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 February 2011. Diakses tanggal 3 February 2011.
  96. Tait 2000: "The underwired bra accounts for 60 per cent of the market, but women with average or fuller busts must wonder why it is so popular. It is uncomfortable, non-machine washable, and difficult to make, but there has been nothing to replace it"
  97. 1 2 Luciani 2009, hlm.224.
  98. 1 2 King, Stephanie (1 June 2005). "Doreen: The Bra That Conquered the World". The Independent. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 October 2017. Diakses tanggal 8 September 2018.
  99. "Bravissimo – The Perfect Fit". Diarsipkan dari asli tanggal 15 August 2011.
  100. "What Is Sister Sizing?". UK Lounge (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-21.
  101. Cohen, Tracey (2024). "Bra Sizing: Understanding The Complexity". Illusions Lingerie.Templat:Marketing material
  102. "BBC Radio 4 Woman's Hour– Bras". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 April 2009. Diakses tanggal 25 September 2015.
  103. Losken A, Fishman I, Denson DD, Moyer HR, Carlson GW (December 2005). "An objective evaluation of breast symmetry and shape differences using 3-dimensional images". Annals of Plastic Surgery. 55 (6): 571–5. doi:10.1097/01.sap.0000185459.49434.5f. PMID16327452. S2CID35994039.
  104. Van Buren, Abagail (11 May 2004). "Dear Abby: Women Tired of Shouldering Burden of Bad Bra Design". uexpress. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 September 2011. Diakses tanggal 24 August 2018.
  105. McGhee & Steele 2006.
  106. Robson, Steve (11 September 2015). "Britain's Average Bra Size Has Grown as Region with the Biggest Boobs Is Revealed". Daily Mirror. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 November 2015. Diakses tanggal 17 November 2015.
  107. 1 2 3 Fisher, Alice (15 May 2010). "Why Are British Women's Breasts Getting Bigger?". The Observer. London: Guardian Media Group. hlm.44. ISSN0029-7712. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 August 2018. Diakses tanggal 24 August 2018.
  108. McGhee & Steele 2010; Wood, Cameron & Fitzgerald 2008.
  109. "Right Bra 'Could Halt Breast Ops'". BBC News. 11 April 2008. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 April 2008. Diakses tanggal 28 April 2008.
  110. "Bra Facts". The Great British Bra Survey. Diarsipkan dari asli tanggal 17 November 2015. Diakses tanggal 17 November 2015.
  111. "Lingerie Bra Fitting Video". Fantasie. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 27 December 2010. Diakses tanggal 28 January 2011.
  112. "Bra fitting tips from the German bra fitting forum busenfreundinnen.net". busenfreundinnen.net. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 February 2011. Diakses tanggal 11 February 2011.
  113. "10 Bra Mistakes You're Probably Making (And How To Fix Them)". HuffPost. 5 August 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 September 2015. Diakses tanggal 14 September 2015.
  114. Krupnick, Ellie (21 January 2014). "You're Probably Wearing the Wrong Sports Bra". The Huffington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 October 2017. Diakses tanggal 24 August 2018.
  115. "Bravado Essential Nursing Bra Tank". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 December 2010. Diakses tanggal 6 April 2011.
  116. Templat:USPTO Application
  117. Luciani, Jené (2017) The Bra Book, BenBella Books, ISBN 9781944648398
  118. Burns-Ardolino 2007.
  119. 1 2 Scott 2010.
  120. Smith, Merrill (9 July 2021). "What is chest binding and is it dangerous?". The Telegraph. Diakses tanggal 27 July 2024.
  121. 1 2 "Bullet Bras". LoveToKnow.com. Diarsipkan dari asli tanggal 19 April 2009. Diakses tanggal 11 May 2010.
  122. Vecchione, Lanajean (2004). "The Bra Advertising Gallery—Bra Ads". Diarsipkan dari versi asli pada 26 August 2009. Diakses tanggal 13 September 2009.
