VOOZH about

URL: https://id.wikipedia.org/wiki/Jyesta

⇱ Jyesta - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Lompat ke isi
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jyesta
Dewi rintangan dan kemalangan
👁 Image
Jyesta dalam lukisan India (ca 1820), digambarkan membawa sapu dan tampah.
Nama lainAlaksmi, Mudewi
AfiliasiDewi
Atributsapu, tampah
Wahanakeledai
Dewa/dewi terkaitAlaksmi
KepercayaanHindu India
Keluarga
SaudaraLaksmi
PasanganDusaha

Jyesta (Dewanagari: ज्येष्ठा;,IAST:Jyeṣṭhā, ज्येष्ठा) adalah dewi kesulitan dan kemalangan dalam agama Hindu.[1] Dia dipercaya sebagai kakak sekaligus antitesis dari Laksmi, dewi kemakmuran dan keberuntungan. Di India Selatan, dia juga biasa dikenali dengan nama Mudewi (Mūdevi).[2]

Jyesta erat hubungannya dengan tempat-tempat buruk dan pelaku kejahatan. Dia juga terkait dengan kemalasan, kemiskinan, kegundahan, keburukan, dan biasa digambarkan bersama burung gagak. Kadangkala dia diidentikkan dengan Alaksmi, dewi kemalangan lainnya. Pemujaannya hanya dilakukan oleh kaum wanita saja, yang memohon agar dia menjauh dari rumah mereka.

Jyesta muncul dalam tradisi Hindu paling awal sekitar masa 300 SM. Pemujaannya mencapai puncak di India Selatan pada abad ke-7 dan ke-8. Pada abad ke-10, ketenarannya memudar, hingga akhirnya menghilang. Pada masa kini, banyak peninggalan arca kuno yang menggambarkan Jyesta, meskipun dia jarang dipuja lagi.

👁 Image
Arca Jyesta dari masa kerajaan Chola, koleksi Museum Universitas Hindu Benaras, India.

Banyak legenda Hindu yang mengisahkan bahwa kemunculan Jyesta terjadi saat peristiwa pengadukan samudra susu (Samudramantana). Biasanya dia dikisahkan lahir bersamaan dengan racun Kalakuta yang menyembur dari samudra, sedangkan Laksmi (antitesisnya) lahir ketika ramuan keabadian (tirta amerta) muncul dari dasar samudra.[3]

Menurut kitab Padmapurana, ketika pengadukan samudra sedang berlangsung, yang muncul pertama kali dari dalam samudra adalah racun (kalakuta). Kemudian racun tersebut ditelan oleh Dewa Siwa, lalu Jyesta muncul dari samudra dengan mengenakan busana merah. Dia menghadap para dewa untuk menanyakan tugas apa yang harus dia lakukan. Para dewa memintanya untuk tinggal di tempat yang sering terjadi keributan, tempat para pembohong dan pengumpat, kediaman orang jahat, dan tempat yang penghuninya berambut gondrong serta menyimpan tulang, tengkorak, dan abu pembakaran (praktisi ajaran bidah).[4]

Menurut Linggapurana, Dewa Wisnu membagi dunia menjadi sisi baik dan buruk. Dia menciptakan Laksmi (Sri) dan Jyesta dari proses pengadukan samudra susu. Saat Laksmi menikahi Wisnu, Jyesta menikahi Resi Dusaha. Setelah tinggal bersama, sang resi pun menyadari bahwa istrinya tidak tahan dengan suara atau penampakan benda yang membawa keberuntungan. Akhirnya dia menggugat Wisnu (dalam beberapa versi, ia menggugat Resi Markandeya). Wisnu (atau Markandeya) menyarankan Dusaha untuk mengajak Jyesta ke tempat-tempat yang buruk saja. Disebutkan bahwa Jyesta menjauhi orang-orang religius, sehingga dia pun menyandang gelar Alaksmi, "tidak membawa keberuntungan". Dia menghuni rumah yang penghuninya sering bertengkar, dan orang tua yang mengabaikan rasa lapar anak-anaknya. Konon dia juga nyaman berada di antara para praktisi ajaran yang dianggap sesat oleh agama Hindu. Merasa lelah akan sifat antisosial istrinya, Dusaha pun meninggalkan Jyesta di tempat pelaku ajaran dan ritual non-Weda. Kemudian Jyesta menghadap Wisnu setelah menyadari kesalahannya. Wisnu pun bersabda bahwa Jyesta akan tetap dipuja oleh para wanita.[5][6]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]
  1. Mani, Vettam (1975). Puranic Encyclopaedia: A Comprehensive Dictionary With Special Reference to the Epic and Puranic Literature. Delhi: Motilal Banarsidass. hlm.360. ISBN0-8426-0822-2.
  2. Kampar (2002). Kamba Ramayana (dalam bahasa Inggris). Penguin Books India. hlm.414. ISBN978-0-14-302815-4.
  3. Leslie p. 120
  4. Leslie p. 121
  5. Kinsley (1997) pp. 178-9
  6. Leslie pp. 121-2

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  • Kinsley, David R. (1997). Tantric visions of the divine feminine: the ten mahāvidyās. University of California Press. ISBN978-0-520-20499-7.
  • K.G., Krishnan (1981). Studies in South Indian History and Epigraphy volume 1. Madras: New Era Publications.
  • Leslie, Julia (1992). "Sri and Jyestha: Ambivalent Role Models for Women". Dalam Leslie, Julia (ed.). Roles and rituals for Hindu women. Motilal Banarsidass. ISBN81-208-1036-8.