VOOZH about

URL: https://id.wikipedia.org/wiki/Kehamilan

โ‡ฑ Kehamilan - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Lompat ke isi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kehamilan
Nama lainGestasi
๐Ÿ‘ Image
Seorang wanita pada trimester ketiga kehamilan
SpesialisasiObstetri, kebidanan
GejalaTerlambat haid, payudara bengkak dan sensitif, mual dan muntah, rasa lapar, sering buang air kecil[1]
KomplikasiKeguguran, tekanan darah tinggi dalam kehamilan, diabetes gestasional, anemia defisiensi besi, mual dan muntah parah[2][3]
Durasi~40minggu dari hari pertama haid terakhir (38 minggu setelah pembuahan)[4][5]
Metode diagnostikTes kehamilan[6]
PencegahanKontrasepsi (termasuk kontrasepsi darurat)[7]
Frekuensi213 juta (2012)[8]
Kematian๐Ÿ‘ Positive decrease
230.600 (2016)[9]

Kehamilan adalah masa di mana satu atau lebih keturunan berkembang di dalam rahim seorang wanita.[4][10] Sebuah kehamilan ganda melibatkan lebih dari satu keturunan, seperti pada bayi kembar.[11]

Pembuahan biasanya terjadi setelah hubungan intim pervaginam, tetapi juga dapat terjadi melalui prosedur teknologi reproduksi berbantu.[12] Suatu kehamilan dapat berakhir dengan kelahiran hidup, keguguran, aborsi induksi, atau lahir mati. Persalinan biasanya terjadi sekitar 40minggu dari awal hari pertama haid terakhir (HPHT), suatu rentang waktu yang dikenal sebagai usia gestasi;[4][5] ini sedikit lebih dari sembilanbulan. Dihitung berdasarkan usia pembuahan, lamanya adalah sekitar 38 minggu.[5][10] Implantasi rata-rata terjadi 8โ€“9 hari setelah pembuahan.[13] Embrio adalah istilah untuk keturunan yang berkembang selama tujuh minggu pertama setelah implantasi (yaitu sepuluh minggu usia gestasi), setelah itu istilah janin digunakan sampai kelahiran seorang bayi.[5]

Tanda dan gejala kehamilan awal dapat meliputi terlambat haid, payudara sensitif, mual pagi hari (mual dan muntah), rasa lapar, pendarahan implantasi, dan sering buang air kecil.[1] Kehamilan dapat dipastikan dengan sebuah tes kehamilan.[6] Metode-metode kontrasepsi digunakan untuk menghindari kehamilan.

Kehamilan dibagi menjadi tiga trimester yang masing-masing lamanya sekitar tiga bulan. Trimester pertama meliputi pembuahan, yaitu ketika sperma membuahi sel telur. Sel telur yang dibuahi kemudian berjalan turun melalui tuba fallopi dan menempel pada bagian dalam rahim, di mana ia mulai membentuk embrio dan plasenta. Selama trimester pertama, kemungkinan keguguran (kematian alami embrio atau janin) berada pada tingkat tertinggi. Sekitar pertengahan trimester kedua, pergerakan janin mulai dapat dirasakan. Pada usia 28 minggu, lebih dari 90% bayi dapat bertahan hidup di luar rahim jika diberikan perawatan medis berkualitas tinggi, meskipun bayi yang lahir pada masa ini kemungkinan akan mengalami komplikasi kesehatan yang serius seperti masalah jantung dan pernapasan serta kecacatan intelektual dan perkembangan jangka panjang.

Perawatan prenatal meningkatkan hasil kehamilan.[14] Nutrisi selama kehamilan penting untuk memastikan pertumbuhan janin yang sehat.[15] Perawatan prenatal juga mencakup penghindaran obat rekreasi (termasuk tembakau dan alkohol), berolahraga secara teratur, melakukan tes darah, dan pemeriksaan fisik secara rutin.[14] Komplikasi kehamilan dapat meliputi gangguan tekanan darah tinggi, diabetes gestasional, anemia defisiensi besi, dan mual dan muntah yang parah.[3] Pada persalinan yang ideal, proses persalinan dimulai dengan sendirinya "cukup bulan" (aterm).[16] Bayi yang lahir sebelum 37 minggu bersifat prematur dan berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan seperti lumpuh otak.[4] Bayi yang lahir antara minggu ke-37 dan 39 dianggap "cukup bulan awal" sementara mereka yang lahir antara minggu ke-39 dan 41 dianggap "cukup bulan penuh".[4] Bayi yang lahir antara minggu ke-41 dan 42 dianggap "cukup bulan akhir" sementara setelah 42 minggu mereka dianggap "lewat waktu".[4] Kelahiran sebelum 39 minggu melalui induksi persalinan atau bedah sesar tidak disarankan kecuali diperlukan karena alasan medis lainnya.[17]

Terminologi

[sunting | sunting sumber]
๐Ÿ‘ Halaman judul dari buku abad ke-18 tentang kehamilan
William Hunter, Anatomia uteri humani gravidi tabulis illustrata, 1774

Istilah yang terkait dengan kehamilan adalah gravid dan parous. Gravidus dan gravid berasal dari bahasa Latin yang berarti "berat" dan seorang wanita hamil terkadang disebut sebagai gravida.[18] Gravida mengacu pada jumlah berapa kali seorang wanita pernah hamil. Demikian pula, istilah paritas digunakan untuk jumlah kehamilan di mana wanita mengandung hingga mencapai tahap viabel.[19] Bayi kembar dan kelahiran ganda lainnya dihitung sebagai satu kehamilan dan satu kelahiran.

Seorang wanita yang belum pernah hamil disebut sebagai nuligravida. Wanita yang sedang (atau baru pernah) hamil untuk pertama kalinya disebut sebagai primigravida,[20] dan wanita pada kehamilan berikutnya disebut sebagai multigravida atau multiparous.[18][21] Oleh karena itu, selama kehamilan kedua seorang wanita akan digambarkan sebagai gravida 2, para 1 dan setelah persalinan hidup menjadi gravida 2, para 2. Kehamilan yang sedang berlangsung, aborsi, keguguran dan/atau lahir mati menyebabkan nilai paritas lebih kecil dari jumlah gravida. Wanita yang belum pernah mempertahankan kehamilan lebih dari 20 minggu disebut sebagai nulipara.[22]

Kehamilan dianggap aterm (cukup bulan) pada usia gestasi 37 minggu. Dianggap preterm (prematur) jika kurang dari 37 minggu dan post-term (lewat waktu) pada atau setelah 42 minggu usia kehamilan. American College of Obstetricians and Gynecologists merekomendasikan pembagian lebih lanjut menjadi early term (cukup bulan awal) dari 37 minggu hingga 39 minggu, full term (cukup bulan penuh) 39 minggu hingga 41 minggu, dan late term (cukup bulan akhir) 41 minggu hingga 42 minggu.[23] Istilah preterm dan post-term sebagian besar telah menggantikan istilah sebelumnya yaitu prematur dan postmatur, yang secara historis lebih berkaitan dengan ukuran dan tingkat perkembangan bayi daripada tahap kehamilan.[24][25]

Demografi

[sunting | sunting sumber]

Sekitar 213 juta kehamilan terjadi pada tahun 2012, di mana 190 juta (89%) di antaranya terjadi di negara berkembang dan 23 juta (11%) terjadi di negara maju.[8] Jumlah kehamilan pada wanita berusia antara 15 dan 44 tahun adalah 133 per 1.000 wanita.[8] Tingkat kehamilan adalah 140 per 1.000 wanita usia subur di negara berkembang dan 94 per 1.000 di negara maju.[8] Tingkat kehamilan, beserta usia terjadinya kehamilan, berbeda-beda berdasarkan negara dan wilayah. Hal ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor, seperti norma budaya, sosial, dan agama; akses ke kontrasepsi; serta tingkat pendidikan. Tingkat kesuburan total (TFR) pada tahun 2024 diperkirakan paling tinggi di Niger (6,64 anak/wanita) dan terendah di Korea Selatan (1,12 anak/wanita).[26]

Sekitar 10% hingga 15% kehamilan yang terdeteksi berakhir dengan keguguran.[2] Pada tahun 2016, komplikasi kehamilan mengakibatkan 230.600 kematian ibu, turun dari 377.000 kematian pada tahun 1990.[9] Penyebab umumnya meliputi pendarahan, infeksi, penyakit hipertensi pada kehamilan, persalinan macet, keguguran, aborsi, atau kehamilan ektopik.[9] Secara global, 44% kehamilan merupakan kehamilan yang tidak direncanakan.[27] Lebih dari setengah (56%) kehamilan yang tidak direncanakan diaborsi.[27] Di negara-negara di mana aborsi dilarang, atau hanya dilakukan dalam keadaan di mana nyawa ibu terancam, 48% dari kehamilan yang tidak direncanakan diaborsi secara ilegal. Sebagai perbandingan, tingkat di negara-negara di mana aborsi legal adalah sebesar 69%.[27] Di antara kehamilan yang tidak direncanakan di Amerika Serikat, 60% wanita tersebut menggunakan alat kontrasepsi hingga tingkat tertentu pada bulan dimulainya kehamilan.[28][butuh pemutakhiran]

Di Amerika Serikat, pencapaian pendidikan wanita dan status perkawinannya secara historis berkorelasi dengan memiliki anak: persentase wanita yang belum menikah pada saat kelahiran anak pertama menurun seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan. Tiga penelitian yang dilakukan antara tahun 2015 dan 2018 menunjukkan bahwa sebagian besar (~80%) wanita tanpa ijazah SMA atau pendidikan setara di AS belum menikah pada saat kelahiran pertama mereka. Sebaliknya, penelitian yang sama menunjukkan bahwa lebih sedikit wanita dengan gelar sarjana atau lebih tinggi (~24%) yang melahirkan anak pertama mereka saat belum menikah. Akan tetapi, fenomena ini juga memiliki komponen antargenerasi yang kuat: sebuah studi tahun 1996 menemukan 48,2% wanita AS tanpa gelar sarjana memiliki anak pertama saat belum menikah, dan hanya 4% wanita dengan gelar sarjana yang melahirkan anak pertama saat belum menikah. Studi-studi ini menunjukkan peningkatan tren pada wanita AS dari semua tingkat pendidikan untuk tidak menikah pada saat melahirkan anak pertama mereka.[29]

Kehamilan remaja

[sunting | sunting sumber]

Kehamilan remaja juga dikenal sebagai kehamilan remaja.[30] WHO mendefinisikan masa remaja sebagai periode antara usia 10 hingga 19 tahun.[31] Remaja menghadapi risiko kesehatan yang lebih tinggi daripada wanita yang melahirkan pada usia 20 hingga 24 tahun dan bayi mereka memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan kondisi neonatal parah lainnya. Anak-anak mereka juga akan terus menghadapi tantangan yang lebih besar, baik secara perilaku maupun fisik, di sepanjang hidup mereka. Kehamilan remaja juga berkaitan dengan masalah-masalah sosial, termasuk stigma sosial, tingkat pendidikan yang lebih rendah, dan kemiskinan.[32][30] Remaja perempuan sering kali berada dalam hubungan yang penuh kekerasan pada saat pembuahan terjadi.[33]

Diagnosis

[sunting | sunting sumber]

Seks penis-vagina biasanya merupakan penyebab kehamilan, meskipun mitos mengenai aktivitas seksual lainnya tetap ada, terutama pada populasi yang menerima pendidikan seks yang buruk seperti hanya abstinensia.[34][35] Kehamilan juga dapat terjadi sebagai hasil dari teknologi reproduksi berbantu.[36]

Awal kehamilan dapat dideteksi berdasarkan gejala pada wanita atau dengan menggunakan tes kehamilan. Penyangkalan kehamilan oleh seorang wanita merupakan kondisi umum dengan implikasi kesehatan yang serius. Sekitar 1 dari 475 penyangkalan akan berlangsung hingga sekitar minggu ke-20 kehamilan. Penyangkalan yang bertahan hingga persalinan terjadi pada sekitar 1 dari 2.500 kasus.[37] Sebaliknya, beberapa wanita yang tidak hamil memiliki keyakinan kuat bahwa mereka hamil disertai dengan beberapa perubahan fisik. Kondisi ini dikenal sebagai kehamilan palsu.[38]

Tanda dan gejala

[sunting | sunting sumber]
Linea nigra pada wanita berkulit gelap dan terang

Sebagian besar wanita hamil mengalami sejumlah gejala yang dapat menandakan kehamilan[39] seperti payudara yang sensitif[11] atau mual pagi hari. Sejumlah tanda medis awal dikaitkan dengan kehamilan.[40][41] Tanda-tanda fisik kehamilan meliputi:

Gejala umum lainnya meliputi sembelit, nyeri punggung, nyeri gelang panggul, sakit kepala,[45] dan mengidam atau penolakan terhadap makanan tertentu.[42] Wanita hamil juga dapat mengalami infeksi saluran kemih,[46] peningkatan frekuensi buang air kecil,[47] penurunan kualitas tidur, peningkatan ingatan mimpi, dan mimpi buruk.[48] Pada akhir masa kehamilan, wasir menjadi lebih umum terjadi.[49] Kehamilan setiap orang dapat berbeda-beda dan banyak wanita tidak mengalami semua tanda dan gejala yang umum tersebut.[50] Tanda dan gejala kehamilan yang biasa terjadi tidak secara signifikan mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari atau menimbulkan ancaman kesehatan bagi sang ibu maupun janin.[50] Komplikasi selama kehamilan dapat menyebabkan gejala lain yang lebih parah, seperti yang berkaitan dengan anemia.[51]

Biomarker

[sunting | sunting sumber]

Pendeteksian kehamilan dapat dilakukan menggunakan satu atau beberapa jenis tes kehamilan,[52] yang mendeteksi hormon-hormon yang dihasilkan oleh plasenta yang baru terbentuk, yang berfungsi sebagai biomarker kehamilan.[53] Tes darah dan urine dapat mendeteksi kehamilan masing-masing pada 11 dan 14 hari setelah pembuahan.[54][55] Tes kehamilan melalui darah lebih sensitif dibandingkan tes urine (memberikan lebih sedikit hasil negatif palsu).[56] Tes kehamilan di rumah adalah tes urine, dan biasanya mendeteksi kehamilan 12 hingga 15 hari setelah pembuahan.[57] Tes darah kuantitatif dapat menentukan perkiraan tanggal embrio dibuahi karena kadar hCG berlipat ganda setiap 36 hingga 72 jam sebelum usia gestasi 8 minggu.[58][55] Satu tes kadar progesteron juga dapat membantu menentukan seberapa besar kemungkinan janin akan bertahan hidup pada mereka yang mengalami ancaman keguguran (pendarahan pada awal kehamilan), tetapi hanya jika hasil USG tidak meyakinkan.[59]

Ultrasonografi

[sunting | sunting sumber]

Ultrasonografi obstetri dapat mendeteksi kelainan janin, mendeteksi kehamilan ganda, dan meningkatkan keakuratan penentuan usia kehamilan pada 24 minggu.[60] Perkiraan usia gestasi dan hari perkiraan lahir janin yang dihasilkannya sedikit lebih akurat daripada metode yang didasarkan pada hari pertama haid terakhir.[61] USG digunakan untuk mengukur lipatan nuka guna menskrining sindrom Down.[62]

Pencitraan medis

[sunting | sunting sumber]
๐Ÿ‘ Image
Pemindaian CT (dalam hal ini dirender volumenya) memberikan dosis radiasi pada janin yang sedang berkembang.
๐Ÿ‘ Image
Seorang wanita hamil sedang menjalani USG. USG digunakan untuk memeriksa pertumbuhan dan perkembangan janin.