  123. Burns-Ardolino 2007, hlm.32.
  124. 1 2 3 Walsh, John (15 August 2007). "Breast Supporting Act: A Century of the Bra". The Independent. London. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 March 2016. Diakses tanggal 11 May 2010.
  125. 1 2 Komar, Marlen (7 August 2017). "The Surprising Feminist History Of The Sports Bra Will Make You Seriously Angry". Bustle (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 22 March 2019.
  126. Roberts, Jacob (2017). "Women's work". Distillations. 3 (1): 6–11. Diakses tanggal 22 March 2018.
  127. Krucoff, Carol (9 August 1999). "Sports Bras Are a Bust for Some". Los Angeles Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 6 April 2009. Diakses tanggal 11 September 2009.
  128. Dachille, Arielle. "10 Visible Bra Straps That Changed The World for the Better, a Definitive Ranking" Diarsipkan 22 December 2015 di Wayback Machine., Bustle, 26 July 2014.
  129. DelliCarpini, Gregory Jr. (3 December 2012). "Madonna's Iconic Cone Bra Sells for $52,000". Billboard. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 August 2013. Diakses tanggal 21 August 2013.
  130. O'Connor, Maureen (2 July 2013). "Everyone Is Showing the Centers of Their Bras". New York. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 July 2013. Diakses tanggal 22 August 2013.
  131. Armstrong, Aurora Mackey (11 April 1991). "Underwear Is In". Los Angeles Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 December 2015. Diakses tanggal 8 September 2018.
  132. "Bra Turns Hundred This Year". Life in Italy. 31 May 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 April 2013. Diakses tanggal 23 August 2013.
  133. "Show off Our Straps". Chicago Tribune. 14 August 2003. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 October 2013. Diakses tanggal 22 August 2013.
  134. Warren, Ellen (5 August 2010). "Playing Peekaboo". Chicago Tribune. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 August 2013. Diakses tanggal 22 August 2013.
  135. Cardellino, Carly (25 July 2012). "How to Show Off Your Bra in Style". Cosmopolitan. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 July 2013. Diakses tanggal 22 August 2013.
  136. Adams, Stephen (13 November 2012). "Bad Back, Neck Pain and Headaches: The Perils of Wearing a Poorly Fitting Bra". The Daily Telegraph. Diarsipkan dari asli tanggal 7 December 2013. Diakses tanggal 8 September 2018.
  137. Burns-Ardolino 2007, hlm.30–32; Sischo 2008, hlm.58.
  138. 1 2 Mallenbaum, Carly (19 July 2016). "Why Millennials are going braless". USA Today (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-09-20. Diakses tanggal 16 September 2018.
  139. Usigan, Ysolt (25 April 2013). "The Results of Our Bra Survey: How Often Do You Wear a Bra and Wash Your Bras? Plus, How Much You Spend on One?". All You. Diarsipkan dari asli tanggal 2 May 2013.
  140. "Bra Cup Sizes—Getting Fitted with the Right Size". 1stbras.com. Diarsipkan dari versi asli pada 18 February 2010. Diakses tanggal 11 May 2010.
  141. "The Right Bra". Liv.com. Diarsipkan dari asli tanggal 28 March 2009. Diakses tanggal 11 May 2010.
  142. "July 9, 2012 Is the Second Annual 'National No Bra Day'". 9 July 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 August 2012. Diakses tanggal 14 September 2012.
  143. Gray, Emma (9 July 2012). "No Bra Day: Women Tweet About the Merits of Not Wearing Lingerie". Huffington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 July 2012. Diakses tanggal 14 September 2012.
  144. "National No Bra Day gains support, boosts spirits". msnNOW. Diarsipkan dari asli tanggal 15 July 2012. Diakses tanggal 14 September 2012.
  145. Rubin, Courtney (2021-03-18). "'Women Don't Want to Be Harnessed Anymore.'". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSN0362-4331. Diakses tanggal 2022-04-03.
  146. 1 2 "Hooked on Bra Collection". Times of New Zealand. 22 November 2012. Diarsipkan dari asli tanggal 1 July 2015. Diakses tanggal 1 July 2015.
