| Kamari | |
|---|---|
Siwa sebagai pembakar dewa asmara | |
| 👁 Image | |
| Afiliasi | Siwa |
| Pustaka | Matsyapurana, Siwapurana, Wamanapurana, Kakawin Smaradahana |
| Kepercayaan | Hindu |
Kamarimurti (Dewanagari: कामारिमूर्ति;,IAST:Kāmārimūrti, कामारिमूर्ति), atau disebut Kamari (Dewanagari: कामारि;,IAST:Kāmāri,;arti: "pembunuh Kama") saja, merupakan salah satu wujud atau aspek dewa Hindu Siwa dalam kapasitasnya sebagai pembakar Kama (alias Madana, dewa asmara) sebagaimana yang tercatat dalam sastra Hindu. Menurut berbagai kitab Hindu, Siwa membakar Kama dengan mata ketiganya sebab dewa asmara tersebut telah mengganggu meditasinya. Kisah tersebut populer dalam tradisi Hindu, dan dikenal pula dengan istilah Madanabhasma ("pengabuan Madana"), Kamadahana ("pembunuhan Kama"), atau Smaradahana ("pembunuhan dewa asmara").
Kepustakaan
[sunting | sunting sumber]Deskripsi Kamari (pembunuh Kama) sebagai salah satu aspek Siwa, termaktub dalam beberapa kitab Agama aliran Saiwa Siddhanta, terutama Watulagama dan Diptagama.[1] Rincian tentang kisah bagaimana Siwa menyandang gelar atau dijuluki sebagai Kamari tercatat dalam sejumlah Purana (kitab legenda Hindu). Kitab-kitab Purana yang memuat kisah Siwa sebagai Kamari, meliputi: Matsyapurana, Padmapurana, Siwapurana, dan Wamanapurana.[2][3]
Kisah tersebut juga tersebar sampai ke Asia Tenggara—khususnya pulau Jawa, Nusantara—dan diadaptasi menjadi suatu kakawin (kitab syair Jawa Kuno) yang berjudul Kakawin Smaradahana. Dalam berbagai versi yang termuat dalam kitab-kitab itu terdapat satu kesamaan, yaitu Kama (dewa asmara) ditugaskan untuk menggagalkan pertapaan Siwa.
Kisah
[sunting | sunting sumber]Latar belakang
[sunting | sunting sumber]Menurut mitologi Hindu, seorang asura bernama Taraka (Tarakasura) memperoleh anugerah kekuatan digdaya. Dengan kekuatannya, dia menyerbu Swarga, menaklukkan para dewa-dewi, dan menjadi momok bagi penghuni dunia. Menurut prasyarat anugerah yang diterima Taraka, hanya putra Dewa Siwa yang dapat membunuhnya. Namun saat itu Siwa sedang menarik diri dari kesibukan dunia dan melakukan meditasi setelah kematian istrinya, Sati (Daksayani). Maka dari itu, para dewa berusaha mencari cara agar Siwa bangkit dari dukacita dan melanjutkan keturunan demi menyelamatkan dunia. Di bawah kepemimpinan Indra, para dewa mengutus Kamajaya (Kama) untuk membangkitkan gairah Siwa dan membuatnya jatuh cinta kepada Parwati, putri dewa gunung Himawan, yang merupakan reinkarnasi dari Sati.[4]
Pembakaran Kama
[sunting | sunting sumber]Kisah pembakaran Kama dalam versi yang paling kuno terurai dalam kitab Matsyapurana (sloka 227–255).[5][2] Dalam versi ini, Kamajaya pada mulanya menolak sebab berisiko tinggi dan berpotensi untuk membangkitkan kemarahan Siwa. Namun Indra terus meyakinkan dirinya bahwa tugas yang ia emban merupakan harapan demi kedamaian dunia.[4] Kamajaya pun akhirnya berangkat dengan ditemani Dewi Ratih (dewi kenikmatan) dan dewa musim semi (Madhu atau Wasanta).[6]