Pencitraan medis mungkin diindikasikan selama kehamilan karena adanya komplikasi kehamilan, penyakit, atau perawatan prenatal rutin. Ultrasonografi medis termasuk ultrasonografi obstetri, dan pencitraan resonansi magnetik (MRI) tanpa agen kontras tidak berkaitan dengan risiko apa pun bagi ibu maupun janin, dan merupakan teknik pencitraan pilihan untuk wanita hamil.[63] Radiografi proyeksi, CT scan, dan pencitraan kedokteran nuklir mengakibatkan beberapa tingkat paparan radiasi pengion, tetapi pada sebagian besar kasus dosis serapnya tidak berkaitan dengan bahaya bagi bayi.[63] Pada dosis atau frekuensi yang lebih tinggi, dampaknya dapat meliputi keguguran, cacat bawaan, dan disabilitas intelektual.[63]

Garis waktu

[sunting | sunting sumber]
Perbandingan sistem penanggalan untuk kehamilan yang umum
Peristiwa Usia gestasi

(dari awal hari pertama haid terakhir)

Usia pembuahan Usia implantasi
Masa haid dimulai Hari ke-1 kehamilan Tidak hamil Tidak hamil
Melakukan hubungan seksual dan berovulasi Hamil 2 minggu Tidak hamil Tidak hamil
Pembuahan; tahap pembelahan dimulai[64] Hari ke-15[64] Hari ke-1[64][65] Tidak hamil
Implantasi blastosista dimulai Hari ke-20 Hari ke-6[64][65] Hari ke-0
Implantasi selesai Hari ke-26 Hari ke-12[64][65] Hari ke-6 (atau Hari ke-0)
Tahap embrio dimulai; juga, terlambat haid pertama 4 minggu Hari ke-15[64] Hari ke-9
Fungsi jantung primitif dapat dideteksi 5 minggu, 5 hari[64] Hari ke-26[64] Hari ke-20
Tahap janin dimulai 10 minggu, 1 hari[64] 8 minggu, 1 hari[64] 7 minggu, 2 hari
Trimester pertama berakhir 13 minggu 11 minggu 10 minggu
Trimester kedua berakhir 26 minggu 24 minggu 23 minggu
Persalinan 39โ€“40 minggu 37โ€“38 minggu[65]:108 36โ€“37 minggu

Kronologi kehamilan, kecuali dinyatakan lain, umumnya dinyatakan sebagai usia gestasi, di mana titik awalnya adalah hari pertama haid terakhir (HPHT) wanita tersebut, atau usia kehamilan terkait yang diperkirakan dengan metode yang lebih akurat jika tersedia. Model ini berarti wanita tersebut dihitung "hamil" dua minggu sebelum pembuahan dan tiga minggu sebelum implantasi. Terkadang, penentuan waktu juga dapat menggunakan usia pembuahan, yaitu usia embrio sejak saat pembuahan.

Awal usia gestasi

[sunting | sunting sumber]

American Congress of Obstetricians and Gynecologists merekomendasikan metode-metode berikut untuk menghitung usia gestasi:[66]

  • Menghitung secara langsung jumlah hari sejak awal hari pertama haid terakhir.
  • USG obstetri awal, membandingkan ukuran embrio atau janin dengan kelompok rujukan kehamilan yang usia gestasinya diketahui (seperti yang dihitung dari hari pertama haid terakhir), dan menggunakan rata-rata usia gestasi embrio atau janin lain yang ukurannya sama. Jika usia gestasi yang dihitung dari USG awal bertentangan dengan yang dihitung langsung dari hari pertama haid terakhir, perhitungan dari USG awal lah yang akan tetap digunakan selama sisa kehamilan tersebut.[66]
  • Dalam kasus fertilisasi in vitro (bayi tabung), menghitung jumlah hari sejak pengambilan oosit atau ko-inkubasi lalu menambahkan 14 hari.[67]

Trimester

[sunting | sunting sumber]

Kehamilan dibagi menjadi tiga trimester, yang masing-masing berlangsung selama kurang lebih tiga bulan.[4] Panjang pasti setiap trimester dapat bervariasi antar sumber.

  • Trimester pertama dimulai pada awal usia gestasi seperti yang dijelaskan di atas, yaitu, awal minggu ke-1, atau 0 minggu + 0 hari usia gestasi (UG). Trimester ini berakhir pada minggu ke-12 (11 minggu + 6 hari UG)[4] atau akhir minggu ke-14 (13 minggu + 6 hari UG).[68]
  • Trimester kedua didefinisikan dimulai antara awal minggu ke-13 (12 minggu + 0 hari UG)[4] dan awal minggu ke-15 (14 minggu + 0 hari UG).[68] Trimester ini berakhir pada akhir minggu ke-27 (26 minggu + 6 hari UG)[68] atau akhir minggu ke-28 (27 minggu + 6 hari UG).[4]
  • Trimester ketiga didefinisikan dimulai antara awal minggu ke-28 (27 minggu + 0 hari UG)[68] atau awal minggu ke-29 (28 minggu + 0 hari UG).[4] Trimester ini berlangsung hingga persalinan.
๐Ÿ‘ Image
Garis waktu kehamilan, yang mencakup (dari atas ke bawah): Trimester, perkembangan embrio/janin, usia gestasi dalam minggu dan bulan, serta tahap viabilitas dan kematangan

Perkiraan hari lahir

[sunting | sunting sumber]
๐Ÿ‘ Image
Distribusi usia gestasi pada persalinan di antara kelahiran hidup tunggal, yang disajikan baik ketika usia gestasi diperkirakan melalui USG trimester pertama maupun secara langsung melalui hari pertama haid terakhir.[69] Sekitar 80% persalinan terjadi antara usia gestasi 37 hingga 41 minggu.

Perkiraan hari lahir pada dasarnya mengikuti dua langkah:

  • Menentukan titik waktu mana yang akan digunakan sebagai titik awal bagi usia gestasi, seperti yang dijelaskan pada bagian di atas.
  • Menambahkan perkiraan usia gestasi saat persalinan pada titik waktu di atas. Persalinan rata-rata terjadi pada usia gestasi 280 hari (40 minggu), yang karenanya sering digunakan sebagai standar perkiraan untuk kehamilan individu.[70] Namun, durasi alternatif serta metode yang lebih individualistis juga telah diusulkan.

American College of Obstetricians and Gynecologists membagi cukup bulan (aterm) ke dalam tiga kategori:[71]

  • Cukup bulan awal (early-term): 37 minggu dan 0 hari hingga 38 minggu dan 6 hari
  • Cukup bulan penuh (full-term): 39 minggu dan 0 hari hingga 40 minggu dan 6 hari
  • Cukup bulan akhir (late-term): 41 minggu dan 0 hari hingga 41 minggu dan 6 hari
  • Lewat waktu (post-term): lebih dari atau sama dengan 42 minggu dan 0 hari

Aturan Naegele adalah cara standar untuk menghitung perkiraan hari lahir untuk kehamilan dengan asumsi usia gestasi 280 hari saat persalinan. Aturan ini memperkirakan hari perkiraan lahir (HPL) dengan menambahkan satu tahun, mengurangi tiga bulan, dan menambahkan tujuh hari pada titik awal usia gestasi. Sebagai alternatif, terdapat aplikasi seluler yang pada dasarnya selalu memberikan perkiraan yang konsisten satu sama lain dan mengoreksi untuk tahun kabisat, sementara cakram kehamilan yang terbuat dari kertas dapat memiliki selisih hingga 7 hari dari satu sama lain dan umumnya tidak mengoreksi untuk tahun kabisat.[72]

Lebih jauh lagi, persalinan yang sebenarnya hanya memiliki probabilitas tertentu untuk terjadi dalam batas perkiraan hari lahir. Sebuah studi tentang kelahiran hidup tunggal menghasilkan kesimpulan bahwa persalinan memiliki simpangan baku 14 hari ketika usia gestasi diperkirakan oleh USG trimester pertama, dan 16 hari ketika diperkirakan langsung dari hari pertama haid terakhir.[69]

Fisiologi

[sunting | sunting sumber]

Kapasitas

[sunting | sunting sumber]

Fertilitas (kesuburan) dan fekunditas masing-masing adalah kapasitas untuk membuahi dan membentuk kehamilan klinis serta menghasilkan kelahiran hidup. Infertilitas adalah gangguan kemampuan untuk membentuk kehamilan klinis dan sterilitas adalah ketidakmampuan permanen untuk membentuk kehamilan klinis.[73]

Kapasitas untuk hamil bergantung pada sistem reproduksi, perkembangannya, dan variasinya, serta pada kondisi seseorang. Siapa pun yang memiliki sistem reproduksi wanita yang berfungsi dengan baik, terlepas dari identitas interseks atau transgender, memiliki kapasitas untuk hamil.

Sebagian orang tidak mampu hamil, bahkan dengan teknologi reproduksi berbantu tingkat lanjut. Dalam beberapa kasus, seseorang mungkin menghasilkan sel telur yang viabel, tetapi mungkin tidak memiliki rahim atau tidak memiliki rahim yang cukup mampu melakukan gestasi, yang dalam hal ini mereka tidak akan dapat hamil atau mempertahankan kehamilannya. Ibu pengganti (surogasi) menjadi satu-satunya pilihan mereka untuk memiliki anak genetik.[74]

๐Ÿ‘ Image
Pembuahan dan implantasi pada manusia

Melalui interaksi hormon yang meliputi hormon perangsang folikel yang merangsang folikulogenesis, serta oogenesis yang menghasilkan sel telur matang, terbentuklah gamet betina. Pembuahan adalah peristiwa di mana sel telur menyatu dengan gamet jantan, spermatozoa. Setelah titik pembuahan, produk penyatuan gamet betina dan jantan ini disebut sebagai zigot atau sel telur yang telah dibuahi. Penyatuan gamet betina dan jantan biasanya terjadi setelah tindakan hubungan seksual. Tingkat kehamilan untuk hubungan seksual berada pada puncaknya selama masa siklus menstruasi dari sekitar 5 hari sebelum hingga 1 sampai 2 hari setelah ovulasi.[75] Pembuahan juga dapat terjadi melalui prosedur teknologi reproduksi berbantu seperti inseminasi buatan dan fertilisasi in vitro.

Pembuahan (konsepsi) terkadang digunakan sebagai titik awal kehamilan, dengan usia yang dihitung darinya disebut sebagai usia pembuahan. Pembuahan biasanya terjadi sekitar dua minggu sebelum masa haid yang diperkirakan berikutnya.

Titik waktu ketiga juga dianggap oleh sebagian orang sebagai awal mula kehamilan yang sebenarnya: Titik ini adalah waktu implantasi, ketika calon janin menempel pada lapisan rahim. Hal ini terjadi sekitar satu minggu hingga sepuluh hari setelah pembuahan.[76]

Perkembangan embrio dan janin

[sunting | sunting sumber]
๐Ÿ‘ Image
Tahapan awal perkembangan embrio manusia

Sperma dan sel telur, yang telah dilepaskan dari salah satu dari dua ovarium wanita, menyatu di dalam salah satu dari dua tuba fallopi. Sel telur yang telah dibuahi, yang dikenal sebagai zigot, kemudian bergerak menuju rahim, sebuah perjalanan yang dapat memakan waktu hingga satu minggu untuk diselesaikan. Pembelahan sel dimulai sekitar 24 hingga 36 jam setelah sel betina dan jantan menyatu. Pembelahan sel terus berlanjut dengan laju yang cepat dan sel-sel tersebut kemudian berkembang menjadi apa yang dikenal sebagai blastosista. Blastosista tiba di rahim dan menempel pada dinding rahim, suatu proses yang dikenal sebagai implantasi.

Perkembangan massa sel yang akan menjadi bayi disebut embriogenesis yang berlangsung selama sekitar sepuluh minggu pertama gestasi. Selama masa ini, sel-sel mulai berdiferensiasi menjadi berbagai sistem tubuh. Garis besar dasar dari sistem organ, tubuh, dan saraf mulai terbentuk. Menjelang akhir tahap embrionik, awal mula ciri-ciri fisik seperti jari tangan, mata, mulut, dan telinga mulai terlihat. Selain itu, pada masa ini juga terjadi perkembangan struktur-struktur yang penting untuk mendukung embrio, termasuk plasenta dan tali pusar. Plasenta menghubungkan embrio yang sedang berkembang ke dinding rahim untuk memungkinkan penyerapan nutrisi, pembuangan limbah, dan pertukaran gas melalui suplai darah ibu. Tali pusar adalah tali penghubung dari embrio atau janin ke plasenta.

Setelah usia gestasi sekitar sepuluh mingguโ€”yang sama dengan delapan minggu setelah pembuahanโ€”embrio mulai dikenal sebagai janin.[77] Pada awal tahap janin, risiko keguguran menurun tajam.[78] Pada tahap ini, janin memiliki panjang sekitar 30mm (1,2 inci), detak jantungnya dapat dilihat melalui USG, dan janin melakukan gerakan-gerakan tak sadar.[79] Selama perkembangan janin yang berkelanjutan, sistem tubuh awal dan struktur yang telah terbentuk pada tahap embrionik terus berkembang. Organ kelamin mulai muncul pada bulan ketiga masa kehamilan. Janin terus tumbuh baik dalam berat maupun panjang tubuhnya, meskipun sebagian besar pertumbuhan fisiknya terjadi pada minggu-minggu terakhir kehamilan.

Aktivitas listrik otak pertama kali terdeteksi pada akhir minggu ke-5 kehamilan, tetapi seperti pada pasien mati otak, hal itu merupakan aktivitas saraf primitif dan bukan awal dari aktivitas otak sadar. Sinapsis belum mulai terbentuk hingga minggu ke-17.[80] Koneksi saraf antara korteks sensorik dan talamus berkembang seawal usia gestasi 24 minggu, tetapi bukti pertama berfungsinya koneksi tersebut tidak terjadi hingga sekitar 30 minggu, yaitu ketika kesadaran minimal, bermimpi, dan kemampuan untuk merasakan sakit mulai muncul.[81]

Meskipun janin mulai bergerak selama trimester pertama, baru pada trimester kedua pergerakan tersebut, yang dikenal sebagai quickening, dapat dirasakan. Hal ini umumnya terjadi pada bulan keempat, lebih tepatnya pada minggu ke-20 hingga ke-21, atau menjelang minggu ke-19 jika wanita tersebut pernah hamil sebelumnya. Merupakan hal yang wajar jika sebagian wanita tidak merasakan janinnya bergerak hingga waktu yang jauh lebih lambat. Selama trimester kedua, seiring dengan berubahnya ukuran tubuh, pakaian hamil mungkin mulai dikenakan.

Perubahan pada ibu

[sunting | sunting sumber]
๐Ÿ‘ Image
Rahim membesar dan menempati porsi abdomen yang semakin besar. Selama tahap akhir kehamilan, rahim dapat turun ke posisi yang lebih rendah.
๐Ÿ‘ Image
Perubahan payudara yang terlihat selama kehamilan. Areola menjadi lebih besar dan lebih gelap.