  147. 1 2 Hinson, Tamara (1 April 2012). "The Breast Way to Support Women in Africa". Metro. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 July 2015. Diakses tanggal 1 July 2015.
  148. 1 2 "Frip Ethique". Bosom Galore Lingerie. Diarsipkan dari asli tanggal 25 July 2015. Diakses tanggal 1 July 2015.
  149. Haxton, Nance (25 May 2011). "Fijian Bra Program Sparks Charity Debate". Australian Broadcasting Corporation. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 July 2015. Diakses tanggal 2 July 2015.
  150. "Uplift Bras". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 August 2015. Diakses tanggal 1 July 2015.
  151. 1 2 "Fouettées pour un soutien-gorge" [Lashes for a Bra]. Radio-Canada Info (dalam bahasa Prancis). Société Radio-Canada. Reuters. 16 October 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 September 2012. Diakses tanggal 4 February 2012.
  152. Sheikh, Abdi (16 October 2009). "Somali Islamists Whip Women for Wearing Bras". Reuters. Diarsipkan dari asli tanggal 11 February 2017. Diakses tanggal 8 September 2018.
  153. 1 2 "Victoria's Secrets: 6 Surprising Bra Stats". Redbook Magazine. 16 September 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 3 January 2012. Diakses tanggal 8 February 2012.
  154. Acton, Adams & Packer 2006, hlm.38.
  155. 1 2 Graham, Erika (22 July 2013). "The Average American Bra Size Is Now a 34 DD". Racked. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 August 2013. Diakses tanggal 30 July 2013.
  156. Crook, Nicola Rodney (16 September 2015). "The Great British Bra Survey Results". Bras and Honey. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 November 2015. Diakses tanggal 17 November 2015.
  157. Jones, Hardy (9 February 2012). "Larger Breast Size, Obesity and Diabetes Tied to Estrogen-Mimicking Pollutants". The Huffington Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 November 2013. Diakses tanggal 31 October 2013.
  158. 1 2 Watson, Noshua. "MAS Holdings: Strategic Corporate Social Responsibility in the Apparel Industry" (PDF). INSEAD. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 8 January 2016. Diakses tanggal 1 July 2015.
  159. "Average Price of Bras and Knickers in the United Kingdom (UK) in 2012 and 2014* (in GBP)". Statistica. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 July 2015. Diakses tanggal 2 July 2015.
  160. Mungai, Christine (14 November 2014). "The Plus-Size tax: Women Who Buy Bigger Bras Tend to Spend More, So What Does It Reveal About Africa?". Mail and Guardian Africa. Diarsipkan dari asli tanggal 2 July 2015. Diakses tanggal 2 July 2015.
  161. "Sean John Setisa Report". National Labor Committee. October 2003. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 May 2007. Diakses tanggal 31 May 2007.
  162. "The Dirty Secret Behind Jeans and Bras". Greenpeace East Asia. 1 December 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 July 2015. Diakses tanggal 1 July 2015.
  163. 1 2 Dow 2003.
  164. 1 2 Duffett, Judith (October 1968). "WLM vs. Miss America". Voice of the Women's Liberation Movement. hlm.4.
  165. Boucher, John L. (8 September 1968). "Bra-Burners Blitz Boardwalk". (Atlantic City) Press.
  166. Campbell 2010, hlm.109–110.
  167. 1 2 Collins 2003.
  168. Greenfieldboyce, Nell (5 September 2008). "Pageant Protest Sparked Bra-Burning Myth". NPR. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 November 2012. Diakses tanggal 6 February 2012.
  169. "Rush Blasts Greenstone". Radio Equalizer. 14 September 2006. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 June 2018. Diakses tanggal 8 September 2018.
  170. "The So-Called 'Ginsburg Standard'". heuriskein. 9 January 2006. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 June 2018. Diakses tanggal 8 September 2018.