Kamadewa memecahkan konsentrasi Siwa melalui beberapa tahap. Sebagai dewa hasrat, dia menyebarkan perasaan iri, benci, dan marah ke pikiran Siwa, untuk menggoyahkan keseimbangan spiritualnya. Kamadewa juga mengatur agar lebah beterbangan, bunga bermekaran, dan angin sepoi-sepoi mengganggu meditasi Siwa.[7] Setelah upaya pemecahan konsentrasi Siwa dianggap berhasil, Kamajaya meluncurkan anak panah Mohana (khayalan dan nafsu birahi) ke jantung Siwa, membuat Siwa berpikir sesaat tentang sosok Parwati. Namun, Siwa segera sadar bahwa meditasinya sedang diganggu. Dia pun membuka mata ketiganya, menyemburkan api yang segera membakar Kamajaya sampai menjadi abu.[8] Kemudian Ratih memohon agar suaminya dihidupkan kembali. Dengan prihatin, Siwa menyatakan bahwa Kamajaya akan hidup kembali tetapi tanpa tubuh. Dia akan dikenal sebagai Anangga ("Yang tidak memiliki tubuh"), senantiasa ada tapi tidak terlihat.[9][10]
Meskipun kitab Matsyapurana menjadi dasar bagi versi-versi cerita lainnya, tapi kitab Siwapurana Wamanapurana memberikan pemahaman dan sisipan baru terhadap kisah itu. Dalam Siwapurana, Kamajaya diceritakan sebagai dewa arogan dan merasa hebat, tetapi Siwa lebih unggul dan tidak mudah dikendalikan oleh hasrat. Anak panah Kamajaya tidak berhasil sepenuhnya menembus Siwa, menunjukkan bahwa Siwa sebagai dewa petapa kebal terhadap godaan bahkan oleh dewa asmara sekalipun. Namun sebagaimana dikisahkan dalam Matsyapurana, kehancuran Kamajaya bukan berarti pemusnahan hasrat, melainkan perubahannya. Siwa membuat Kamajaya bersatu dengannya, dan menjadi gana (pelayan Siwa). Tindakan tersebut tidak hanya melambangkan pengendalian Siwa atas hasrat, tapi juga mengakui persistensinya dalam wujud yang lebih halus dan terkendali;[11] sedangkan Siwapurana menekankan gagasan bahwa hasrat merupakan bagian yang tak terpisahkan dari alam semesta, tapi di bawah kendali melalui praktik spiritual yang disiplin.[12]
Kitab Kalikapurana dan Siwapurana menghubungkan pembakaran Kamajaya dengan kutukan Brahma karena Kamajaya menembakkan anak panah pertamanya ke arah Brahma dan putra-putra Brahma lainnya (Manasaputra, yang terlahir melalui pikiran), yang menyebabkan Brahma jatuh cinta secara inses kepada Sandya—putrinya sendiri—kemudian ditegur oleh Siwa.[13]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ S. Sridhar Swaminathan (2012), Sinirvddha Dash (ed.), ICONOGRAPHICAL REPRESENTATION OF ŚIVA AS GLEANED FROM SAIVĀGAMA, University of Madras: Department of Sanskrit
- 1 2 Benton 2006, hlm.39.
- ↑ Klaus Klostermaier, (2000) Hinduism: A Short History. Oxford: One World Publications.
- 1 2 Benton 2006, hlm.40.
- ↑ Daniel Ingalls (1968). Sanskrit poetry, from Vidyākara's "Treasury". Harvard University Press. ISBN978-0-674-78865-7., p.58
- ↑ Benton 2006, hlm.41.
- ↑ Benton 2006, hlm.45–46.
- ↑ Benton 2006, hlm.46–47.
- ↑ Benton 2006, hlm.49–50.
- ↑ Wendy Doniger O'Flaherty, (1975) Hindu Myths: A Sourcebook Translated from the Sanskrit. London: Penguin Books, p.157-159
- ↑ Benton 2006, hlm.50-51.
- ↑ Benton 2006, hlm.54.
- ↑ www.wisdomlib.org (2018-09-21). "Kāma is cursed but blessed later [Chapter 3]". www.wisdomlib.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-10-11.
Bacaan lebih lanjut
[sunting | sunting sumber]- Benton, Catherine (2006). God of desire: tales of Kamadeva in Sanskrit story literature. Albany, New York: State University of New York Press. ISBN978-0-7914-6565-3.