Selama kehamilan, seorang wanita mengalami banyak perubahan fisiologis yang normal, termasuk perubahan perilaku, kardiovaskular, hematologi, metabolisme, ginjal, dan pernapasan. Peningkatan gula darah, pernapasan, dan curah jantung semuanya diperlukan. Kadar progesteron dan estrogen meningkat secara terus-menerus di sepanjang kehamilan, menekan aksis hipotalamus dan karenanya menghentikan siklus menstruasi. Kehamilan cukup bulan pada usia dini (kurang dari 25 tahun) mengurangi risiko kanker payudara, kanker ovarium, dan kanker endometrium, dan risikonya semakin menurun dengan setiap tambahan kehamilan cukup bulan.[82][83]

๐Ÿ‘ Image
Akhir trimester kedua + 2 minggu (usia kehamilan 26 minggu)

Janin secara genetik berbeda dari ibunya dan oleh karena itu dapat dipandang sebagai alograf yang luar biasa sukses.[84] Alasan utama dari kesuksesan ini adalah peningkatan toleransi imun selama kehamilan,[85] yang mencegah tubuh ibu melancarkan respons sistem imun terhadap pemicu-pemicu tertentu.[84] Suntikan Globulin imun Rho(D) direkomendasikan bagi wanita dengan darah RhD negatif yang mengandung janin RhD positif sebagai langkah pencegahan terhadap penyakit rhesus.[86]

Selama trimester pertama, ventilasi semenit meningkat sebesar 40 persen.[87] Rahim akan membesar hingga seukuran lemon pada usia delapan minggu. Banyak gejala dan ketidaknyamanan kehamilan, seperti mual dan payudara sensitif, muncul pada trimester pertama.[88] Kontraksi Braxton Hicks adalah kontraksi rahim sporadis yang dapat dimulai pada sekitar minggu keenam kehamilan tetapi biasanya belum terasa hingga trimester kedua atau ketiga.[89]

Wanita hamil memiliki total volume darah yang lebih tinggi yang terus meningkat di sepanjang durasi kehamilan.[90] Pada trimester ketigalah aktivitas dan posisi tidur ibu dapat memengaruhi perkembangan janin akibat terhambatnya aliran darah. Sebagai contoh, rahim yang membesar dapat menghambat aliran darah dengan menekan vena kava ketika berbaring telentang, suatu kondisi yang dapat diredakan dengan berbaring miring ke kiri.[91]

Sebagian besar penambahan berat badan terjadi selama trimester ketiga. Pusar wanita hamil mungkin menjadi cembung (menonjol keluar) pada masa ini. Perutnya akan membesar dan berubah bentuk seiring janin yang berputar ke posisi menghadap ke bawah saat mendekati persalinan.[92] Penurunan kepala (head engagement), yang juga disebut "lightening" atau "dropping", terjadi ketika kepala janin turun ke dalam presentasi sefalik. Meskipun hal ini mengurangi tekanan pada perut bagian atas dan memberikan kemudahan baru dalam bernapas, hal ini juga sangat mengurangi kapasitas kandung kemih, yang mengakibatkan kebutuhan untuk lebih sering buang air kecil, serta meningkatkan tekanan pada dasar panggul dan rektum. Tidak mungkin untuk memprediksi kapan penurunan kepala akan terjadi. Pada kehamilan pertama, hal ini mungkin terjadi beberapa minggu sebelum hari perkiraan lahir, meskipun bisa juga terjadi lebih lambat atau bahkan baru terjadi saat proses persalinan dimulai, seperti yang biasa terjadi pada kehamilan-kehamilan berikutnya.[93]

Persalinan

[sunting | sunting sumber]

Persalinan, yang disebut sebagai persalinan dan pelahiran dalam bidang medis, adalah proses di mana seorang bayi dilahirkan.[58]

Seorang wanita dianggap sedang dalam proses persalinan ketika ia mulai mengalami kontraksi rahim yang teratur, disertai dengan perubahan pada serviksnyaโ€”terutama penipisan dan pelebaran. Meskipun persalinan secara luas dialami sebagai sesuatu yang menyakitkan, beberapa wanita melaporkan persalinan tanpa rasa sakit, sementara yang lain mendapati bahwa berkonsentrasi pada kelahiran membantu mempercepat persalinan dan mengurangi sensasi rasa sakitnya. Sebagian besar kelahiran adalah kelahiran pervaginam yang sukses, tetapi terkadang komplikasi muncul dan seorang wanita mungkin harus menjalani bedah sesar.

Selama waktu segera setelah kelahiran, baik ibu maupun bayi secara hormonal terdorong untuk menjalin ikatan, sang ibu melalui pelepasan oksitosin, sebuah hormon yang juga dilepaskan selama menyusui. Berbagai studi menunjukkan bahwa kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayinya yang baru lahir segera setelah kelahiran bermanfaat bagi ibu maupun bayinya. Sebuah tinjauan yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia menemukan bahwa kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi setelah kelahiran mengurangi tangisan bayi, meningkatkan interaksi ibu-bayi, dan membantu para ibu untuk berhasil menyusui. Mereka merekomendasikan agar bayi baru lahir dibiarkan menjalin ikatan dengan sang ibu selama dua jam pertama setelah kelahiran, periode di mana mereka cenderung lebih waspada dibandingkan jam-jam berikutnya pada awal kehidupannya.[94]

Tahap kematangan persalinan

[sunting | sunting sumber]
Tahapan usia kehamilan
tahapmulaiberakhir
Prematur[95]-pada 37 minggu
Aterm awal[96]37 minggu39 minggu
Aterm penuh[96]39 minggu41 minggu
Aterm akhir[96]41 minggu42 minggu
Postterm[96]42 minggu-

Pada persalinan yang ideal, proses persalinan dimulai dengan sendirinya ketika seorang wanita telah mencapai usia kandungan "aterm" (cukup bulan).[16] Persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu dianggap sebagai prematur.[95] Kelahiran prematur dikaitkan dengan berbagai komplikasi dan sebisa mungkin harus dihindari.[97]

Terkadang, jika ketuban pecah atau seorang wanita mengalami kontraksi sebelum 39 minggu, kelahiran tidak dapat dihindari.[96] Namun, kelahiran spontan setelah 37 minggu dianggap cukup bulan (aterm) dan tidak dikaitkan dengan risiko yang sama seperti kelahiran prematur.[58] Kelahiran yang direncanakan sebelum usia 39 minggu melalui bedah sesar atau induksi persalinan, meskipun sudah "aterm", dapat meningkatkan risiko komplikasi.[98] Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk paru-paru bayi baru lahir yang belum berkembang sempurna, infeksi akibat sistem kekebalan tubuh yang belum matang, masalah menyusui karena otak yang belum berkembang, dan penyakit kuning akibat organ hati yang belum matang.[99]

Bayi yang lahir antara usia kehamilan 39 hingga 41 minggu memiliki hasil kesehatan yang lebih baik dibandingkan bayi yang lahir sebelum atau sesudah rentang waktu tersebut.[96] Periode waktu khusus ini disebut "aterm penuh".[96] Bila memungkinkan, menunggu persalinan dimulai dengan sendirinya pada periode ini adalah yang terbaik bagi kesehatan ibu dan bayi.[16] Keputusan untuk melakukan induksi harus dibuat setelah menimbang risiko dan manfaatnya, namun akan lebih aman jika dilakukan setelah 39 minggu.[16]

Kehamilan yang berlanjut setelah usia 42 minggu dianggap sebagai postterm.[96] Ketika kehamilan melebihi 42 minggu, risiko komplikasi bagi ibu maupun janin meningkat secara signifikan.[100][101] Oleh karena itu, pada kehamilan yang normal dan tanpa komplikasi, dokter kandungan biasanya lebih memilih untuk menginduksi persalinan pada rentang usia 41 hingga 42 minggu.[102]

Periode pascanatal

[sunting | sunting sumber]

Periode postpartum, yang juga dikenal sebagai puerperium, adalah periode pascanatal yang dimulai segera setelah persalinan dan berlangsung selama sekitar enam minggu.[58] Selama masa ini, tubuh ibu mulai kembali ke kondisi sebelum hamil yang mencakup perubahan pada kadar hormon dan ukuran rahim.[58]

Penatalaksanaan

[sunting | sunting sumber]
๐Ÿ‘ Infografik yang menunjukkan bagan alir menuju tiga diagram, masing-masing menampilkan dua sosok manusia yang menggambarkan usia kehamilan yang berbeda, dengan kisi-kisi yang menunjukkan batas berat untuk berbagai lokasi di depan tubuh
Bagan alir yang menunjukkan batas berat yang direkomendasikan untuk mengangkat beban di tempat kerja selama kehamilan sebagai fungsi dari frekuensi pengangkatan, usia kehamilan, dan posisi benda yang diangkat relatif terhadap tubuh pengangkat.[103][104]

Perawatan prenatal

[sunting | sunting sumber]

Konseling prakonsepsi adalah perawatan yang diberikan kepada wanita atau pasangan untuk mendiskusikan pembuahan, kehamilan, masalah kesehatan saat ini, serta rekomendasi untuk masa sebelum kehamilan.[105]

Perawatan medis prenatal adalah perawatan medis dan keperawatan yang direkomendasikan bagi wanita selama kehamilan; interval waktu dan tujuan pasti dari setiap kunjungan berbeda-beda di tiap negara.[106] Wanita dengan risiko tinggi memiliki hasil kesehatan yang lebih baik jika mereka diperiksa secara teratur dan sering oleh tenaga medis profesional dibandingkan dengan wanita berisiko rendah.[107] Seorang wanita dapat dikategorikan sebagai risiko tinggi karena berbagai alasan termasuk riwayat komplikasi pada kehamilan sebelumnya, komplikasi pada kehamilan saat ini, penyakit medis yang sedang diderita, atau masalah sosial.[108][109]

Tujuan dari perawatan prenatal yang baik adalah pencegahan, identifikasi dini, dan penanganan terhadap segala komplikasi medis.[110] Kunjungan prenatal dasar meliputi pengukuran tekanan darah, tinggi fundus, berat badan dan detak jantung janin, pemeriksaan gejala-gejala persalinan, serta panduan mengenai apa yang dapat diharapkan selanjutnya.[105] Penyedia layanan kesehatan mungkin melakukan penapisan untuk kekerasan dalam rumah tangga selama kehamilan, khususnya dalam hal pemaksaan reproduksi.[111]

Nutrisi selama kehamilan penting untuk memastikan pertumbuhan janin yang sehat.[15] Kebutuhan nutrisi saat hamil berbeda dengan keadaan tidak hamil.[15] Terdapat peningkatan kebutuhan energi dan kebutuhan mikronutrien tertentu.[15] Para wanita memetik manfaat dari pendidikan kesehatan untuk mendorong asupan energi dan protein yang seimbang selama kehamilan.[112] Sebagian wanita mungkin memerlukan nasihat medis profesional apabila pola makan mereka dipengaruhi oleh kondisi medis, alergi makanan, atau keyakinan agama maupun etika tertentu.[113] Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menilai pengaruh anjuran pola makan dalam mencegah diabetes gestasional, meskipun bukti dengan kualitas rendah menunjukkan adanya beberapa manfaat.[114] Asupan asam folat (juga disebut folat atau Vitamin B9) perikonsepsi (masa sebelum dan tepat setelah pembuahan) yang memadai telah terbukti menurunkan risiko cacat tabung saraf janin, seperti spina bifida.[115] L-metilfolat, bentuk folat yang bioavailabel, juga dianggap dapat diterima untuk dikonsumsi. L-metilfolat paling baik digunakan oleh 40% hingga 60% populasi yang memiliki polimorfisme genetik yang mengurangi atau merusak konversi asam folat menjadi bentuk aktifnya.[116] Tabung saraf berkembang selama 28 hari pertama kehamilan, dan tes kehamilan melalui urine biasanya tidak menunjukkan hasil positif hingga 14 hari pascapembuahan, hal ini menjelaskan pentingnya menjamin asupan folat yang memadai sebelum pembuahan.[57][117] Folat banyak terdapat pada sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, dan jeruk.[118] Di Amerika Serikat dan Kanada, sebagian besar produk gandum (tepung, mi) telah diperkaya dengan asam folat.[119]

terjemahkan teks wikipedia di bawah ke bahasa Indonesia dengan natural hingga tidak seperti terjemahan mesin, gunakan bahasa yang ensiklopedis, pertahankan struktur markah wiki dan referensi, terjemahkan semua teks dalam link target dan label label, tampilkan hasilnya dalam kode sumber, jangan respon teks tambahan lain seperti elaborasi:

Weight gain

[sunting | sunting sumber]
๐Ÿ‘ Weight gain during pregnancy
Measurement of the belly being performed by a pregnant woman during her pregnancy

The amount of healthy weight gain during a pregnancy varies.[120] Weight gain is related to the weight of the baby, the placenta, extra circulatory fluid, larger tissues, and fat and protein stores.[15] Most needed weight gain occurs later in pregnancy.[121]

The Institute of Medicine recommends an overall pregnancy weight gain for those of normal weight (body mass index of 18.5โ€“24.9), of 11.3โ€“15.9kg (25โ€“35 pounds) having a singleton pregnancy.[122] Women who are underweight (BMI of less than 18.5), should gain between 12.7 and 18kg (28โ€“40lb), while those who are overweight (BMI of 25โ€“29.9) are advised to gain between 6.8 and 11.3kg (15โ€“25lb) and those who are obese (BMIโ‰ฅ30) should gain between 5โ€“9kg (11โ€“20lb).[123] These values reference the expectations for a term pregnancy.