  171. "Search for Male Contraceptive Makes Gains". Los Angeles Times. 31 July 1995. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 February 2015. Diakses tanggal 8 September 2018.
  172. Kornblum 2011.
  173. Shearer, Violet A. "Motherhood, Feminism and the Graveyard of Unwearable Bras". Diarsipkan dari asli tanggal 27 September 2011. Diakses tanggal 7 April 2010.
  174. Dow 2003, hlm.130.
  175. Douglas, Susan (1994). Where the Girls Are: Growing Up Female with the Mass Media. New York: Random House. hlm.160. Cited in Dow 2003, hlm.130.
  176. Loughran, Jane (11 January 2005). "You Don't Have to Be a Bra-Burning Feminist to Want to Keep Your Name". News & Star. Diarsipkan dari asli tanggal 27 September 2007. Diakses tanggal 8 February 2012.
  177. Williams, Ginny (October 1996). "Women of Goodwill". MENZ Issues. Vol.1, no.4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 July 2018. Diakses tanggal 8 September 2018.
  178. Campo 2005; Spongberg 1993.
  179. Lee, Jennifer (11 June 2014). "Feminism Has a Bra-Burning Myth Problem". Time. New York. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 July 2018. Diakses tanggal 24 August 2018.
  180. Dow 1999.
  181. "Red Hot Mamas (bra-burning)". Snopes.com Urban Legends. 27 November 2000.
  182. Phelps 1873, hlm.79.
  183. Merritt, Stephanie (5 October 2003). "Danger Mouth". The Observer. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 April 2008. Diakses tanggal 5 January 2010.
  184. "German Greer Biography". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 August 2011. Diakses tanggal 7 April 2010.
  185. Greer, Germaine (2001) [1970]. The Female Eunuch. New York: Farrar, Straus and Giroux. ISBN978-0-374-52762-4.
  186. 1 2 3 Young 2005, hlm.192.
  187. Cited in Burns-Ardolino 2007, hlm.31.
  188. Burns-Ardolino 2007, hlm.30–32.
  189. "Fibrosis and Simple Cysts in the Breast | American Cancer Society". www.cancer.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 10 April 2019.
  190. Ferri, Fred F. (2018). Ferri's Clinical Advisor 2019: 5 Books in 1 (dalam bahasa Inggris). Elsevier Health Sciences. hlm.548. ISBN9780323550765.
  191. 1 2 "How a well-fitted sports bra can reduce breast pain". nhs.uk (dalam bahasa Inggris). 30 April 2018. Diakses tanggal 7 March 2019.
  192. 1 2 "Don't burn your bra just yet". The Independent. 22 September 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 July 2018. Diakses tanggal 8 October 2018.
  193. Brumberg, Joan Jacobs (1998). The Body Project: An Intimate History of American Girls. Knopf Doubleday Publishing. hlm.336. ISBN0-679-73529-1. Diarsipkan dari asli tanggal 28 March 2002.
  194. 1 2 "Female Intelligence Agency: Why Do Women Wear Bras?". 007b Breast. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 August 2011. Diakses tanggal 10 May 2011.
  195. "French scientist bemused by buzz over bra research". Reuters. 12 April 2013.
  196. Cawthorne, Simon (November 2000). "Bras, the Bare Facts". Channel 4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 13 July 2012. Diakses tanggal 11 September 2009.
  197. Rinker, B.; Veneracion, M.; Walsh, C. (2008). "The Effect of Breastfeeding on Breast Aesthetics". Aesthetic Surgery Journal. 28 (5): 534–537. doi:10.1016/j.asj.2008.07.004. PMID19083576.
  198. Rinker, Brian; Veneracion, Melissa; Walsh, Catherine P. (May 2010). "Breast ptosis: causes and cure". Annals of Plastic Surgery. 64 (5): 579–584. doi:10.1097/SAP.0b013e3181c39377. ISSN1536-3708. PMID20354434. S2CID8953778.

Bibliografi

Bacaan lanjutan

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]
Wikimedia Commons memiliki media mengenai Brassieres.