During pregnancy, insufficient or excessive weight gain can compromise the health of the mother and fetus.[121] The most effective intervention for weight gain in underweight women is not clear.[121] Being or becoming overweight in pregnancy increases the risk of complications for mother and fetus, including cesarean section, gestational hypertension, pre-eclampsia, macrosomia and shoulder dystocia.[120] Excessive weight gain can make losing weight after the pregnancy difficult.[120][124] Some of these complications are risk factors for stroke.[125]

Around 50% of women of childbearing age in developed countries like the United Kingdom are overweight or obese before pregnancy.[124] Diet modification is the most effective way to reduce weight gain and associated risks in pregnancy.[124]

Medication

[sunting | sunting sumber]

Drugs used during pregnancy can have temporary or permanent effects on the fetus.[126] Anything (including drugs) that can cause permanent deformities in the fetus are labeled as teratogens.[127] In the U.S., drugs were classified into categories A, B, C, D and X based on the Food and Drug Administration (FDA) rating system to provide therapeutic guidance based on potential benefits and fetal risks.[128] Drugs, including some multivitamins, that have demonstrated no fetal risks after controlled studies in humans are classified as Category A.[126] On the other hand, drugs like thalidomide with proven fetal risks that outweigh all benefits are classified as Category X.[126]

Recreational drugs

[sunting | sunting sumber]

The use of recreational drugs in pregnancy can cause various pregnancy complications.[58]

Paparan racun

[sunting | sunting sumber]
Sebuah video yang menjelaskan penelitian mengenai penggunaan respirator N95 selama kehamilan lanjut

Paparan intrauterin terhadap racun lingkungan dalam kehamilan berpotensi menyebabkan efek buruk pada perkembangan pralahir, dan menyebabkan komplikasi kehamilan.[58] Polusi udara telah dikaitkan dengan bayi berat lahir rendah.[135] Kondisi yang sangat parah pada kehamilan meliputi keracunan raksa dan keracunan timbal.[58] Untuk meminimalkan paparan racun lingkungan, American College of Nurse-Midwives merekomendasikan: memeriksa apakah rumah memiliki cat timbal, mencuci bersih semua buah dan sayuran segar serta membeli produk organik, dan menghindari produk pembersih berlabel "beracun" atau produk apa pun yang memiliki peringatan pada labelnya.[136]

Ibu hamil juga dapat terpapar racun di tempat kerja, termasuk partikel di udara. Efek penggunaan respirator penutup wajah penyaring N95 serupa antara wanita hamil dan wanita yang tidak hamil, dan pemakaian respirator selama satu jam tidak memengaruhi detak jantung janin.[137]

Kematian akibat kekerasan

[sunting | sunting sumber]

Ibu hamil atau mereka yang baru saja melahirkan di Amerika Serikat lebih mungkin menjadi korban pembunuhan daripada meninggal karena penyebab obstetrik. Pembunuhan ini merupakan kombinasi dari kekerasan oleh pasangan intim dan senjata api. Otoritas kesehatan menyebut kekerasan ini sebagai "keadaan darurat kesehatan bagi ibu hamil", tetapi menyatakan bahwa pembunuhan terkait kehamilan dapat dicegah jika penyedia layanan kesehatan mengidentifikasi wanita yang berisiko dan menawarkan bantuan kepada mereka.[138][139][140]

Aktivitas seksual

[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar wanita dapat terus melakukan aktivitas seksual, termasuk hubungan seksual, di sepanjang kehamilan.[141] Penelitian menunjukkan bahwa selama kehamilan, baik hasrat seksual maupun frekuensi hubungan seksual menurun pada trimester pertama dan ketiga, dengan peningkatan pada trimester kedua.[142][143][144][145] Seks selama kehamilan berisiko rendah, kecuali jika penyedia layanan kesehatan menyarankan agar hubungan seksual dihindari karena alasan medis tertentu.[141] Bagi ibu hamil yang sehat, tidak ada satu pun cara yang pasti aman atau mutlak benar untuk berhubungan seks selama kehamilan.[141]

Latihan fisik

[sunting | sunting sumber]
๐Ÿ‘ Image
Seorang ibu hamil dan rekannya kembali dari memancing, di jembatan Sungai Gurara, Kachia, Nigeria

Latihan aerobik yang teratur selama kehamilan tampak meningkatkan (atau mempertahankan) kebugaran fisik.[146] Latihan fisik selama kehamilan tampaknya menurunkan kebutuhan akan bedah sesar[147] dan mengurangi waktu persalinan,[148] dan bahkan latihan berat tidak membawa risiko yang signifikan bagi bayi[149] sekaligus memberikan manfaat kesehatan yang signifikan bagi ibu. Penelitian menunjukkan bahwa melakukan latihan kekuatan dan intensitas sedang hingga ringan saat hamil tidak membahayakan sistem kardiovaskular ibu dan dapat membatasi penambahan berat badan yang berlebihan.[150]Templat:Additional citation needed

The American College of Sports Medicine merekomendasikan ibu hamil untuk berpartisipasi setidaknya 150 menit/minggu dalam latihan sedang.[151] Bentuk-bentuk latihan fisik ini harus menghindari angkat beban berat, suhu panas, dan olahraga berdampak tinggi. Komite Praktik Klinis Kebidanan Kanada merekomendasikan bahwa "Semua wanita tanpa kontraindikasi harus didorong untuk berpartisipasi dalam latihan aerobik dan pengondisian kekuatan sebagai bagian dari gaya hidup sehat selama kehamilan mereka".[152] Meskipun batas atas intensitas olahraga yang aman belum ditetapkan, wanita yang rutin berolahraga sebelum hamil dan memiliki kehamilan tanpa komplikasi seharusnya dapat mengikuti program olahraga berintensitas tinggi tanpa risiko prematuritas, berat badan lahir rendah, atau penambahan berat badan gestasional yang lebih tinggi.[149] Secara umum, partisipasi dalam berbagai aktivitas rekreasi tampak aman, dengan menghindari aktivitas yang berisiko tinggi jatuh seperti menunggang kuda atau bermain ski, maupun aktivitas yang membawa risiko trauma perut, seperti sepak bola atau hoki.[153]

Tirah baring, di luar studi penelitian, tidak disarankan karena terdapat potensi bahaya dan tidak ada bukti manfaatnya.[154]

==== Latihan intensitas tinggi ====Selama kehamilan, wanita dapat mengalami hilangnya stabilitas postur, inkontinensia panggul, nyeri punggung, dan kelelahan, di antara gejala-gejala lainnya.[butuh rujukan] Latihan ketahanan telah terbukti mengurangi gejala kehamilan dan mengurangi komplikasi pascapersalinan.[butuh rujukan] Asalkan wanita juga secara teratur berpartisipasi dalam latihan berdampak rendah, latihan kekuatan dapat memperbaiki tingkat keparahan nyeri gelang panggul pascapersalinan.[155] Ketika menggabungkan latihan yang berfokus pada kekuatan otot panggul, latihan tersebut dapat membantu mengurangi nyeri dan inkontinensia urine stres.[155]

Melakukan olahraga dan aktivitas fisik secara teratur telah terbukti bermanfaat selama kehamilan. Sesi akut latihan interval intensitas tinggi dapat membantu menurunkan risiko komplikasi kesehatan yang terkait dengan kehamilan, mempertahankan persentase lemak tubuh yang sehat selama kehamilan, serta meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.[156] Ibu hamil yang berpartisipasi dalam latihan interval intensitas tinggi telah terbukti mengalami perbaikan fisik dalam komposisi tubuh setelah intervensi serta menunjukkan peningkatan umum dalam kebugaran kardiorespirasi dan toleransi latihan.[157] Mengikuti gaya latihan ini, mirip dengan latihan berkelanjutan intensitas sedang, juga telah terbukti meningkatkan respons glikemik dan sensitivitas insulin.[158] Terdapat masalah spesifik yang harus dihindari saat berolahraga selama kehamilan seperti kepanasan (overheating), risiko jatuh, dan berada dalam posisi telentang untuk jangka waktu yang lama. Individu yang tidak berpengalaman dan baru mengenal latihan interval intensitas tinggi berpotensi meningkatkan risiko mereka terhadap kondisi negatif yang terkait dengan hipertensi, seperti preeklamsia.[159]

Disarankan agar kerja sif dan paparan cahaya terang di malam hari harus dihindari setidaknya selama trimester terakhir kehamilan untuk menurunkan risiko masalah psikologis dan perilaku pada bayi baru lahir.[160]

Peningkatan stres ibu selama kehamilan secara konsisten dikaitkan dengan perubahan dalam perkembangan otak janin dan bayi serta peningkatan risiko masalah kesehatan mental di kemudian hari ("psikopatologi"). Kesengsaraan pralahir (misalnya stres ibu yang tinggi serta gejala depresi dan gejala kecemasan selama kehamilan) secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko psikopatologi pada anak. Oleh karena itu, stres ibu selama kehamilan diperkirakan memengaruhi perkembangan otak janin dan dengan demikian berkontribusi pada peningkatan kerentanan terhadap psikopatologi di kemudian hari.[161]

Penelitian menunjukkan bahwa stres pralahir secara mendasar dapat mengubah arsitektur fisik otak (volume keseluruhan yang lebih kecil, perubahan penipisan kortikal, konektivitas fungsional, ...), yang mengarah pada pengurangan volume dan melemahnya konektivitas di area yang penting untuk pemrosesan dan regulasi emosi, serta pembelajaran dan memori. Sebaliknya, intervensi yang berfokus pada pengasuhan dan kualitas pengasuhan alami yang lebih tinggi juga telah dikaitkan dengan dampak positif pada struktur otak. Penelitian pada hewan lebih lanjut menunjukkan bahwa peningkatan perawatan ibu atau lingkungan yang diperkaya dapat membalikkan efek dari kesengsaraan pralahir di tingkat seluler, mendukung plausibilitas biologis dari proses serupa pada manusia.[161] Anak-anak dari wanita yang mengalami tingkat stres tinggi selama kehamilan sedikit lebih mungkin untuk menunjukkan masalah perilaku eksternalisasi, seperti impulsivitas. Efek perilaku ini tampaknya paling nyata selama masa kanak-kanak awal.[157]

Penting untuk dicatat, stres pralahir tidak serta-merta menyebabkan masalah kesehatan mental. Tidak semua anak yang terpapar kesengsaraan pralahir mengalami gangguan kejiwaan. Bukti dari penelitian pada manusia maupun hewan menunjukkan bahwa pengasuhan berkualitas tinggi, stimulasi kognitif dan bahasa, dukungan sosial, dan status sosial ekonomi yang lebih tinggi dapat bertindak sebagai faktor pelindung atau pendukung. Memperbaiki hasil kesehatan bagi anak-anak yang terpapar stres pralahir terutama melibatkan penguatan lingkungan pascanatal awal daripada mencoba untuk menghilangkan semua stres selama kehamilan. Lingkungan yang mendukung di kehidupan pascanatal awal dapat mendorong perkembangan otak dan membantu menormalkan lintasan perkembangan yang diubah oleh stres pralahir, yang menyoroti kualitas pengasuhan, input kognitif dan bahasa, dukungan sosial, dan stabilitas sosial ekonomi sebagai faktor kunci. Pengasuhan berkualitas tinggi secara konsisten diidentifikasi sebagai hal yang sangat penting, di mana penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara stres pralahir dan hasil kesehatan yang buruk tidak terlihat ketika sensitivitas ibu tinggi, dan bahwa pengasuhan yang sensitif dapat mengurangi dampak stres pralahir pada jalur neurokognitif dan neuroendokrin yang terkait dengan psikopatologi di kemudian hari. Di luar hubungan orang tua-anak, sistem dukungan yang lebih luas juga penting: tingkat dukungan sosial dan sumber daya sosial ekonomi yang lebih tinggi dikaitkan dengan perkembangan yang lebih adaptif dan, dalam beberapa konteks, dapat mengurangi efek negatif dari kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah pada hasil neurokognitif. Secara keseluruhan, mendorong pengasuhan yang hangat dan responsif serta memastikan keluarga memiliki dukungan sosial dan material yang memadai selama tahun-tahun awal dapat secara bermakna memperbaiki lintasan perkembangan anak, bahkan ketika stres pralahir telah terjadi.[161]

Stres ekstrem yang disebabkan oleh peristiwa-peristiwa seperti bencana alam, genosida, perbudakan, pemisahan keluarga secara paksa, atau paparan perang jangka panjang diperkirakan menciptakan trauma yang meluas yang mengubah cara manusia berfungsi secara fisik, psikologis, dan sosial, dan perubahan-perubahan ini dapat diwariskan lintas generasi. Penelitian menunjukkan bahwa mengenali stres ibu yang parah sejak dini, selama atau setelah kejadian tersebut, dan memberikan dukungan psikologis yang terstruktur seperti pertolongan pertama psikologis atau terapi perilaku kognitif dapat menurunkan risiko jangka panjang bagi perkembangan anak. Ketika paparan stres sangat tinggi, pemantauan berkelanjutan, dukungan perkembangan dini, dan pengasuhan yang sensitif serta responsif menjadi sangat penting untuk mencegah efek negatif yang bertahan lama.[162][163]

Perawatan gigi

[sunting | sunting sumber]

Peningkatan kadar progesteron dan estrogen selama kehamilan membuat gingivitis (radang gusi) lebih rentan terjadi; gusi menjadi edematosa (bengkak), berwarna merah, dan cenderung mudah berdarah.[164] Selain itu, granuloma piogenik atau "tumor kehamilan", umum terlihat pada permukaan labial papila gusi. Lesi dapat diobati dengan debridemen lokal atau insisi dalam tergantung pada ukurannya, dan dengan mengikuti langkah-langkah kebersihan mulut yang memadai.[165] Terdapat dugaan bahwa periodontitis yang parah dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah; namun, sebuah ulasan Cochrane menemukan bukti yang tidak cukup untuk menentukan apakah periodontitis dapat menyebabkan hasil kelahiran yang buruk.[166]

Penerbangan

[sunting | sunting sumber]

Pada kehamilan berisiko rendah, sebagian besar penyedia layanan kesehatan menyetujui penerbangan hingga usia kehamilan sekitar 36 minggu.[167] Sebagian besar maskapai penerbangan mengizinkan ibu hamil untuk terbang jarak pendek pada usia kehamilan kurang dari 36 minggu, dan jarak jauh pada usia kurang dari 32 minggu.[168] Banyak maskapai penerbangan mewajibkan surat keterangan dokter yang menyetujui penerbangan tersebut, terutama pada usia kehamilan di atas 28 minggu.[168] Selama penerbangan, risiko trombosis vena dalam dapat diturunkan dengan bangun dan berjalan sesekali, serta dengan menghindari dehidrasi. Paparan radiasi kosmik dapat diabaikan bagi sebagian besar pelancong. Bagi ibu hamil, bahkan penerbangan antarbenua terpanjang sekalipun hanya akan memaparkan radiasi kurang dari 15% dari batas yang ditetapkan oleh NCRPM dan ICRP.[169][168] Pemindai seluruh tubuh menggunakan radiasi nonpengion yang tidak menembus tubuh lebih dari 1mm, dan diyakini tidak menimbulkan risiko pada kehamilan.[butuh rujukan]

Kelas kehamilan dan rencana persalinan

[sunting | sunting sumber]

Untuk mempersiapkan kelahiran bayi, penyedia layanan kesehatan merekomendasikan agar orang tua mengikuti kelas antenatal selama trimester ketiga kehamilan. Kelas ini mencakup informasi mengenai proses persalinan dan kelahiran serta berbagai jenis persalinan, termasuk persalinan pervaginam dan persalinan sesar, penggunaan forsep, serta intervensi lain yang mungkin diperlukan untuk melahirkan bayi dengan aman. Berbagai jenis pereda nyeri, termasuk teknik relaksasi, juga ikut dibahas. Pasangan atau orang lain yang mungkin berencana mendampingi wanita tersebut selama masa persalinan dan kelahirannya belajar bagaimana cara membantu proses kelahiran.[butuh rujukan]

Pada masa ini juga disarankan untuk membuat rencana persalinan tertulis. Rencana persalinan adalah pernyataan tertulis yang menguraikan keinginan ibu selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Mendiskusikan rencana persalinan dengan bidan atau penyedia layanan kesehatan lainnya memberi orang tua kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan mempelajari lebih lanjut mengenai proses persalinan.[170]

Pada tahun 1991, WHO meluncurkan Inisiatif Rumah Sakit Sayang Bayi, sebuah program global yang memberikan pengakuan kepada pusat-pusat bersalin dan rumah sakit yang menawarkan tingkat perawatan optimal untuk melahirkan. Fasilitas yang telah tersertifikasi sebagai "Sayang Bayi" (Baby Friendly) menerima kunjungan dari calon orang tua agar mereka dapat mengenal lebih jauh tentang fasilitas dan staf yang ada.[171]

Komplikasi dan penyakit

[sunting | sunting sumber]

Setiap tahunnya, masalah kesehatan akibat kehamilan dialami (terkadang secara permanen) oleh lebih dari 20 juta wanita di seluruh dunia.[172] Pada tahun 2016, komplikasi kehamilan menyebabkan 230.600 kematian, turun dari 377.000 kematian pada tahun 1990.[9] Penyebab umum meliputi perdarahan (72.000), infeksi (20.000), penyakit hipertensi pada kehamilan (32.000), persalinan macet (10.000), dan kehamilan dengan hasil abortif (20.000), yang mencakup keguguran, aborsi, dan kehamilan ektopik.[9]

Berikut ini adalah beberapa contoh komplikasi kehamilan:

Terdapat pula peningkatan kerentanan dan keparahan infeksi tertentu dalam kehamilan.

Keguguran dan lahir mati

[sunting | sunting sumber]

Keguguran adalah komplikasi paling umum pada awal kehamilan. Kondisi ini didefinisikan sebagai hilangnya embrio atau janin sebelum mampu bertahan hidup secara mandiri. Gejala keguguran yang paling umum adalah perdarahan vagina dengan atau tanpa rasa sakit. Keguguran dapat ditandai dengan keluarnya jaringan yang menyerupai gumpalan darah melalui vagina.[178] Sekitar 80% kasus keguguran terjadi pada 12 minggu pertama kehamilan. Penyebab yang mendasari pada sekitar separuh kasus melibatkan kelainan kromosom.[179]

Lahir mati didefinisikan sebagai kematian janin setelah kehamilan 20 atau 28 minggu, bergantung pada sumbernya. Hal ini mengakibatkan bayi lahir tanpa tanda-tanda kehidupan. Setiap tahunnya, sekitar 21.000 bayi lahir mati di Amerika Serikat.[180] Rasa sedih, cemas, dan bersalah dapat muncul setelah terjadinya keguguran atau lahir mati. Dukungan emosional dapat membantu dalam proses menghadapi kehilangan tersebut.[181] Para ayah mungkin juga mengalami kedukaan atas kehilangan tersebut. Sebuah studi besar menemukan adanya kebutuhan untuk meningkatkan aksesibilitas layanan dukungan yang tersedia bagi para ayah.[182]

Penyakit dalam kehamilan

[sunting | sunting sumber]

Seorang ibu hamil mungkin memiliki penyakit penyerta, yang tidak secara langsung disebabkan oleh kehamilan, namun dapat menyebabkan berkembangnya komplikasi yang mencakup potensi risiko pada kehamilan; atau suatu penyakit dapat berkembang selama kehamilan.

Pengendalian kelahiran dan aborsi

[sunting | sunting sumber]

Pengendalian kelahiran dan pendidikan

[sunting | sunting sumber]

Keluarga berencana, serta ketersediaan dan penggunaan kontrasepsi, seiring dengan peningkatan pendidikan seks komprehensif, telah memungkinkan banyak orang untuk mencegah kehamilan ketika tidak diinginkan. Skema dan pendanaan untuk mendukung pendidikan serta sarana untuk mencegah kehamilan ketika tidak direncanakan telah memainkan peranan penting dan merupakan bagian dari poin ketiga dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang diajukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.[187]

Aborsi adalah pengakhiran embrio atau janin melalui metode medis. Tindakan ini biasanya dilakukan pada trimester pertama, terkadang pada trimester kedua, dan jarang terjadi pada trimester ketiga. Alasan dari kehamilan yang tidak diinginkan sangatlah luas.[188] Banyak yurisdiksi yang membatasi atau melarang aborsi, dengan pemerkosaan sebagai pengecualian yang paling banyak diizinkan secara hukum.[189]

Teknologi reproduksi berbantuan

[sunting | sunting sumber]

Kedokteran reproduksi modern menawarkan berbagai bentuk teknologi reproduksi berbantuan bagi pasangan yang tetap tidak memiliki anak di luar keinginan mereka, seperti obat kesuburan, inseminasi buatan, fertilisasi in vitro, dan ibu pengganti.

Masyarakat dan budaya

[sunting | sunting sumber]

Perlindungan hukum

[sunting | sunting sumber]

Banyak negara memiliki berbagai peraturan hukum untuk melindungi ibu hamil dan anak-anak mereka. Banyak negara pula yang memiliki undang-undang yang melarang diskriminasi kehamilan.[190]

Konvensi Perlindungan Maternitas memastikan bahwa ibu hamil dibebaskan dari aktivitas seperti sif malam atau mengangkat stok barang yang berat. Cuti melahirkan biasanya memberikan cuti kerja berbayar selama kira-kira trimester terakhir kehamilan dan untuk beberapa waktu setelah kelahiran. Kasus ekstrem yang menonjol mencakup Norwegia (8 bulan dengan gaji penuh) dan Amerika Serikat (tidak ada cuti berbayar sama sekali kecuali di beberapa negara bagian).

Di Amerika Serikat, beberapa tindakan yang menyebabkan keguguran atau lahir mati, seperti memukuli ibu hamil, dianggap sebagai tindak pidana. Salah satu undang-undang yang mengatur hal tersebut adalah Undang-Undang Korban Kekerasan yang Belum Lahir tingkat federal. Pada tahun 2014, negara bagian Tennessee mengesahkan undang-undang yang memungkinkan jaksa untuk menuntut seorang wanita dengan pasal penganiayaan kriminal jika ia menggunakan obat-obatan terlarang selama kehamilannya dan janin atau bayi yang baru lahir tersebut mengalami cedera sebagai akibatnya.[191]

Namun, perlindungan ini tidak bersifat universal. Di Singapura, Undang-Undang Ketenagakerjaan Tenaga Kerja Asing melarang pemegang izin kerja saat ini maupun mantan pemegang izin kerja untuk hamil atau melahirkan di Singapura tanpa izin sebelumnya.[192][193] Pelanggaran terhadap Undang-Undang tersebut dapat dihukum dengan denda hingga S$10.000 (AS$7352.94) dan deportasi,[192][194] dan hingga tahun 2010, pemberi kerja mereka akan kehilangan uang jaminan sebesar $5.000.[195]

Ketimpangan rasial

[sunting | sunting sumber]

Terdapat ketidakseimbangan rasial yang signifikan dalam sistem perawatan kehamilan dan neonatal.[196] Bimbingan kebidanan, pengobatan, dan perawatan telah dikaitkan dengan hasil kelahiran yang lebih baik. Mengurangi ketidakadilan rasial dalam kesehatan merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang semakin besar di Amerika Serikat. Meskipun tingkat rata-rata telah menurun, data tentang kematian neonatal menunjukkan bahwa disparitas rasial terus bertahan dan berkembang. Angka kematian bayi Afrika-Amerika hampir dua kali lipat dibandingkan bayi neonatus berkulit putih. Menurut berbagai penelitian, cacat bawaan, SIDS, kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah semuanya lebih umum terjadi pada bayi Afrika-Amerika.[197]

Orang transgender

[sunting | sunting sumber]

Orang transgender telah mengalami kemajuan signifikan dalam penerimaan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir[kapan?] yang membuat banyak profesional kesehatan tidak siap untuk memberikan perawatan berkualitas. Sebuah laporan tahun 2015 menunjukkan bahwa "jumlah individu transgender yang mencari layanan keluarga berencana, kesuburan, dan kehamilan tentu bisa sangat besar". Terlepas dari pengobatan terapi penggantian hormon sebelumnya, perkembangan kehamilan dan prosedur melahirkan bagi orang transgender yang menjalani kehamilan biasanya sama dengan wanita cisgender.[198] Namun, orang transgender mungkin menjadi sasaran diskriminasi, yang dapat mencakup berbagai pengalaman sosial, emosional, dan medis yang negatif, karena kehamilan dianggap sebagai aktivitas khusus perempuan. Menurut sebuah studi oleh American College of Obstetricians and Gynecologists, terdapat kurangnya kesadaran, layanan, dan bantuan medis yang tersedia bagi pria trans yang hamil.[199]

๐Ÿ‘ Image
Visitasi: Maria, ibu Yesus, yang sedang mengandung Yesus, mengunjungi Elisabet yang juga sedang hamil, digambarkan sebagai patung di Gereja Visitasi di Ein Karem, Israel

Dalam kebanyakan budaya, ibu hamil memiliki status khusus di masyarakat dan menerima perawatan yang sangat lembut.[200] Pada saat yang sama, mereka tunduk pada ekspektasi yang dapat memberikan tekanan psikologis yang besar, seperti keharusan melahirkan anak laki-laki dan ahli waris. Di banyak masyarakat tradisional, kehamilan harus didahului oleh pernikahan, dengan risiko pengucilan bagi ibu dan anak (haram).

Secara keseluruhan, kehamilan disertai dengan berbagai adat istiadat yang sering menjadi subjek penelitian etnologi, sering kali berakar pada pengobatan tradisional atau agama. Baby shower adalah contoh dari adat istiadat modern. Berbeda dengan kesalahpahaman umum, para wanita dalam sejarah Amerika Serikat tidak diharapkan untuk mengasingkan diri selama kehamilan, seperti yang dipopulerkan oleh film Gone With the Wind.[201][202]

Kehamilan merupakan topik penting dalam sosiologi keluarga. Calon anak untuk sementara waktu dapat ditempatkan ke dalam berbagai peran sosial. Hubungan orang tua serta hubungan antara orang tua dengan lingkungan sekitar mereka juga turut terpengaruh.

Cetakan perut dapat dibuat selama kehamilan sebagai kenang-kenangan.

Citra perempuan hamil, terutama dalam bentuk figur kecil, telah dibuat oleh berbagai budaya tradisional di banyak tempat dan periode, meskipun jarang menjadi jenis citra yang paling umum. Citra ini mencakup figur keramik dari beberapa budaya Pra-Kolumbus, serta sejumlah figur dari sebagian besar budaya Mediterania kuno. Banyak di antaranya tampak berkaitan dengan kesuburan. Mengidentifikasi apakah figur-figur tersebut benar-benar dimaksudkan untuk menunjukkan kehamilan sering kali menjadi masalah, begitu pula dalam memahami peran mereka dalam budaya yang bersangkutan.

Di antara contoh tertua penggambaran kehamilan yang masih bertahan adalah figur-figur prasejarah yang ditemukan di sebagian besar wilayah Eurasia dan secara kolektif dikenal sebagai Figur Venus. Beberapa di antaranya tampak sedang hamil.

Karena peran penting Bunda Allah dalam Kekristenan, seni rupa Barat memiliki tradisi panjang dalam penggambaran kehamilan, terutama pada adegan alkitabiah mengenai Visitasi, serta citra devosional yang disebut Madonna del Parto.[203]

Adegan menyedihkan yang biasanya disebut Diana dan Kallisto, yang menunjukkan momen penemuan kehamilan terlarang Kallisto, terkadang dilukis sejak era Renaisans dan seterusnya. Secara bertahap, potret perempuan hamil mulai muncul, dengan tren khusus untuk "potret kehamilan" dalam seni potret kalangan elit pada tahun-tahun sekitar 1600.

Kehamilan, dan khususnya kehamilan perempuan yang belum menikah, juga merupakan motif penting dalam sastra. Contoh-contoh yang menonjol meliputi novel tahun 1891 karya Thomas Hardy yang berjudul Tess of the d'Urbervilles dan naskah drama tahun 1808 karya Goethe yang berjudul Faust.

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 "What are some common signs of pregnancy?". Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development. 12 July 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 March 2015. Diakses tanggal 14 March 2015.
  2. 1 2 The Johns Hopkins Manual of Gynecology and Obstetrics (Edisi 4). Lippincott Williams & Wilkins. 2012. hlm.438. ISBN978-1-4511-4801-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 September 2017.
  3. 1 2 "What are some common complications of pregnancy?". Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development. 12 July 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 26 February 2015. Diakses tanggal 14 March 2015.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 "Pregnancy: Condition Information". Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development. 19 December 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 March 2015. Diakses tanggal 14 March 2015.
  5. 1 2 3 4 Abman SH (2011). Fetal and neonatal physiology (Edisi 4th). Philadelphia: Elsevier/Saunders. hlm.46โ€“47. ISBN978-1-4160-3479-7.
  6. 1 2 "How do I know if I'm pregnant?". Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development. 30 November 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 April 2015. Diakses tanggal 14 March 2015.
  7. โ†‘ Taylor D, James EA (2011). "An evidence-based guideline for unintended pregnancy prevention". Journal of Obstetric, Gynecologic, and Neonatal Nursing. 40 (6): 782โ€“793. doi:10.1111/j.1552-6909.2011.01296.x. ISSN0090-0311. PMC3266470. PMID22092349.
  8. 1 2 3 4 Sedgh G, Singh S, Hussain R (September 2014). "Intended and unintended pregnancies worldwide in 2012 and recent trends". Studies in Family Planning. 45 (3): 301โ€“314. doi:10.1111/j.1728-4465.2014.00393.x. PMC4727534. PMID25207494.
  9. 1 2 3 4 5 Naghavi M, Abajobir AA, Abbafati C, Abbas KM, Abd-Allah F, Abera SF, Aboyans V, Adetokunboh O, Afshin A, Agrawal A, Ahmadi A, Ahmed MB, Aichour AN, Aichour MT, Aichour I, Aiyar S, Alahdab F, Al-Aly Z, Alam K, Alam N, Alam T, Alene KA, Al-Eyadhy A, Ali SD, Alizadeh-Navaei R, Alkaabi JM, Alkerwi A, Alla F, Allebeck P, Allen C, etal. (GBD 2016 Causes of Death Collaborators) (September 2017). "Global, regional, and national age-sex specific mortality for 264 causes of death, 1980-2016: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2016". Lancet. 390 (10100): 1151โ€“1210. doi:10.1016/S0140-6736(17)32152-9. PMC5605883. PMID28919116.
  10. 1 2 Mosby (2009). Mosby's Pocket Dictionary of Medicine, Nursing & Health Professions - E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm.1078. ISBN978-0-323-06604-4.
  11. 1 2 Wylie L (2005). Essential anatomy and physiology in maternity care (Edisi Second). Edinburgh: Churchill Livingstone. hlm.172. ISBN978-0-443-10041-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 September 2017.
  12. โ†‘ Shehan CL (2016). The Wiley Blackwell Encyclopedia of Family Studies, 4 Volume Set. John Wiley & Sons. hlm.406. ISBN978-0-470-65845-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 10 September 2017.
  13. โ†‘ "Mass. General Laws c.112 ยง 12K". Mass.gov (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal 2025-09-01. Diakses tanggal 2025-12-15.
  14. 1 2 "What is prenatal care and why is it important?". Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development. 12 July 2013. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2 April 2015. Diakses tanggal 14 March 2015.
  15. 1 2 3 4 5 Lammi-Keefe CJ, Couch SC, Philipson EH, ed. (2008). Handbook of Nutrition and Pregnancy. Nutrition and health. Totowa, NJ: Humana Press. hlm.28. doi:10.1007/978-1-59745-112-3. ISBN978-1-59745-112-3.
  16. 1 2 3 4 American Congress of Obstetricians and Gynecologists (February 2013), "Five Things Physicians and Patients Should Question", Choosing Wisely: an initiative of the ABIM Foundation, American Congress of Obstetricians and Gynecologists, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 September 2013, diakses tanggal 1 August 2013
  17. โ†‘ World Health Organization (November 2014). "Preterm birth Fact sheet Nยฐ363". who.int. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 March 2015. Diakses tanggal 6 March 2015.
  18. 1 2 "definition of gravida". The Free Dictionary. Diakses tanggal 17 January 2008.
  19. โ†‘ "Gravidity and Parity Definitions (Implications in Risk Assessment)". patient.info. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 12 December 2016.
  20. โ†‘ Templat:Cite-TMHP, page 596.
  21. โ†‘ "Definition of nulligravida". Merriam-Webster, Incorporated. Diarsipkan dari asli tanggal 8 September 2008. Diakses tanggal 9 March 2012.
  22. โ†‘ "Nulliparous definition". Medterms. MedicineNet, Inc. 18 November 2000. Diarsipkan dari asli tanggal 9 July 2009. Diakses tanggal 4 March 2026.
  23. โ†‘ "Definition of Term Pregnancy โ€“ ACOG". www.acog.org. Diakses tanggal 2019-09-27.
  24. โ†‘ "Definition of Premature birth". Medterms. Medicine.net. Diarsipkan dari asli tanggal 9 July 2009. Diakses tanggal 4 March 2026.
  25. โ†‘ Lama Rimawi, MD (22 September 2006). "Premature Infant". Disease & Conditions Encyclopedia. Discovery Communications, LLC. Diarsipkan dari asli tanggal 19 January 2008. Diakses tanggal 4 March 2026.
  26. โ†‘ "Total Fertility Rate 2025". World Population Review (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-08-29.
  27. 1 2 3 Bearak J, Popinchalk A, Alkema L, Sedgh G (April 2018). "Global, regional, and subregional trends in unintended pregnancy and its outcomes from 1990 to 2014: estimates from a Bayesian hierarchical model". The Lancet. Global Health. 6 (4): e380 โ€“ e389. doi:10.1016/S2214-109X(18)30029-9. PMC6055480. PMID29519649.
  28. โ†‘ Hurt KJ, Guile MW, Bienstock JL, Fox HE, Wallach EE (2012-03-28). The Johns Hopkins manual of gynecology and obstetrics (Edisi 4th). Philadelphia: Wolters Kluwer Health / Lippincott Williams & Wilkins. hlm.382. ISBN978-1-60547-433-5.
  29. โ†‘ Cherlin AJ (September 2021). "Rising nonmarital first childbearing among college-educated women: Evidence from three national studies". Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America. 118 (37) e2109016118. Bibcode:2021PNAS..11809016C. doi:10.1073/pnas.2109016118. PMC8449381. PMID34493673.
  30. 1 2 "Adolescent pregnancy". World Health Organization. Diakses tanggal October 26, 2022.
  31. โ†‘ "Adolescent health". www.who.int.
  32. โ†‘ "The Adverse Effects of Teen Pregnancy". youth.gov. Diakses tanggal October 26, 2022.
  33. โ†‘ Bekaert S, SmithBattle L (2016). "Teen Mothers' Experience of Intimate Partner Violence: A Metasynthesis". ANS. Advances in Nursing Science. 39 (3): 272โ€“290. doi:10.1097/ANS.0000000000000129. PMID27490882. S2CID10471475.
  34. โ†‘ Wynn, L.L.; Foster, Angel; Trussell, James (2009). "Misconceptions and Ignorance About Sexual and Reproductive Health". Female Patient. 34 (12): 29โ€“32. Diakses tanggal January 28, 2026.
  35. โ†‘ Durnell Schuiling, Kerri; Likis, Frances E. (September 2020). Gynecologic Health Care: With an Introduction to Prenatal and Postpartum Care. Jones & Bartlett Learning. hlm.252. ISBN9781284210385. Diakses tanggal 30 January 2026.
  36. โ†‘ McMahon, Catherine (2022). Becoming a Parent. Cambridge University Press. hlm.19. Diakses tanggal January 29, 2026.
  37. โ†‘ Jenkins A, Millar S, Robins J (July 2011). "Denial of pregnancy: a literature review and discussion of ethical and legal issues". Journal of the Royal Society of Medicine. 104 (7): 286โ€“291. doi:10.1258/jrsm.2011.100376. PMC3128877. PMID21725094.
  38. โ†‘ Gabbe S (2012-01-01). Obstetrics: normal and problem pregnancies (Edisi 6th). Philadelphia: Elsevier/Saunders. hlm.1184. ISBN978-1-4377-1935-2.
  39. โ†‘ "Pregnancy Symptoms". National Health Service (NHS). 11 March 2010. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 28 February 2010. Diakses tanggal 11 March 2010.
  40. 1 2 "Early symptoms of pregnancy: What happens right away". Mayo Clinic. 22 February 2007. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 September 2007. Diakses tanggal 22 August 2007.
  41. 1 2 "Pregnancy Symptoms โ€“ Early Signs of Pregnancy: American Pregnancy Association". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 January 2008. Diakses tanggal 16 January 2008.
  42. 1 2 "Early Signs of Pregnancy". American Pregnancy Association (dalam bahasa American English). 2022. Diakses tanggal 2025-01-23.
  43. โ†‘ Alex, Ashley; Bhandary, Eva; McGuire, Kandace (2020). "Anatomy and Physiology of the Breast during Pregnancy and Lactation". Diseases of the Breast during Pregnancy and Lactation. Advances in Experimental Medicine and Biology. Vol.1252. hlm.3โ€“7. doi:10.1007/978-3-030-41596-9_1. ISBN978-3-030-41595-2. PMID32816256.
  44. โ†‘ "Swollen ankles, feet and fingers in pregnancy". NHS. 3 December 2020. Diakses tanggal 4 May 2025.
  45. 1 2 "Common health problems in pregnancy". NHS. April 22, 2024. Diakses tanggal 2 July 2025.
  46. โ†‘ Habak, Patricia; Carlson, Karen; Griggs, Robert (2025). "Urinary Tract Infection in Pregnancy". National Library of Medicine. PMID30725732. Diakses tanggal 26 June 2025.
  47. โ†‘ Tucker Blackburn, Susan (2007). Maternal, Fetal, & Neonatal Physiology: A Clinical Perspective. Saunders Elsevier. hlm.384. ISBN978-1-4160-2944-1.
  48. โ†‘ Scarpelli, Serena; Alfonsi, Valentina; De Gennaro, Luigi; Gorgoni, Maurizio (August 2024). "Dreaming for two: A systematic review of mental sleep activity during pregnancy". Neuroscience & Biobehavioral Reviews. 163 105763. doi:10.1016/j.neubiorev.2024.105763. PMID38852848.
  49. โ†‘ Vazquez JC (August 2010). "Constipation, haemorrhoids, and heartburn in pregnancy". BMJ Clinical Evidence. 2010: 1411. PMC3217736. PMID21418682.
  50. 1 2 "Signs and symptoms of pregnancy". nhs.uk (dalam bahasa Inggris). 2020-12-02. Diakses tanggal 2025-01-23.
  51. โ†‘ Sifakis, S; Pharmakides, G (2006). "Anemia in pregnancy". Annals of the New York Academy of Sciences. 900 (1): 125โ€“136. doi:10.1111/j.1749-6632.2000.tb06223.x. PMID10818399.
  52. โ†‘ "NHS Pregnancy Planner". National Health Service (NHS). 19 March 2010. Diarsipkan dari asli tanggal 29 August 2021. Diakses tanggal 19 March 2010.
  53. โ†‘ Cole LA, Butler SA, ed. (2015). Human chorionic gonadotropin (hCG) (Edisi 2nd). Amsterdam: Elsevier. ISBN978-0-12-800821-8. Diarsipkan dari asli tanggal 26 January 2021. Diakses tanggal 10 November 2015.
  54. โ†‘ Qasim SM, Callan C, Choe JK (October 1996). "The predictive value of an initial serum beta human chorionic gonadotropin level for pregnancy outcome following in vitro fertilization". Journal of Assisted Reproduction and Genetics. 13 (9): 705โ€“708. doi:10.1007/BF02066422. PMID8947817. S2CID36218409.
  55. 1 2 "What is HCG?". American Pregnancy Association. 2021-10-18. Diakses tanggal 2023-07-23.
  56. โ†‘ "BestBets: Serum or Urine beta-hCG?". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 31 December 2008.
  57. 1 2 Cole LA, Khanlian SA, Sutton JM, Davies S, Rayburn WF (January 2004). "Accuracy of home pregnancy tests at the time of missed menses". American Journal of Obstetrics and Gynecology. 190 (1): 100โ€“105. doi:10.1016/j.ajog.2003.08.043. PMID14749643.
  58. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Spong CY, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM, Sheffield JS, ed. (2014). "Chapter 12. Teratology, Teratogens, and Fetotoxic Agents". William's Obstetrics. McGraw-Hill Education. ISBN978-0-07-179893-8. Diarsipkan dari asli tanggal 31 December 2018. Diakses tanggal 9 November 2015.
  59. โ†‘ Verhaegen J, Gallos ID, van Mello NM, Abdel-Aziz M, Takwoingi Y, Harb H, Deeks JJ, Mol BW, Coomarasamy A (September 2012). "Accuracy of single progesterone test to predict early pregnancy outcome in women with pain or bleeding: meta-analysis of cohort studies". BMJ. 345 e6077. doi:10.1136/bmj.e6077. PMC3460254. PMID23045257.
  60. โ†‘ Whitworth M, Bricker L, Mullan C (July 2015). "Ultrasound for fetal assessment in early pregnancy". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2015 (7) CD007058. doi:10.1002/14651858.CD007058.pub3. PMC4084925. PMID26171896.
  61. โ†‘ Nguyen TH, Larsen T, Engholm G, Mรธller H (July 1999). "Evaluation of ultrasound-estimated date of delivery in 17,450 spontaneous singleton births: do we need to modify Naegele's rule?". Ultrasound in Obstetrics & Gynecology. 14 (1): 23โ€“28. doi:10.1046/j.1469-0705.1999.14010023.x. PMID10461334. S2CID30749264.
  62. โ†‘ Pyeritz RE (2014). Current Medical Diagnosis & Treatment 2015. McGraw-Hill.
  63. 1 2 3 "Guidelines for Diagnostic Imaging During Pregnancy and Lactation". American Congress of Obstetricians and Gynecologists. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 30 July 2017. February 2016
  64. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Nair M, Kumar B (2016-04-07). "Embryology for fetal medicine". Dalam Kumar B, Alfirevic Z (ed.). Fetal Medicine. Cambridge University Press. hlm.54โ€“59. ISBN978-1-107-06434-8.
  65. 1 2 3 4 Mishra S, ed. (2019-08-07). Langman's Medical Embryology. Wolters kluwer india Pvt Ltd. hlm.48. ISBN978-93-88696-53-1.
  66. 1 2 Obstetric Data Definitions Issues and Rationale for Change โ€“ Gestational Age & Term Diarsipkan 6 November 2013 di Wayback Machine. dari Patient Safety and Quality Improvement di American Congress of Obstetricians and Gynecologists. Dibuat pada November 2012.
  67. โ†‘ Tunรณn K, Eik-Nes SH, Grรธttum P, Von Dรผring V, Kahn JA (January 2000). "Gestational age in pregnancies conceived after in vitro fertilization: a comparison between age assessed from oocyte retrieval, crown-rump length and biparietal diameter". Ultrasound in Obstetrics & Gynecology. 15 (1): 41โ€“46. doi:10.1046/j.1469-0705.2000.00004.x. PMID10776011. S2CID20029116.
  68. 1 2 3 4 "Pregnancy โ€“ the three trimesters". University of California San Francisco. Diakses tanggal 2019-11-30.
  69. 1 2 Hoffman CS, Messer LC, Mendola P, Savitz DA, Herring AH, Hartmann KE (November 2008). "Comparison of gestational age at birth based on last menstrual period and ultrasound during the first trimester". Paediatric and Perinatal Epidemiology. 22 (6): 587โ€“596. doi:10.1111/j.1365-3016.2008.00965.x. PMID19000297.
  70. โ†‘ "Pregnancy week by week". Mayo Clinic. 3 June 2022. Diakses tanggal 8 July 2023.
  71. โ†‘ "ement Health IT and Clinical Informatics reVITALize: Obstetrics Data Definitions reVITALize: Obstetrics Data Definitions". ACOG. Diakses tanggal November 27, 2022.
  72. โ†‘ Chambliss LR, Clark SL (February 2014). "Paper gestational age wheels are generally inaccurate". American Journal of Obstetrics and Gynecology. 210 (2): 145.e1โ€“145.e4. doi:10.1016/j.ajog.2013.09.013. PMID24036402.
  73. โ†‘ Zegers-Hochschild F, Adamson GD, Dyer S, Racowsky C, de Mouzon J, Sokol R, Rienzi L, Sunde A, Schmidt L, Cooke ID, Simpson JL, van der Poel S (September 2017). "The International Glossary on Infertility and Fertility Care, 2017". Fertility and Sterility. 108 (3). Elsevier BV: 393โ€“406. doi:10.1016/j.fertnstert.2017.06.005. PMID28760517. S2CID3640374.
  74. โ†‘ "Differences in sex development". nhs.uk. 2021-11-18. Diakses tanggal 2022-06-29.
  75. โ†‘ Weschler T (2002). Taking Charge of Your Fertility (Edisi Revised). New York: HarperCollins. hlm.242, 374. ISBN978-0-06-093764-5.
  76. โ†‘ Berger KS (2011). The Developing Person Through the Life Span. Macmillan. hlm.90. ISBN978-1-4292-3205-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 April 2016.
  77. โ†‘ "Stages of Development of the Fetus โ€“ Women's Health Issues". MSD Manual Consumer Version. Diakses tanggal 10 July 2020.
  78. โ†‘
  79. โ†‘ Kalverboer AF, Gramsbergen AA (1 January 2001). Handbook of Brain and Behaviour in Human Development. Springer. hlm.1. ISBN978-0-7923-6943-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 September 2015.
  80. โ†‘ Illes J, ed. (2008). Neuroethics: defining the issues in theory, practice, and policy (Edisi Repr.). Oxford: Oxford University Press. hlm.142. ISBN978-0-19-856721-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 September 2015.
  81. โ†‘
  82. โ†‘ "Abortion & Pregnancy Risks". Louisiana Department of Health. Diakses tanggal 22 August 2019.
  83. โ†‘ "Reproductive History and Cancer Risk". National Cancer Institute. 30 November 2016. Diakses tanggal 23 August 2019.
  84. 1 2 Mor G, ed. (2006). Immunology of pregnancy. Medical intelligence unit. Georgetown, Tex.: New York: Landes Bioscience/Eurekah.com; Springer Science+Business Media. hlm.1โ€“4. doi:10.1007/0-387-34944-8. ISBN978-0-387-34944-2.
  85. โ†‘ Williams Z (September 2012). "Inducing tolerance to pregnancy". The New England Journal of Medicine. 367 (12): 1159โ€“1161. doi:10.1056/NEJMcibr1207279. PMC3644969. PMID22992082.
  86. โ†‘ "Rhesus disease". NHS. November 16, 2021. Diakses tanggal 26 June 2025.
  87. โ†‘ Campbell LA, Klocke RA (April 2001). "Implications for the pregnant patient". American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine. 163 (5): 1051โ€“1054. doi:10.1164/ajrccm.163.5.16353. PMID11316633.
  88. โ†‘ "Your baby at 0โ€“8 weeks pregnancy โ€“ Pregnancy and baby guide โ€“ NHS Choices". nhs.uk. 2017-12-20. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 November 2013.
  89. โ†‘ Hennen L, Murray L, Scott J (2005). The BabyCenter Essential Guide to Pregnancy and Birth: Expert Advice and Real-World Wisdom from THE tip Top Pregnancy and Parenting Resource. Emmaus, Penn.: Rodale Books. ISBN1-59486-211-7.
  90. โ†‘ Soma-Pillay, Priya; Nelson-Piercy, Catherine; Tolppanen, Heli; Mebazaa, Alexandre (2016). "Physiological changes in pregnancy". Cardiovascular Journal of Africa. 27 (2): 89โ€“94. doi:10.5830/CVJA-2016-021. PMC4928162. PMID27213856.
  91. โ†‘ Stacey T, Thompson JM, Mitchell EA, Ekeroma AJ, Zuccollo JM, McCowan LM (June 2011). "Association between maternal sleep practices and risk of late stillbirth: a case-control study". BMJ. 342 d3403. doi:10.1136/bmj.d3403. PMC3114953. PMID21673002.
  92. โ†‘ Human Anatomy, Physiology and Health Education. S. Chand Publishing. 2010. hlm.239. ISBN978-81-219-3357-5.
  93. โ†‘ "Pregnancy: Dropping (Lightening)". University of Michigan. Diakses tanggal June 9, 2021.
  94. โ†‘ "RHL". apps.who.int. Diarsipkan dari asli tanggal 27 December 2011.
  95. 1 2 World Health Organization (November 2013). "Preterm birth". who.int. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 September 2014. Diakses tanggal 19 September 2014.
  96. 1 2 3 4 5 6 7 8 American Congress of Obstetricians and Gynecologists; Society for Maternal-Fetal Medicine (22 October 2013). "Ob-Gyns Redefine Meaning of 'Term Pregnancy'". acog.org. Diarsipkan dari asli tanggal 15 September 2014. Diakses tanggal 19 September 2014.
  97. โ†‘ Saigal S, Doyle LW (January 2008). "An overview of mortality and sequelae of preterm birth from infancy to adulthood". Lancet. 371 (9608): 261โ€“269. doi:10.1016/S0140-6736(08)60136-1. PMID18207020. S2CID17256481.
  98. โ†‘ American Congress of Obstetricians and Gynecologists (February 2013), "Five Things Physicians and Patients Should Question", Choosing Wisely: an initiative of the ABIM Foundation, American Congress of Obstetricians and Gynecologists, diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 September 2013, diakses tanggal 1 August 2013, which cites
  99. โ†‘ Michele Norris (18 July 2011). "Doctors To Pregnant Women: Wait at Least 39 Weeks". All Things Considered. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 23 July 2011. Diakses tanggal 20 August 2011.
  100. โ†‘ Norwitz ER. "Postterm Pregnancy (Beyond the Basics)". UpToDate, Inc. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 7 October 2012. Diakses tanggal 24 August 2012.
  101. โ†‘ The American College of Obstetricians and Gynecologists (April 2006). "What To Expect After Your Due Date". Medem. Medem, Inc. Diarsipkan dari asli tanggal 2003-04-29. Diakses tanggal 16 January 2008.
  102. โ†‘ "Induction of labour โ€“ Evidence-based Clinical Guideline Number 9" (PDF). Royal College of Obstetricians and Gynaecologists. 2001. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 30 December 2006. Diakses tanggal 18 January 2008.
  103. โ†‘ Waters TR, MacDonald LA, Hudock SD, Goddard DE (February 2014). "Provisional recommended weight limits for manual lifting during pregnancy". Human Factors. 56 (1): 203โ€“214. doi:10.1177/0018720813502223. PMC4606868. PMID24669554. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 1 April 2017.
  104. โ†‘ MacDonald LA, Waters TR, Napolitano PG, Goddard DE, Ryan MA, Nielsen P, Hudock SD (August 2013). "Clinical guidelines for occupational lifting in pregnancy: evidence summary and provisional recommendations". American Journal of Obstetrics and Gynecology. 209 (2): 80โ€“88. doi:10.1016/j.ajog.2013.02.047. PMC4552317. PMID23467051.
  105. 1 2 Lyons P (2015). Obstetrics in family medicine: a practical guide. Current clinical practice (Edisi 2nd). Cham, Switzerland: Humana Press. hlm.19โ€“28. ISBN978-3-319-20077-4. Diarsipkan dari asli tanggal 26 January 2021. Diakses tanggal 11 November 2015.
  106. โ†‘ "WHO | Antenatal care". www.who.int. Diarsipkan dari asli tanggal 20 November 2015. Diakses tanggal 2015-11-10.
  107. โ†‘ Dowswell T, Carroli G, Duley L, Gates S, Gรผlmezoglu AM, Khan-Neelofur D, Piaggio G, etal. (American College of Obstetricians Gynecologists Committee on Health Care for Undeserved Women) (July 2015). "Alternative versus standard packages of antenatal care for low-risk pregnancy". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2015 (7) CD000934. doi:10.1002/14651858.cd000934.pub3. PMC7061257. PMID26184394.
  108. โ†‘ American College of Obstetricians Gynecologists Committee on Health Care for Undeserved Women (August 2006). "ACOG Committee Opinion No. 343: psychosocial risk factors: perinatal screening and intervention". Obstetrics and Gynecology. 108 (2): 469โ€“477. doi:10.1097/00006250-200608000-00046. PMID16880322.
  109. โ†‘ Hurt JK, ed. (2011). The Johns Hopkins manual of gynecology and obstetrics (Edisi 4th). Philadelphia: Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins. ISBN978-1-4511-0913-9.
  110. โ†‘ McCormick MC, Siegel JE, ed. (1999). Prenatal care: effectiveness and implementation. Cambridge, UK; New York: Cambridge University Press. ISBN978-0-521-66196-6. Diarsipkan dari asli tanggal 6 November 2018. Diakses tanggal 10 November 2015.
  111. โ†‘ Deshpande, Neha; Lewis-O'Connor, Annie (2013). "Screening for Intimate Partner Violence During Pregnancy". Rev Obstet Gynecol. 6 (3โ€“4): 141โ€“148. PMC4002190. PMID24920977.
  112. โ†‘ Ota E, Hori H, Mori R, Tobe-Gai R, Farrar D (June 2015). "Antenatal dietary education and supplementation to increase energy and protein intake". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2015 (6) CD000032. doi:10.1002/14651858.CD000032.pub3. PMC12634316. PMID26031211.
  113. โ†‘ "| Choose MyPlate". Choose MyPlate. 2015-04-29. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 November 2015. Diakses tanggal 2015-11-15.
  114. โ†‘ Tieu J, Shepherd E, Middleton P, Crowther CA (January 2017). "Dietary advice interventions in pregnancy for preventing gestational diabetes mellitus". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 1 (1) CD006674. doi:10.1002/14651858.CD006674.pub3. PMC6464792. PMID28046205.
  115. โ†‘ Klusmann A, Heinrich B, Stรถpler H, Gรคrtner J, Mayatepek E, Von Kries R (November 2005). "A decreasing rate of neural tube defects following the recommendations for periconceptional folic acid supplementation". Acta Paediatrica. 94 (11): 1538โ€“1542. doi:10.1080/08035250500340396. PMID16303691. S2CID13506877.
  116. โ†‘ Greenberg, James A (2011). "Multivitamin Supplementation During Pregnancy: Emphasis on Folic Acid and l-Methylfolate". Reviews in Obstetrics and Gynecology. 4 (3โ€“4): 126โ€“127. PMC3250974. PMID22229066.
  117. โ†‘ Stevenson RE, Allen WP, Pai GS, Best R, Seaver LH, Dean J, Thompson S (October 2000). "Decline in prevalence of neural tube defects in a high-risk region of the United States". Pediatrics. 106 (4): 677โ€“683. doi:10.1542/peds.106.4.677. PMID11015508. S2CID39696556.
  118. โ†‘ "Folic acid in diet: MedlinePlus Medical Encyclopedia". www.nlm.nih.gov. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 17 November 2015. Diakses tanggal 2015-11-15.
  119. โ†‘ Centers for Disease Control Prevention (CDC) (January 2008). "Use of supplements containing folic acid among women of childbearing age--United States, 2007". MMWR. Morbidity and Mortality Weekly Report. 57 (1): 5โ€“8. PMID18185493.
  120. 1 2 3 Viswanathan M, Siega-Riz AM, Moos MK, etal. (May 2008). "Outcomes of Maternal Weight Gain". Evidence Report/Technology Assessment. Evidence Reports/Technology Assessments, No. 168 (168). Agency for Healthcare Research and Quality: 1โ€“223. PMC4781425. PMID18620471. Diarsipkan dari asli tanggal 28 May 2013. Diakses tanggal 23 June 2013.
  121. 1 2 3 Institute for Quality and Efficiency in Health Care (22 January 2013). "Weight gain in pregnancy". Fact sheet. Institute for Quality and Efficiency in Health Care. Diarsipkan dari asli tanggal 14 December 2013. Diakses tanggal 23 June 2013.
  122. โ†‘ "Weight Gain During Pregnancy: Reexaminging the Guidelines, Report Brief". Institute of Medicine. Diarsipkan dari asli tanggal 10 August 2010. Diakses tanggal 29 July 2010.
  123. โ†‘ American College of Obstetricians Gynecologists (January 2013). "ACOG Committee opinion no. 548: weight gain during pregnancy". Obstetrics and Gynecology. 121 (1): 210โ€“212. doi:10.1097/01.AOG.0000425668.87506.4c. PMID23262962.
  124. 1 2 3 Thangaratinam S, Rogoziล„ska E, Jolly K, Glinkowski S, Duda W, Borowiack E, Roseboom T, Tomlinson J, Walczak J, Kunz R, Mol BW, Coomarasamy A, Khan KS (July 2012). "Interventions to reduce or prevent obesity in pregnant women: a systematic review". Health Technology Assessment. 16 (31). National Institute for Health and Care Research: iiiโ€“iv, 1โ€“191. doi:10.3310/hta16310. PMC4781281. PMID22814301.
  125. โ†‘ Bushnell C, McCullough LD, Awad IA, Chireau MV, Fedder WN, Furie KL, Howard VJ, Lichtman JH, Lisabeth LD, Piรฑa IL, Reeves MJ, Rexrode KM, Saposnik G, Singh V, Towfighi A, Vaccarino V, Walters MR (May 2014). "Guidelines for the prevention of stroke in women: a statement for healthcare professionals from the American Heart Association/American Stroke Association". Stroke. 45 (5): 1545โ€“1588. doi:10.1161/01.str.0000442009.06663.48. PMC10152977. PMID24503673. S2CID6297484.
  126. 1 2 3 Briggs GG, Freeman RK (2015). Drugs in pregnancy and lactation: A Reference Guide to Fetal and Neonatal Risk (Edisi Tenth). Philadelphia: Wolters Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins Health. hlm.Appendix. ISBN978-1-4511-9082-3. Diarsipkan dari asli tanggal 25 February 2021. Diakses tanggal 16 November 2015.
  127. โ†‘ Genetic Alliance; The New England Public Health Genetics Education Collaborative (2010-02-17). "Appendix A: Teratogens/Prenatal Substance Abuse". Understanding Genetics: A New England Guide for Patients and Health Professionals. Genetic Alliance.
  128. โ†‘ "Press Announcements โ€“ FDA issues final rule on changes to pregnancy and lactation labeling information for prescription drug and biological products". www.fda.gov. Diarsipkan dari asli tanggal 17 November 2015. Diakses tanggal 2015-11-16.
  129. โ†‘ "Basics about FASDs". CDC. Diakses tanggal 25 July 2018.
  130. โ†‘ Hackshaw A, Rodeck C, Boniface S (Sepโ€“Oct 2011). "Maternal smoking in pregnancy and birth defects: a systematic review based on 173 687 malformed cases and 11.7 million controls". Human Reproduction Update. 17 (5): 589โ€“604. doi:10.1093/humupd/dmr022. PMC3156888. PMID21747128.
  131. โ†‘ Centers for Disease Control and Prevention. 2007. Preventing Smoking and Exposure to Secondhand Smoke Before, During, and After Pregnancy Diarsipkan 11 September 2011 di Wayback Machine..
  132. โ†‘ "Tobacco Use and Pregnancy โ€“ Reproductive Health". www.cdc.gov. 2019-01-16. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 29 July 2017.
  133. 1 2 "New Mother Fact Sheet: Methamphetamine Use During Pregnancy". North Dakota Department of Health. Diarsipkan dari asli tanggal 10 September 2011. Diakses tanggal 7 October 2011.
  134. โ†‘ Della Grotta S, LaGasse LL, Arria AM, Derauf C, Grant P, Smith LM, Shah R, Huestis M, Liu J, Lester BM (July 2010). "Patterns of methamphetamine use during pregnancy: results from the Infant Development, Environment, and Lifestyle (IDEAL) Study". Maternal and Child Health Journal. 14 (4): 519โ€“527. doi:10.1007/s10995-009-0491-0. PMC2895902. PMID19565330.
  135. โ†‘ Martin R, Dombrowski SC (2008). "12. Air and Water Pollution". Prenatal exposures: psychological and educational consequences for children. New York: Springer. doi:10.1007/978-0-387-74398-1. ISBN978-0-387-74398-1.
  136. โ†‘ Byrne CC (2006). "Environmental hazards during pregnancy". Journal of Midwifery and Women's Health. 1 (51): 57โ€“58. doi:10.1016/j.jmwh.2005.09.008. PMID16402445.
  137. โ†‘ "N95 Respirator Use During Pregnancy โ€“ Findings from Recent NIOSH Research | NIOSH Science Blog | Blogs | CDC". blogs.cdc.gov. 18 June 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 16 November 2016. Diakses tanggal 2016-11-16.
  138. โ†‘ "Homicide leading cause of death for pregnant women in U.S." News. Harvard T.H. Chan School of Public Health. 2022-10-21. Diakses tanggal 2022-11-08.
  139. โ†‘ "With homicide a leading cause of maternal death, doctors urged to screen pregnant women for domestic violence". CNN Health. 20 October 2022. Diakses tanggal November 8, 2022.
  140. โ†‘ Wallace ME (September 2022). "Trends in Pregnancy-Associated Homicide, United States, 2020". American Journal of Public Health. 112 (9): 1333โ€“1336. doi:10.2105/AJPH.2022.306937. PMC9382166. PMID35797500.
  141. 1 2 3 Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Spong CY, Dashe JS, Hoffman BL, Casey BM, Sheffield JS, ed. (2014). "Chapter 9: Prenatal Care". Williams Obstetrics (Edisi 24th). New York: McGraw-Hill Education. ISBN978-0-07-179893-8. Diarsipkan dari asli tanggal 31 December 2018. Diakses tanggal 9 November 2015.
  142. โ†‘ Bermudez MP, Sanchez AI, Buela-Casal G (2001). "Influence of the Gestation Period on Sexual Desire". Psychology in Spain. 5 (1): 14โ€“16. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 February 2012.
  143. โ†‘ Fok WY, Chan LY, Yuen PM (October 2005). "Sexual behavior and activity in Chinese pregnant women". Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica. 84 (10): 934โ€“938. doi:10.1111/j.0001-6349.2005.00743.x. PMID16167907. S2CID23075166.
  144. โ†‘ Reamy K, White SE, Daniell WC, Le Vine ES (June 1982). "Sexuality and pregnancy. A prospective study". The Journal of Reproductive Medicine. 27 (6): 321โ€“327. PMID7120209.
  145. โ†‘ Malarewicz A, Szymkiewicz J, Rogala J (September 2006). "[Sexuality of pregnant women]". Ginekologia Polska (dalam bahasa Polski). 77 (9): 733โ€“739. PMID17219804.
  146. โ†‘ Kramer MS, McDonald SW (July 2006). Kramer MS (ed.). "Aerobic exercise for women during pregnancy". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 3 (3) CD000180. doi:10.1002/14651858.CD000180.pub2. PMC7043271. PMID16855953.
  147. โ†‘ Domenjoz I, Kayser B, Boulvain M (October 2014). "Effect of physical activity during pregnancy on mode of delivery". American Journal of Obstetrics and Gynecology. 211 (4): 401.e1โ€“401.11. doi:10.1016/j.ajog.2014.03.030. PMID24631706.
  148. โ†‘ Barakat, Ruben; Franco, Evelia; Perales, Marรญa; Lรณpez, Carmina; Mottola, Michelle F. (May 2018). "Exercise during pregnancy is associated with a shorter duration of labor. A randomized clinical trial". European Journal of Obstetrics & Gynecology and Reproductive Biology (dalam bahasa Inggris). 224: 33โ€“40. doi:10.1016/j.ejogrb.2018.03.009. PMID29529475.
  149. 1 2 Beetham KS, Giles C, Noetel M, Clifton V, Jones JC, Naughton G (August 2019). "The effects of vigorous intensity exercise in the third trimester of pregnancy: a systematic review and meta-analysis". BMC Pregnancy and Childbirth. 19 (1) 281. doi:10.1186/s12884-019-2441-1. PMC6686535. PMID31391016.
  150. โ†‘ Perales, MarรญA; Santos-Lozano, Alejandro; Sanchis-Gomar, Fabian; Luaces, MarรญA; Pareja-Galeano, Helios; Garatachea, Nuria; Barakat, RubรฉN; Lucia, Alejandro (May 2016). "Maternal Cardiac Adaptations to a Physical Exercise Program during Pregnancy". Medicine & Science in Sports & Exercise (dalam bahasa Inggris). 48 (5): 896โ€“906. doi:10.1249/MSS.0000000000000837. hdl:11268/4797. ISSN0195-9131. PMID26694848.
  151. โ†‘ "ACSM Blog". ACSM_CMS. Diakses tanggal 2024-11-14.
  152. โ†‘ Davies GA, Wolfe LA, Mottola MF, MacKinnon C, Arsenault MY, Bartellas E, Cargill Y, Gleason T, Iglesias S, Klein M, Martel MJ, Roggensack A, Wilson K, Gardiner P, Graham T, Haennel R, Hughson R, MacDougall D, McDermott J, Ross R, Tiidus P, Trudeau F (June 2003). "Exercise in pregnancy and the postpartum period". Journal of Obstetrics and Gynaecology Canada. 25 (6): 516โ€“529. doi:10.1016/s1701-2163(16)30313-9. PMID12806453.
  153. โ†‘ Artal R, O'Toole M (February 2003). "Guidelines of the American College of Obstetricians and Gynecologists for exercise during pregnancy and the postpartum period". British Journal of Sports Medicine. 37 (1): 6โ€“12, discussion 12. doi:10.1136/bjsm.37.1.6. PMC1724598. PMID12547738.
  154. โ†‘ McCall CA, Grimes DA, Lyerly AD (June 2013). ""Therapeutic" bed rest in pregnancy: unethical and unsupported by data". Obstetrics and Gynecology. 121 (6): 1305โ€“1308. doi:10.1097/aog.0b013e318293f12f. PMID23812466.
  155. 1 2 Vesting S, Gutke A, Fagevik Olsรฉn M, Rembeck G, Larsson ME (2024). "The Impact of Exercising on Pelvic Symptom Severity, Pelvic Floor Muscle Strength, and Diastasis Recti Abdominis After Pregnancy: A Longitudinal Prospective Cohort Study". Physical Therapy. 104 (4) pzad171. doi:10.1093/ptj/pzad171. PMC11021861. PMID38109793.
  156. โ†‘ Yu, Hongli; Santos-Rocha, Rita; Radzimiล„ski, ลukasz; Jastrzฤ™bski, Zbigniew; Bonisล‚awska, Iwona; Szwarc, Andrzej; Szumilewicz, Anna (2022-12-11). "Effects of 8-Week Online, Supervised High-Intensity Interval Training on the Parameters Related to the Anaerobic Threshold, Body Weight, and Body Composition during Pregnancy: A Randomized Controlled Trial". Nutrients (dalam bahasa Inggris). 14 (24): 5279. doi:10.3390/nu14245279. ISSN2072-6643. PMC9781372. PMID36558438.
  157. 1 2 Tung I, Hipwell AE, Grosse P, Battaglia L, Cannova E, English G, Quick AD, Llamas B, Taylor M, Foust JE (November 2023). "Prenatal stress and externalizing behaviors in childhood and adolescence: A systematic review and meta-analysis". Psychological Bulletin. 150 (2): 107โ€“131. doi:10.1037/bul0000407. PMC10932904. PMID37971856. S2CID265272043.
  158. โ†‘ Wowdzia, Jenna B.; Hazell, Tom J.; Davenport, Margie H. (September 2022). "Glycemic response to acute high-intensity interval versus moderate-intensity continuous exercise during pregnancy". Physiological Reports. 10 (18) e15454. doi:10.14814/phy2.15454. ISSN2051-817X. PMC9483614. PMID36117457.
  159. โ†‘ Nagpal, Ts; Everest, C; Goudreau, Ad; Manicks, M; Adamo, Kb (March 2021). "To HIIT or not to HIIT? The question pregnant women may be searching for online: a descriptive observational study". Perspectives in Public Health (dalam bahasa Inggris). 141 (2): 81โ€“88. doi:10.1177/1757913920985898. ISSN1757-9139. PMID33579178.
  160. โ†‘ Reiter RJ, Tan DX, Korkmaz A, Rosales-Corral SA (2014). "Melatonin and stable circadian rhythms optimize maternal, placental and fetal physiology". Human Reproduction Update. 20 (2): 293โ€“307. doi:10.1093/humupd/dmt054. PMID24132226.
  161. 1 2 3 Nolvi, Saara; Merz, Emily C.; Kataja, Eeva-Leena; Parsons, Christine E. (May 2023). "Prenatal Stress and the Developing Brain: Postnatal Environments Promoting Resilience". Biological Psychiatry (dalam bahasa Inggris). 93 (10): 942โ€“952. doi:10.1016/j.biopsych.2022.11.023.
  162. โ†‘ Bustnes, Kaia A.; Schรคfer, Sarah; Held, Linus; Wessels, Hannah; Friehs, Maximilian A. (October 2025). "Risks to the Unborn: An Umbrella Review on the Effects of Prenatal Maternal Stress Caused by Natural Disasters". Stress and Health (dalam bahasa Inggris). 41 (5). doi:10.1002/smi.70108. ISSN1532-3005. PMC12477415. PMID41017161.
  163. โ†‘ Thomason, Moriah E.; Hendrix, Cassandra L. (2024-12-09). "Prenatal Stress and Maternal Role in Neurodevelopment". Annual Review of Developmental Psychology (dalam bahasa Inggris). 6 (1): 87โ€“107. doi:10.1146/annurev-devpsych-120321-011905. ISSN2640-7922. PMC11694802. PMID39759868.
  164. โ†‘ "Oral health care during pregnancy: A strategies and considerations" (PDF). Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 22 August 2018. Diakses tanggal 2 June 2018.
  165. โ†‘ Jafarzadeh H, Sanatkhani M, Mohtasham N (December 2006). "Oral pyogenic granuloma: a review". Journal of Oral Science. 48 (4): 167โ€“175. doi:10.2334/josnusd.48.167. PMID17220613.
  166. โ†‘ Iheozor-Ejiofor Z, Middleton P, Esposito M, Glenny AM (June 2017). "Treating periodontal disease for preventing adverse birth outcomes in pregnant women". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2017 (6) CD005297. doi:10.1002/14651858.CD005297.pub3. PMC6481493. PMID28605006.
  167. โ†‘ Howland G (2017). The Mama Natural Week-by-Week Guide to Pregnancy and Childbirth. Simon and Schuster. hlm.173. ISBN978-1-5011-4668-8.
  168. 1 2 3 Jarvis S, Stone J, Eddleman K, Duenwald M (2011). Pregnancy For Dummies. John Wiley & Sons. hlm.157. ISBN978-1-119-99706-1.
  169. โ†‘ "Air Travel During Pregnancy". www.acog.org. Diakses tanggal 2023-12-22.
  170. โ†‘ "Antenatal classes". NHS. December 2020. Diakses tanggal November 16, 2022.
  171. โ†‘ "Promoting baby-friendly hospitals". World Health Organization. Diakses tanggal November 16, 2022.
  172. โ†‘ "Reproductive Health and Research Publications: Making Pregnancy Safer". World Health Organization Regional Office for South-East Asia. 2009. Diarsipkan dari asli tanggal 15 December 2009. Diakses tanggal 7 December 2009.
  173. โ†‘ "Pregnancy complicated by disease". Merck Manual, Home Health Handbook. Merck Sharp & Dohme.
  174. โ†‘ Dagher, Rada; Bruckheim, Hannah; Colpe, Lisa; Edwards, Emmaline; White, Della (2021). "Perinatal Depression: Challenges and Opportunities". J Womens Health (Larchmt. 30 (2): 154โ€“159. doi:10.1089/jwh.2020.8862. PMC7891219. PMID33156730.
  175. โ†‘ Stewart DE, Vigod S (December 2016). "Postpartum Depression". The New England Journal of Medicine. 375 (22): 2177โ€“2186. doi:10.1056/nejmcp1607649. PMID27959754.
  176. โ†‘ Lara A Friel. "Thromboembolic Disorders During Pregnancy". Merck Manuals Consumer Version. Merck Sharp & Dohme Corp.
  177. 1 2 Leveno K (2013). "52". Williams Manual of Pregnancy Complications. New York: McGraw-Hill Medical. hlm.323โ€“334. ISBN978-0-07-176562-6.
  178. โ†‘ "What are the symptoms of pregnancy loss (before 20 weeks of pregnancy)?". NIH. September 2017. Diakses tanggal October 4, 2022.
  179. โ†‘ "Miscarriage Causes". WebMD. Diakses tanggal October 6, 2022.
  180. โ†‘ "What Is Stillborn". CDC. 29 September 2022. Diakses tanggal October 6, 2022.
  181. โ†‘ "Miscarriage". NHS. 9 March 2022.
  182. โ†‘ Obst KL, Due C, Oxlad M, Middleton P (January 2020). "Men's grief following pregnancy loss and neonatal loss: a systematic review and emerging theoretical model". BMC Pregnancy and Childbirth. 20 (1) 11. doi:10.1186/s12884-019-2677-9. PMC6953275. PMID31918681.
  183. โ†‘ Tersigni C, Castellani R, de Waure C, Fattorossi A, De Spirito M, Gasbarrini A, Scambia G, Di Simone N (2014). "Celiac disease and reproductive disorders: meta-analysis of epidemiologic associations and potential pathogenic mechanisms". Human Reproduction Update. 20 (4): 582โ€“593. doi:10.1093/humupd/dmu007. hdl:10807/56796. PMID24619876.
  184. โ†‘ Saccone G, Berghella V, Sarno L, Maruotti GM, Cetin I, Greco L, Khashan AS, McCarthy F, Martinelli D, Fortunato F, Martinelli P (February 2016). "Celiac disease and obstetric complications: a systematic review and metaanalysis". American Journal of Obstetrics and Gynecology. 214 (2): 225โ€“234. doi:10.1016/j.ajog.2015.09.080. hdl:11369/330101. PMID26432464.
  185. โ†‘ "The Gluten Connection". Health Canada. May 2009. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 July 2017. Diakses tanggal 1 October 2013.
  186. 1 2 Page 264 in: Gresele, Paolo (2008). Platelets in hematologic and cardiovascular disorders: a clinical handbook. Cambridge, UK: Cambridge University Press. ISBN978-0-521-88115-9.
  187. โ†‘ "SDG Indicator 3.7.1 on Contraceptive Use". Population Division. Diakses tanggal 2022-07-03.
  188. โ†‘ Zdanowicz C (2019-05-21). "Women have abortions for many reasons aside from rape and incest. Here are some of them". CNN. Diakses tanggal 2022-07-02.
  189. โ†‘ "Law and Policy Guide: Rape and Incest Exceptions". Center for Reproductive Rights. 2022-01-18. Diakses tanggal 2022-07-02.
  190. โ†‘ "Maternity and paternity at work: Law and practice across the world". Organisasi Perburuhan Internasional. Diakses tanggal 2022-09-03.
  191. โ†‘ Katie Mcdonough (30 April 2014). "Tennessee just became the first state that will jail women for their pregnancy outcomes". Salon. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 May 2014. Diakses tanggal 5 May 2014.
  192. 1 2 "NONFICTION: When Pregnancy is a Crime". 17 June 2021.
  193. โ†‘ "Employment of Foreign Manpower (Work Passes) Regulations 2012 - Singapore Statutes Online".
  194. โ†‘ "Employment of Foreign Manpower Act - Singapore Statutes Online".
  195. โ†‘ "Employers will not lose security bond if FDW gets pregnant โ€“ MOM". twc2.org.sg. 1 July 2011. Diakses tanggal 15 December 2021.
  196. โ†‘ Pereira GM, Pimentel VM, Surita FG, Silva AD, Brito LG (2022). "Perceived racism or racial discrimination and the risk of adverse obstetric outcomes: a systematic review". Sao Paulo Med J. 140 (5): 705โ€“718. doi:10.1590/1516-3180.2021.0505.R1.07042022. PMC9514866. PMID36043663.
  197. โ†‘ Guerra-Reyes L, Hamilton LJ (February 2017). "Racial disparities in birth care: Exploring the perceived role of African-American women providing midwifery care and birth support in the United States". Women and Birth. 30 (1): e9 โ€“ e16. doi:10.1016/j.wombi.2016.06.004. PMID27364419.
  198. โ†‘ Obedin-Maliver J, Makadon HJ (March 2016). "Transgender men and pregnancy". Obstetric Medicine. 9 (1): 4โ€“8. doi:10.1177/1753495X15612658. PMC4790470. PMID27030799.
  199. โ†‘ Light AD, Obedin-Maliver J, Sevelius JM, Kerns JL (December 2014). "Transgender men who experienced pregnancy after female-to-male gender transitioning". Obstetrics and Gynecology. 124 (6): 1120โ€“1127. doi:10.1097/AOG.0000000000000540. PMID25415163. S2CID36023275.
  200. โ†‘ Womack M (2010). The anthropology of health and healing. Plymouth: AltaMira Press. hlm.133. ISBN978-0-7591-1044-1.
  201. โ†‘ Baumgarten, Linda (2002). What Clothes Reveal: The Language of Clothing in Colonial and Federal America. Williamsburg, Virginia: Colonial Williamsburg. hlm.148. ISBN0-87935-216-7.
  202. โ†‘ Chrisman-Campbell, Kimberly (July 12, 2013). "Dressing for Two". Slate. Diakses tanggal June 26, 2024.
  203. โ†‘ Rossi TV (2005). Mary in western art. New York: In Association with Hudson Hills Press. hlm.106. ISBN978-0-9712981-9-4.

Bacaan lanjutan

[sunting | sunting sumber]

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]
Cari tahu mengenai pada proyek-proyek Wikimedia lainnya:
๐Ÿ‘ Image
Gambar dan media dari Commons
๐Ÿ‘ Image
Kutipan dari Wikiquote
๐Ÿ‘ Image
Entri basisdata #Q11995 di Wikidata
๐Ÿ‘ Image
Panduan wisata di travelling while pregnant dari Wikivoyage
Klasifikasi
Sumber luar